Lifestyle
Jumlah Kebutuhan dan Sumber Pilihannya

Karbohidrat merupakan salah satu zat gizi yang penting untuk didapatkan oleh bayi setiap harinya. Agar kebutuhan karbohidrat bayi terpenuhi, Anda harus memastikan bayi mendapatkan asupan nutrisi yang baik dari makanan dan minuman harian. Nah, mari kenali semua hal seputar karbohidrat untuk bayi guna membantu mencukupi kebutuhan gizi hariannya.
Kenapa karbohidrat penting untuk bayi?

Karbohidrat adalah satu dari beberapa jenis zat gizi makronutrien selain protein dan lemak. Kebutuhan karbohidrat tidak hanya penting untuk dipenuhi oleh orang dewasa, tetapi juga bagi bayi.
Ini karena secara garis besarnya, karbohidrat bermanfaat sebagai sumber energi untuk tubuh. Meski protein dan lemak juga memberikan asupan energi, tetapi karbohidrat bisa dibilang sebagai sumber utama.
Ketika persediaan karbohidrat di dalam tubuh tidak mencukupi, tubuh secara otomatis akan menggunakan protein dan lemak sebagai sumber energi.
Hanya saja, protein dan lemak masih memiliki tugas utama lain yang tidak kalah penting. Itu sebabnya, kebutuhan protein dalam tubuh bayi harus senantiasa tercukupi agar semua zat gizi bisa menjalankan fungsinya masing-masing.
Saat masuk ke dalam tubuh bayi, karbohidrat akan diubah menjadi glukosa yang dialirkan ke seluruh sel-sel tubuh untuk digunakan sebagai energi.
Berapa kebutuhan karbohidrat untuk bayi?


Kebutuhan karbohidrat semua orang, termasuk bayi, harus dipenuhi dari makanan dan minuman harian. Namun, lain ceritanya bagi bayi yang belum genap berusia enam bulan.
Idealnya, bayi yang usianya belum menginjak enam bulan masih dalam masa pemberian ASI eksklusif tanpa tambahan makanan dan minuman lain.
Ini mungkin membuat Anda bertanya-tanya apakah bayi di usia tersebut butuh asupan karbohidrat dan berapa angka kecukupan untuk memenuhi kebutuhan hariannya.
Berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) 2013 dari Kementerian Kesehatan RI, kebutuhan karbohidrat harian untuk bayi yakni sebagai berikut:
- Bayi usia 0-6 bulan: 58 gram (gr)
- Bayi usia 7-11 bulan: 82 gr
- Bayi usia 12-24 bulan: 155 gr
Menariknya, bayi yang belum berusia enam bulan memang masih mendapatkan ASI secara eksklusif. Namun ternyata, ASI memiliki kandungan karbohidrat yang bisa membantu untuk memenuhi kebutuhan bayi.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan bahwa ASI mengandung karbohidrat utama berupa laktosa. Laktosa inilah yang menjadi salah satu sumber energi untuk tubuh dan otak bayi.
Atas dasar inilah, Anda perlu memenuhi kebutuhan ASI bayi sesuai dengan waktu atau jadwal menyusuinya.
Selain untuk memberikan asupan kepada si kecil, menyusui juga membantu mencukupi kebutuhan karbohidrat untuk bayi di usia kurang dari enam bulan.
Sementara untuk bayi yang sudah berusia enam bulan bisa mulai diperkenalkan dengan makanan padat atau makanan pendamping ASI (MPASI).
Ini karena pemberian ASI saja sudah tidak mampu lagi untuk memenuhi kebutuhan zat gizi harian si kecil. Jadi, asupan karbohidrat nantinya akan dibantu dipenuhi dari makanan padat yang Anda berikan sesuai jadwal dan porsi makan bayi.
Apa saja sumber karbohidrat yang baik untuk bayi?


Jika Anda belum tahu, karbohidrat yang Anda dan bayi makan setiap harinya terbagi menjadi tiga jenis. Melansir dari laman Mayo Clinic, jenis karbohidrat terbagi dalam bentuk gula, pati, dan serat.
Karbohidrat gula memiliki bentuk yang paling sederhana contohnya sayuran, buah-buahan, susu, keju, serta margarin.
Hal ini berbeda dengan pati dan serat yang merupakan jenis karbohidrat kompleks alias terdiri atas banyak gula yang terikat bersama.
Karbohidrat jenis pati dan serat meliputi sayuran, biji-bijian, serta kacang-kacangan. Nah, dari tiga jenis kelompok karbohidrat tersebut, berikut beberapa pilihan sumber karbohidrat yang bisa Anda berikan untuk bayi:
1. Air susu ibu (ASI)
ASI merupakan sumber zat gizi, termasuk karbohidrat yang paling baik untuk bayi sebelum enam bulan.
Karbohidrat yang ada di dalam ASI bernama laktosa dan bertugas sebagai sumber energi untuk otak dan tubuh. Jika dibandingkan dengan laktosa yang ditemukan pada susu sapi atau susu formula, kadar laktosa yang ada di dalam ASI terhitung hampir dua kali lipat lebih banyak.
Meski begitu, ASI sangatlah aman untuk bayi dengan kondisi intoleransi laktosa atau tidak mampu mencerna laktosa.
Bahkan, angka kejadian diare pada bayi yang mengalami intoleransi laktosa jarang ditemukan jika ia menyusu ASI.
Hal ini dikarenakan proses penyerapan karbohidrat laktosa pada ASI cenderung lebih baik ketimbang laktosa yang ada di dalam susu sapi atau susu formula.
Bukan itu saja, laktosa yang ada di dalam tubuh bayi juga akan diubah menjadi bentuk asam laktat. Asam laktat ini berfungsi untuk mencegah pertumbuhan bakteri jahat serta melancarkan penyerapan berbagai mineral.
2. Nasi
Nasi merupakan makanan pokok orang Indonesia. Ketika bayi mulai belajar makan makanan padat atau makanan pendamping ASI (MPASI), perkenalkan ia dengan bubur yang diolah dari nasi untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat.
Lama kelamaan tekstur makanan bayi akan berubah seiring bertambah usia. Jika di awal belajar makan bayi hanya mampu mengunyah nasi yang diolah menjadi bubur, nantinya ia akan terbiasa dengan nasi dalam bentuk utuh.
Berdasarkan Data Komposisi Pangan dari Kementerian Kesehatan RI, dalam 100 gr nasi mengandung karbohidrat sekitar 39,8 gr.
3. Kentang
Ketika sudah sering dan terbiasa diberikan nasi, Anda bisa mengganti sumber karbohidrat bayi dengan kentang agar ia tidak bosan.
Proses memasak kentang juga tidak sulit. Anda dapat mengukus, merebus, maupun menumis dan dicampur bersama sayur serta lauk pauk lainnya.
Kentang sebanyak 100 gr mengandung sekitar 13,5 gr karbohidrat serta aneka zat gizi lainnya yang tak kalah penting untuk bayi.
4. Pisang
Pilihan karbohidrat lainnya yang bisa membantu memenuhi kebutuhan untuk bayi yakni pisang. Biasanya, pisang dijadikan makanan selingan atau camilan bayi, entah dalam bentuk utuh dipotong kecil-kecil atau dibuat menjadi bubur.
Rasa manis dan teksturnya yang lembut membuat bayi mudah mengunyahnya di dalam mulut. Tak kalah dengan sumber karbohidrat lainnya, dalam 100 gr pisang terdapat 26,3 gr.
5. Ubi
Jenis umbi selain kentang yang dapat diolah menjadi makanan untuk bayi yakni ubi manis. Kandungan karbohidrat di dalam ubi manis pun tidak kalah baik untuk memenuhi kebutuhan harian bayi.
Hal ini terbukti karena setiap 100 gr ubi manis mengandung sekitar 18,8 gr karbohidrat. Namun, pastikan Anda memasak ubi sampai benar-benar lunak agar tidak menyulitkan bayi saat memakannya.
Pastikan Anda tidak hanya menyajikan sumber karbohidrat

Sumber: Happy Veggie KitchenSelain makanan yang telah disebutkan, Anda juga bisa memberikan sumber karbohidrat untuk bayi dari pasta, umbi-umbian, kacang-kacangan, hingga berbagai jenis sayur dan buah.
Demi melengkapi beragam zat gizi yang si kecil butuhkan, pastikan Anda tidak hanya menyajikan makanan sumber karbohidrat.
Sebaiknya lengkapi sumber karbohidrat dengan zat gizi lainnya seperti protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral. Itulah mengapa Anda sangat dianjurkan untuk memberikan menu makanan pendamping ASI (MPASI) campuran dan bukan MPASI tunggal.
Sesuai dengan namanya, MPASI campuran terdiri atas beragam sumber makanan dan nutrisi. Jadi, misalnya Anda mencampurkan nasi sebagai sumber karbohidrat, daging ayam sebagai sumber protein dan lemak, hingga sayuran sebagai sumber serat, vitamin, dan mineral.
Kabartangsel.com
Bisnis6 hari agoWarnaGo Resmi Hadir di Tangerang, Usung Konsep One-Stop Solution Cat Premium
Banten6 hari agoPeringati Milad ke-6 dan HPN 2026, JMSI Banten Gelar Aksi Sosial dan Lingkungan
Jabodetabek5 hari agoIDWX Hadirkan Jam Tangan Tag Heuer Original untuk Pecinta Jam Mewah di Jakarta
Bisnis5 hari agoAle-Ale Rasa Buah Nanas: Juicy Nanasnya, Segarnya Juara
Jabodetabek5 hari agoBedah Akuntabilitas BUMN Pasca Danantara, Akademisi UIN Jakarta Fathudin Kalimas Raih Doktor di UI
Pemerintahan5 hari agoBenyamin Davnie Pastikan Tumpukan Sampah di Tangsel Sudah Teratasi
Pemerintahan5 hari agoPemkot Tangsel Gandeng KPK Perkuat Pencegahan Korupsi Lewat Program Keluarga Berintegritas
Pemerintahan5 hari agoPilar Saga Ichsan Hadiri Puncak HPN 2026 di Banten: Perkuat Peran Pers Hadapi Tantangan Era Digital dan AI



















