Connect with us

Lifestyle

Cacar Monyet: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

Sepekan belakangan, Indonesia dihebohkan dengan berita beredarnya virus cacar monyet. Virus ini diketahui ditemukan di Singapura, padahal penyakit cacar monyet merupakan penyakit endemik daerah Afrika Tengah dan Barat. Lantas, penyakit apakah sebenarnya cacar monyet?

Apa itu cacar monyet (monkeypox)?

Cacar monyet alias monkeypox adalah suatu penyakit langka yang disebabkan oleh infeksi virus cacar monyet. Penyakit ini lebih sering berkembang di daerah Afrika Tengah dan Selatan.

Virus ini dibawa oleh binatang liar, seperti tupai. Namun, disebut cacar monyet karena para peneliti pertama kali melihat virus ini pada sekelompok monyet yang tengah diteliti.

Advertisement

Sebagaimana dilansir dari situs resmi Kementerian Kesehatan RI, monkeypox merupakan penyakit akibat virus yang ditularkan lewat hewan.

Penyakit ini dapat menular melalui kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, luka pada kulit atau mukosa binatang yang terinfeksi.

Di Afrika sendiri, penularan ke manusia diketahui terjadi melalui kontak sehari-hari monyet, tupai, dan tikus Gambia yang terinfeksi.

Meski begitu, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, dr. Anung Sugihantono, M.Kes, menyatakan bahwa penularan virus ini dari manusia ke manusia sangat jarang terjadi. Dibutuhkan inang yang terinfeksi untuk virus ini menular ke manusia.

Advertisement

“Sejauh yang kami tahu, hewan ini tidak ada di Indonesia. Adanya di Afrika. Belum ditemukan inang atau tempat infeksi monkeypox,” ujar dr. Anung Sugihantono seperti dilansir dari situs Tirto.id.

Hal lain yang juga dapat meningkatkan risiko Anda tertular penyakit ini adalah mengonsumsi daging hewan liar yang terinfeksi virus secara mentah atau setengah matang.

Inilah yang terjadi pada wanita asal Nigeria yang teridentifikasi terkena cacar monyet di Singapura. Dirinya diketahui sempat menyantap daging liar beberapa waktu sebelumnya di negara asalnya sebelum bertolak ke Singapura.

Gejala cacar monyet (monkeypox)

Biasanya, orang yang terkena infeksi virus monkeypox akan mulai menunjukkan gejala pertamanya setelah 6-16 hari terinfeksi. Masa ini dikenal dengan masa inkubasi.

Advertisement

Meski begitu, masa inkubasi juga bisa terjadi antara 5-21 hari.

Dikutip dari laman organisasi kesehatan dunia, WHO, terdapat dua periode infeksi, yaitu:

Periode invasi

Seseorang berada dalam masa ini dalam waktu 0-5 hari setelah terinfeksi virusnya pertama kali.

Saat seseorang berada dalam masa invasi, dirinya akan menunjukkan beberapa gejala cacar monyet, seperti:

Advertisement
  • Demam
  • Sakit kepala hebat
  • Limfadenopati (pembengkakan kelenjar getah bening)
  • Sakit punggung
  • Nyeri otot
  • Lemas parah (asthenia)

Pembengkakan kelenjar getah bening itulah yang menjadi ciri pembeda antara cacar monyet dengan cacar. Pada cacar, tidak terjadi pembengkakan kelenjar getah bening.

Periode erupsi kulit

Periode ini terjadi pada 1-3 hari setelah demam muncul. Gejalanya jika Anda berada dalam fase ini adalah munculnya ruam.

Ruam pertama kali muncul di wajah dan kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Wajah dan telapak tangan serta kaki adalah area yang paling terdampak ruam ini.

Ruam yang terbentuk biasanya diawali dengan ruam yang datar hingga vesikel, yaitu seperti bentol dengan cairan di dalamnya. Ruam ini kemudian akan membentuk kerak.

Perkembangan ruam ini akan terjadi dalam waktu kurang lebih 10 hari. Dibutuhkan waktu sekitar tiga minggu hingga bekasnya hilang total.

Advertisement

Apakah cacar monyet (monkeypox) berbahaya?

Seperti infeksi virus lainnya, cacar monyet juga dapat sembuh sendiri setelah gejala berlangsung 14-21 hari.

Berdasarkan laman Kemenkes RI, kasus kematian akibat monkeypox bervariasi. Namun, kurang dari 10% saja yang dilaporkan, sebagian besar di antaranya adalah anak-anak.

Kelompok usia yang lebih muda lebih rentan terhadap penyakit yang satu ini.

Pengobatan cacar monyet (monkeypox)

Sejauh ini belum ada vaksin khusus atau pengobatan untuk cacar monyet di Indonesia mengingat penyakit ini memang tidak ada di Indonesia.

Advertisement

Hal ini senada dengan yang disampaikan oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Nila F. Moeloek, sebagaimana dikutip dari portal berita Tempo.

“Vaksinasi saya kira belum ada, karena biasanya vaksin berasal dari virus penyakit tersebut,” ujarnya di Kompleks DPR pada Selasa (14/5).

Meski belum ada pengobatan khusus, penyakit ini dapat ditangani dengan mengobati gejala-gejala yang muncul.

Pemberian vaksin cacar diketahui memiliki efektivitas sekitar 85% dalam mencegah penyakit ini. Antivirus juga dapat mengendalikan penyebaran penyakitnya di Amerika pada tahun 2003, ketika virus ini pertama kali ditemukan di sana.

Advertisement

Mencegah penyakit cacar monyet (monkeypox)

Mencegah memang selalu lebih baik daripada mengobati. Begitu juga penyakit ini. Sekalipun belum ada obatnya, penyakit ini masih bisa dicegah.

dr. Anung menyatakan bahwa menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti cuci tangan dengan sabun dapat membantu Anda terhindar dari penyakit monkeypox.

Beberapa hal lain yang juga dapat Anda lakukan untuk mencegah cacar monyet, antara lain:

  • Menghindari kontak langsung dengan tikus, primata, atau hewan liar lainnya yang mungkin terpapar virus (termasuk kontak dengan hewan yang mati di daerah terinfeksi)
  • Menghindari kontak dengan benda apa pun, seperti tempat tidur, yang pernah disinggahi oleh hewan yang sakit
  • Tidak makan daging hewan liar yang tidak dimasak dengan baik
  • Menjauhkan diri sebisa mungkin dari pasien yang terinfeksi
  • Bagi petugas medis, gunakanlah masker dan sarung tangan saat menangani orang yang sakit

Kabartangsel.com

Source

Advertisement

Populer