Lifestyle
Diagnosis Autisme Pada Anak, Bagaimana Cara Melakukannya?

Autisme adalah kelainan perkembangan yang memengaruhi anak dalam berkomunikasi dan berperilaku. Autisme sebenarnya lebih tepat disebut sebagai Gangguan Spektrum Autisme, sebab gejala dan keparahannya berbeda pada tiap anak. Jika autisme amat beragam, lantas bagaimana caranya melakukan diagnosis pada anak?
Mengenal ciri-ciri autisme pada anak

Diagnosis autisme pada anak sebenarnya bisa dilakukan sejak dini meskipun anak yang menderita autisme terlihat tidak berbeda dengan anak lainnya. Bahkan, anak lainnya munkin tidak tidak menunjukkan tanda apa pun sehingga orangtua tidak dapat mendeteksi autisme sejak awal.
Apabila gejalanya terlihat, waktu dan tingkat keparahannya dapat bervariasi. Sejumlah anak mungkin menunjukkan tanda-tanda penyebab autisme sejak usia beberapa bulan, tapi ada pula yang baru mengalaminya begitu berusia 2 atau 3 tahun.
Anda mungkin kesulitan mengenali gejala autisme anak karena tidak mudah. Akan tetapi, mengenalinya sejak awal penting agar dokter lebih mudah menentukan diagnosis autisme pada anak dan Anda tidak termakan mitos soal autisme.
Mengacu Centers for Disease Control and Prevention, berikut beberapa tanda umum yang perlu Anda amati pada anak:
- Tidak menunjuk objek yang biasanya membuat anak tertarik, misalnya pesawat yang sedang terbang, hewan, dan sebagainya.
- Tidak melihat objek yang ditunjukkan orang lain.
- Tidak suka dipegang atau dipeluk, atau hanya memeluk ketika ia ingin.
- Tidak menanggapi ketika diajak mengobrol, tapi menanggapi suara lain.
- Tidak bermain pura-pura, seperti main rumah-rumahan atau mobil-mobilan.
- Sulit berinteraksi dengan orang lain atau tidak mau berinteraksi sama sekali.
- Sulit memahami perasaan orang lain atau mengungkapkan perasaan sendiri.
- Sulit mengungkapkan keinginannya dengan kata-kata dan gerakan.
- Sulit beradaptasi dengan perubahan kegiatan.
- Menghindari kontak mata dan sering menyendiri.
- Mengulangi kata-kata yang pernah ia dengar, tapi tidak pada saat yang tepat.
- Melakukan hal yang sama berulang kali.
- Menunjukkan reaksi yang tak biasa terhadap rasa, bau, suara, dan sebagainya.
- Kadang tertarik pada orang lain, tapi tidak paham cara mengobrol dan bermain.
- Kehilangan kemampuan bicara atau kemampuan lainnya.
Cara menentukan diagnosis pada anak dengan autisme


Sebenarnya, diagnosis autisme pada anak sama sulitnya dengan mengenali gejalanya. Hal ini dikarenakan belum ada tes kesehatan yang dapat menyatakan dengan pasti bahwa anak Anda mengalami kondisi ini. Oleh sebab itu, dokter perlu terus memantau perkembangan anak.
Secara umum, seluruh proses diagnosis terdiri dari dua tahap, yakni:
1. Screening perkembangan
Tahap pertama dalam melakukan diagnosis autisme pada anak adalah screening perkembangan. Tahap ini dilakukan untuk untuk memahami apakah anak sudah memiliki kemampuan dasar sesuai usianya, atau justru terjadi keterlambatan. Dokter akan bertanya pada orangtua atau berbicara dengan anak guna melihat caranya berbicara, belajar, dan berperilaku.
Screening dilakukan pada usia 9, 18, 24, dan 30 bulan. Apabila risiko autisme tinggi, anak perlu menjalani screening tambahan. Proses screening dilakukan berdasarkan panduan dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) yang diterbitkan oleh Asosiasi Psikiatri Amerika Serikat.
2. Evaluasi menyeluruh
Tahapan selanjutnya dalam melakukan diagnosis autisme pada anak adalah mengevaluasi secara menyeluruh.
Pada tahap ini, Pada tahap ini, dokter akan memantau perkembangan anak, menguji kemampuan melihat dan mendengar, serta melakukan tes genetik, tes saraf, dan tes kesehatan lain yang diperlukan.
Jika anak perlu menjalani tes lain, dokter akan merujuk anak ke tim medis yang khusus menangani autisme. Tim medis ini biasanya terdiri dari dokter anak, psikolog anak, psikiater anak, spesialis bicara dan bahasa, dokter saraf, serta terapis okupasi.
Melakukan diagnosis autisme pada anak tidaklah mudah. Pasalnya, setiap anak dengan autisme dapat menunjukkan gejala dengan tingkat keparahan yang berbeda. Agar diagnosis menjadi tepat, orangtua dan dokter perlu terus bekerja sama dalam melihat perkembangan anak.
Apabila hasil diagnosis autisme pada anak akurat, Anda dapat merencanakan perawatan dan pendidikan untuk anak yang menderita autisme pun menjadi lebih baik.
Kabartangsel.com
Nasional7 hari agoMenaker Yassierli Tekankan Pentingnya Perusahaan Sesuaikan Tugas Magang dengan Latar Pendidikan Peserta
Sport7 hari agoPersija Jakarta Ditahan Imbang PSIM Yogyakarta 1-1 di Gianyar
Sport7 hari agoPrediksi Persita Tangerang vs Bali United: Misi Bangkit Pendekar Cisadane, Serdadu Tridatu Tetap Percaya Diri
Pemerintahan6 hari agoLakukan Penanganan Terpadu, Pilar Saga Ichsan Turun Langsung Tinjau Genangan di Jalan Puspiptek
Pemerintahan5 hari agoPilar Saga Ichsan: Pemkot Tangsel Siapkan Normalisasi Drainase Hingga Penataan Kawasan Melati Mas
Nasional4 hari agoAnggaran Rapat Daring BGN Capai Rp5,7 Miliar Selama April–Desember 2026
Pemerintahan5 hari agoPemkot Tangsel Hadirkan Tangsel One, Akses Layanan Kini Cukup Lewat WhatsApp Berbasis AI
Bisnis4 hari agoPT Nusantara Infrastructure Group Gelar Program “She Drives Change” di Tol BSD






























