SIJARIEMAS Turunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi di Tangsel

By on Jumat, 16 Desember 2016

Untuk mengukuhkan pedoman pelayanan rujukan kegawatdaruratan ibu dan bayi baru lahir di Kota Tangsel, maka Dinas Kesehatan setempat membuat pelayanan sistem rujukan. Pelayanan ini dikenal dengan Sistem Jejaring Rujukan EMAS atau disingkat SIJARIEMAS yang melibatkan seluruh pihak terkait.

SIJARIEMAS resmi dilaunching di Kampung Anggrek, Serpong, pada Rabu, 14 Desember 2016. Sebanyak 26 Rumah Sakit, 5 SKPD, BPJS Kesehatan Tangsel, PMI, 6 Organisasi Profesi, Organisasi Masyarakat Sipil dan Dinas Kesehatan melakukan penandatanganan perjanjian kerjasama untuk sepakat menjakankan SIJARIEMAS.

Sistem ini dibuat terintegrasi antara posyandu dan puskesmas dengan seluruh rumah sakit yang bekerjasama. Jika terdapat pasien puskesmas yang membutuhkan rujukan, maka petugas akan mengirimkan sms ke rumah sakit yang dituju, setelah itu rumah sakit akan menerima pesan yang kemudian wajib dijawab oleh pihak rumah sakit secara cepat.

Kepala Dinas Kesehatan Suharno, SIJARIEMAS dibuat untuk menurunkan AKI dan AKB, meskipun Kota Tangsel paling rendah presentasi AKI dan AKB di Provinsi Banten, namun tetap kita harus terus menurunkan angka tersebut.

“Ini adalah salah satu solusinya. Rumah Sakit yang sudah kerjasama SIJARIEMAS wajib menerima pasien kegawatdaruratan. Jangan sampai ada pasien yang harus dirujuk namun tak mendapatkan rumah sakit, ” paparnya seperti dilansir dari laman resmi tangerangselatankota.go.id.

Diharapkan stakeholder yang sudah bekerjasama ini dapat menjalankan tugasnya dengan baik, untuk menurunkan AKI dan AKB di Tangsel.

Sementara itu, Assisten Daerah III Kota Tangerang Selatan Nur Selamet memaparkan bahwa pemerintah berfungsi untuk melayani masyarakat. Gerakan penyelamatan ibu dan bayi baru lahir ini telah dicanangkan beberapa waktu lalu yang kemudian dilanjutkan dengan tanda tangan bersama.

“Ini sebagai komitmen dalam menurunkan jumlah AKI dan AKB di kota ini. Kita upayakan untuk meminimalisir kejadian tersebut melalui sistem yang telah dibuat, ” bebernya.

Menurutnya, penyebab kematian tersebut akibat dari terlambat mengenali tanda bahaya pada saat kejadian berlangsung. Keterlambatan tersebut berkaitan erat pada kesehatan ibu yang belum optimal tata sistem rujukannya. Maka, melalui sistem ini diharapkan dapat mempermudah masyarakat untuk mendapat rujukan.

“Pemkot Tangsel melakukan segala upaya untuk tujuan yang dimaksud. Mulai dari pelayanan dasar di puskesmas hingga pelayanan di rumah sakit. Bahkan kini membuat kebijakan untuk mengatur sistem rujukan,” paparnya. (rls)