Osteoporosis Pada Lansia: Penyebab dan Cara Mengendalikannya

By on Rabu, 15 Januari 2020

Osteoporosis merupakan penyakit tulang yang menjadi momok pada orang-orang lanjut usia (lansia). Bagaimana tidak, karena steoporosis membuat tulang rentan patah tanpa sebab dan membuat penderitanya jadi rentan jatuh. Lantas, adakah cara menjaga agar lansia tetap bugar jika sudah terkena osteoporosis?

Penyebab osteoporosis pada lansia

penyebab osteoporosis pada pria

Osteoporosis alias pengeroposan tulang umumnya terjadi pada lansia. Kondisi ini terjadi ketika tidak ada keseimbangan antara pembentukan tulang baru dan pemecahan tulang lama.

Sebagai perbandingan, di usia muda pembuatan tulang baru cenderung lebih cepat dibandingkan dengan memecah tulang lama. Hal ini membuat massa tulang terus bertambah dan akan mencapai puncaknya di usia 30 tahun.

Sebaliknya, setelah berusia 30 tahun dan seiring bertambahnya usia, massa tulang hilang lebih cepat daripada yang dibuat. Hal inilah yang kemudian membuat tulang mulai rapuh dan rentan patah.

Pada wanita lansia, kadar estrogen yang menurun drastis setelah menopause jadi salah satu sebab mengapa osteoporosis rentan menyerang. Sementara pada pria, hal ini disebabkan oleh berkurangnya kadar testosteron. Kedua hormon ini berperan penting dalam proses pembentukan dan pemecahan tulang.

Selain itu, perubahan lain terkait fungsi endokrin yang berkaitan dengan penuaan juga bisa menyebabkan osteoporosis pada lansia.

Cara menjaga kondisi saat lansia punya osteoporosis

puasa untuk osteoporosis

puasa untuk osteoporosis

Saat terserang osteoporosis, lansia sebaiknya melakukan berbagai hal berikut agar kondisinya tak semakin memburuk:

Mengonsumsi cukup kalsium

Kalsium dibutuhkan untuk menjalankan berbagai fungsi tubuh termasuk menguatkan tulang. Berdasarkan tabel angka kecukupan gizi yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan, lansia berusia 65 tahun ke atas sebaiknya mengonsumsi kalsium sebanyak 1.000 mg per harinya.

Kalsium bisa didapatkan baik dari suplemen maupun makanan harian seperti:

  • Produk susu rendah lemak seperti keju, yoghurt, dan susu
  • Sayuran berdaun hijau gelap seperti brokoli, sawi, dan bayam
  • Produk kedelai baik susu maupun tahu
  • Jus jeruk

Mencukupi kebutuhan vitamin D harian

Vitamin D merupakan nutrisi penting selain kalsium yang perlu dikonsumsi oleh lansia yang mengalami osteoporosis. Ini karena vitamin D membantu memaksimalkan penyerapan kalsium yang dikonsumsi. Dalam sehari, lansia yang berusia di atas 65 tahun sebaiknya mengonsumsi 20 mikrogram kalsium.

Untuk mencukupinya, para lansia yang terkena osteoporosis bisa mengonsumsi vitamin D pada berbagai sumber makanan seperti:

  • Ikan tuna
  • Salmon
  • Mackerel
  • Keju
  • Telur
  • Hati sapi

Selain dari makanan, vitamin D juga bisa didapatkan dengan mudah dan gratis. Sumber alami terbaik vitamin D berasal dari alam yaitu sinar matahari. Untuk mendapatkan manfaat vitamin D terbaik dari sinar matahari, berjemurlah di pagi hari selama kurang lebih 15 menit.

Berhenti merokok

Merokok hanya akan memberi dampak negatif bagi tubuh. Selain merusak jantung dan paru-paru, merokok bisa mengganggu keseimbangan hormon seperti estrogen. Padahal, estrogen sangat dibutuhkan tubuh untuk  pembentukan dan pemecahan tulang.

Selain itu, merokok juga bisa meningkatkan hormon kortisol yang bisa memecah tulang dan mengganggu hormon pembentuk tulang (kalsitonin). Tak hanya itu, nikotin dan radikal bebas lainnya dari asap rokok juga menghancurkan osteoblas. Osteoblas adalah sel yang berperan dalam pembentukan tulang.

Oleh sebab itu, baik pada lansia maupun pada anak muda, merokok tidak ada gunanya untuk kesehatan dan bahkan  bisa memperparah osteoporosis. Jika dipertahankan, kebiasaan ini hanya akan menyusahkan Anda di masa tua.

Berhenti minum alkohol

Kebiasaan minum alkohol di usia muda yang terbawa hingga tua ternyata jadi salah satu pemicu keparahan osteoporosis. Ketika dokter telah memvonis bahwa Anda mengalami osteoporosis, segera hentikan kebiasan ini. Ini karena alkohol ternyata memperburuk penyerapan kalsium.

Artinya, sebanyak apa pun jumlah kalsium yang Anda konsumsi, semuanya akan terbuang sia-sia karena tidak bisa diserap maksimal oleh tubuh. Selain itu, alkohol juga bisa menghambat fungsi pankreas dan hati yang secara otomatis akan menghambat penyerapan dan aktivasi kalsium.

Lansia yang minum alkohol juga akan mengalami penyusutan kadar estrogen dalam tubuh. Akibatnya, jumlah estrogen yang sudah berkurang pada lansia ini akan semakin sedikit hingga akhirnya memperparah osteoporosis.

Rajin berolahraga

Faktanya berolahraga saat punya osteoporosis justru bisa memperkuat tulang dan memperlambat kerusakan. Menurut Chhanda Dutta dari National Institute of Aging, jika dilihat pada berbagai aspek, olahraga sangat baik untuk lansia yang punya osteoporosis. Justru ketika lansia hanya berdiam diri dan tidak aktif bergerak, tulang akan lebih lemah dan cepat rusak.

Namun pada lansia, olahraga yang diperbolehkan tentu saja berbeda dengan orang yang masih muda. Jenis dan intensitas olahraga yang diizinkan akan dilihat dari kondisi kesehatannya saat ini.

Dilansir dari National Osteoporosis Foundation, berbagai olahraga yang cocok untuk lansia dengan pengeroposan tulang yaitu:

Latihan beban

Jenis latihan yang satu dilakukan dengan membuat Anda bergerak melawan gravitasi. Oleh karenanya,olahraga ini dilakukan sambil berdiri tegak. Pada lansia dengan osteoporosis olahraga yang satu ini membantu membangun kembali tulang dan menjaganya tetap kuat.

Berbagai latihan beban yang biasanya dianjurkan untuk lansia yaitu:

  • Jogging
  • Melakukan senam aerobik ringan
  • Berjalan kaki di atas treadmill atau di luar ruangan

Latihan ketahanan

Jenis latihan yang satu ini dilakukan untuk membantu menguatkan tulang dan otot pada lansia yang terkena osteoporosis. Latihan ketahanan biasanya dilakukan dengan menggunakan bantuan dumbell sebagai penambah beban.

Berdiri dengan mengangkat sebelah kaki juga termasuk latihan ketahanan yang bisa dilakukan lansia. Namun, lansia perlu melakukan gerakan ini di bawah pengawasan instruktur ahli untuk meminimalisir risiko cedera.

Sumber foto: Healthline

Kabartangsel.com

Source