Begini Tanggapan Gus Baha tentang Front Pembela Islam

By: Rabu, 6 Januari 2021
KH. Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang lebih akrab dipanggil Gus Baha

Rais Syuriah PBNU, KH. Ahmad Bahauddin Nursalim, atau lebih dikenal dengan Gus Baha’menyampaikan tanggapannya mengenai FPI. Hal ini disampaikan beliau dalam video yang diunggah pada channel youtube “Santri Gayeng”pada Selasa (29/12) lalu sebagaimana dilansir dari Dakwah NU. Ulama asli Rembang ini menilai bahwa penyelesaian konflik yang terjadi di Indonesia merupakan konflik yang paling bagus jika dibandingkan dengan konflik yang terjadi di Timur Tengah dan negara lain karena  tidak pernah menumpahkan darah.

Tradisi damai di Indonesia sudah diajarkan mulai dari didikan kiai pesantren. Gus Baha mengatakan bahwa kiai tidak pernah memukul orang dzalim seperti pemabuk. Sehingga Gus Baha’juga mengajak kita untuk saling bertoleransi dan menghargai serta mendoakan kepada orang orang yang belum mengerti agama. Berikut ini tanggapan beliau mengenai FPI dan konflik yang terjadi di Indonesia:

Karena ini penting, kita kan dididik ala pesantren. Kita punya kiai kiai yang punya tradisi. Misale neg ono wong nakal wong minum (semisal melihat pemabuk) Astagfirullahhal’adzim wong kok ngono (orang kok begitu?) Ya ya begitu. Sehingga wes koyo identik kiai NU dan amaliah NU ora wani naboki wong nyabu (seolah jadi identitas kiai NU dan amaliah NU itu tidak sampai memukul penyabu) Ora wani nyaduki wong sing lagi minum (dan tidak sampai memukul pemabuk)

Kemudian (tradisi) itu dianggap satu kekurangan walhasil lahir orang kayak FPI, orang yang tidak menerima metode (tradisi) itu. Tapi sudah kayak gak janjian jadinya seperti itu. Kiai paling anti kemungkaran itu, Kiai  paling kereng (Kiai yang paling galak) Mereka gak punya catatan report bahwa mereka pernah memukuli pemabuk. Meskipun pernah memukul santri, tapi tidak pernah dikenal menjotos pemabuk.  Itu sudah kayak tradisi

Dulu Mbah Hasyim Asyari terkenal ijo ambi abang (hijau dan merah). Yang abang, jadi abangan beneran. Yang hijau, jadi hijau beneran. Tapi nggak ada catatan sejarah Kiai njotosi pemabuk. Ya memang kayaknya kita sudah punya tradisi jika melihat kemungkaran, menang atau kalah itu lewat proses “hikmah dan mauizah yang baik”

Kita ini kayak punya tradisi, jika melihat kemungkaran akan milih model nabi (berdoa) “Tuhan, beri mereka petunjuk; mereka hanya belum tahu” Itu ya kayak gak janjian tapi begitu. Meskipun kita sebagai orang alim tahu : nahi munkar itu wajib. Nahi munkar itu begini begini, tapi praktiknya ndak pernah begitu. Kalo di Timur Tengah kebalikan. Jangankan sama orang yang jelas nakal, la wong terhadap orang saleh yang beda aliran itu halal dibunuh. Sehingga orang Sunni menghalalkan darah orang Syiah, orang syiah menghalalkan darah orang Sunni. Sudah seperti tradisi.

Kalau membaca kitab kitab Fiqh khas Arab, itu biasa memvonis “Orang macam ini layak ditumpahkan darahnya (baca: dibunuh). Padahal orang saleh orang Islam. Hanya karena beda mazhab sudah layak ditumpahkan darahnya. Saya itu kalau sedang tahajud, atau mengirimi Alfatihah Walisongo yang terpikir di saya itu hanya satu : Agama Islam itu lahir lewat Al Qur’an dan Hadist. Tapi kemudian, tahu tahu berimprovisasi dan berkembang sesuai tokoh yang membawa. Sampeyan kalau melihat Islam di India, dulu sampai perang besar besaran. Zaman Abul A’la Al-Maududy Zaman/periode Muhammad Iqbal. Sampai India pecah, kemudian jadilah Pakistan yang bernegara Islam. Karena banyak konseptor Islam yang tidak setuju negara sekuler, akhirnya mereka memisah jadi negara Islam : Pakistan. Kemudian Timur Tengah juga begitu. Karena Timur Tengah sudah islam semua, maalahnya diislamkan ala Sunni atau ala Syiah. Iran menjelma sebagai aliran Syiah, yang Sunni dianggap sesat, halal darahnya. Iraq zaman kepemimpinan Saddam Husein, pemerintahannya itu Sunni. Orang Syiah dibantai, sehingga orang Kurdi (suku) banyak yang mati. Era Saddam keok, gentian Saddam yang dibantai.

Makanya kalau saya ngaji di Jogja, ngisi seminar di Jogja sering bilang “Kita ini harus bersyukur, Kita ini punya tradisi konflik yang terbaik di Dunia. Kalian kalau melihat Ikhwanul Muslimin di Mesir, Badan Intelijen Nasional atau Badan Stabilitas Nasional itu harus berterimakasih sama tradisi tokoh Islam di Indonesia. Terlepas kita setuju atau tidak, terserah. Tapi kita punya tradisi konflik yang paling baik di dunia. Kurang benci apa Gus Dur pada FPI, atau FPI pada Gus Dur. Paling mereka adu statemen di depan wartawan. Itu sudah bagus sekali. Andaikan itu di Arab, sudah tembak tembakan.

Secara pesantren saya punya sejarah panjang. Zaman Mbah Imam beda dengan Mbah Zubair, zaman Kiai Maimoen beda dengan kiai lain. Paling adu statemen saat ada tamu; itu paling bagus. Kita punya tradisi konflik yang paling baik di dunia. Kayak apa jengkelnya (mangkelnya) orang NU waktu Gus Dur di impeach/dipecat? Tapi habis itu ya sering seminar ketemu Amien Rais. Mereka adu polemic “Ini tidak konstitutional” Gus Dur membuat jurus Dekrit. Lawannya membuat jurus Sidang Istimewa (SI). Kurang seram Sidang Istimewa dilawan dengan Sidang Luar Biasa. Pokoknya bikin istilah yang seram seram. Tapi tidak saling membunuh dan Anda harus bersyukur. Selama ini orang awam selalu bilang “lho antar Kiai kok bertengkar?” Anda bandingkan dengan di Timur Tengah. Yang Namanya pertengkaran itu pasti menumpahkan darah. Yang namanya di Mesir, di Iraq, dimana mana Namanya pertengkaran pasti melibatkan pertumpahan darah. Tapi di Indonesia tidak. Gak sampai anarkis. Paling itu tadi, adu polemik. MLB (Musyawarah Luar Biasa) dilawan MLB itu masih keren sekali kali. Gak apa apa. Itu lebih baik ketimbang adu jotos atau adu mantra hizb.


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *