Di era digitalisasi seperti sekarang ini penyebaran radikalisme semakin cepat. Mengantisipasi hal itu, Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) salah satu lembaga yang bertugas mengembangkan penulisan, penerjemahan dan penertiban kitab/buku, serta media informasi menurut faham ahlussunnah wal jamaah, mendorong dibuatnya media-media komunitas.
Hal itu guna mengantisipasi perkembangan radikalisme di ruang publik.
“Perkembangan teknologi informasi juga memberi efek buruk, dimana masyarakat tidak bisa membedakan mana informasi yang benar dan salah. Khususnya penafsiran dan penjelasan ajaran Islam. Media komunitas inilah yang berperan menyebarkan pemahaman-ajaran Islam yang damai,” kata Malik Mugni, Pengurus LTNNU, Minggu (30/10/2016).
Media komunitas ini, kata Malik, menjadi pembanding terhadap konten-konten radikalisme di internet khususnya sosial media.
Sementara itu, wartawan Senior Wahyu Muryadi mengatakan, saat ini kita menghadapai era new media. Era dimana terjadi kolonial baru yang disebut digitalisasi.
“Penting saat ini pengorganisiran,” pungkasnya.
“Perlu ada kesadaran untuk memperbaiki diri. Kemudian bisa menentukan isu-isu yang relevan dan kemudian soal pilihan sikap,” pungkasnya. (sm/fid)
Sport2 minggu agoHasil Drawing League Cup 2026/2027
Sport2 minggu ago38 Peserta League Cup 2026/27
Sport2 minggu agoRanking FIFA Timnas Indonesia Terbaru Usai Juara FIFA ASEAN Cup 2026
Sport7 hari agoHasil Sidang Komdis PSSI Tanggal 1, 7, dan 8 Oktober 2026: Persiraja Didenda Rp75 Juta
Sport7 hari agoHasil Sidang Komite Disiplin PSSI 23 September 2026: Persebaya dan Garudayaksa Didenda Rp100 Juta
Sport7 hari agoHasil Sidang Komdis PSSI 24-25 September 2026: Java United FC dan Persib Bandung Didenda
Sport7 hari agoKlasemen BRI Super League 2026/2027 Usai Pekan ke-4, Persija Jakarta di Puncak
Sport2 minggu agoLeague Cup 2026/2027, Persib Bandung dan Borneo FC Langsung ke Perempat Final











