Glioblastoma Muliforme, Kanker Otak yang Diderita Agung Hercules

By on Selasa, 25 Juni 2019

Mendengar nama Agung Hercules, apa yang terlintas di benak Anda? Badan kekar, barbel, atau mungkin rambut gondrong? Baru-baru ini, image tersebut seolah “lepas” dari Agung Hercules karena penampilannya yang berubah. Ia dikabarkan tengah berjuang melawan kanker otak, glioblastoma. Sebenarnya, apakah glioblastoma?

Apa itu glioblastoma?

penyakit kuru, makan otak manusia

Sebagaimana dilansir dari laman American Association of Neurological Surgeon, glioblastoma (atau dikenal juga sebagai glioblastoma multiforme/GBM) adalah tumor otak atau glioma yang berkembang dengan sangat cepat.

Glioblastoma termasuk ke dalam tumor ganas (kanker) stadium 4, di mana sebagian besar sel tumor akan terus bereproduksi dan membelah diri pada waktu tertentu.

Tumor ini terbentuk dari perkembangan abnormal sel otak yang disebut dengan astrosit yang berfungsi menjaga kesehatan sel saraf otak. Itu sebabnya, kanker ganas satu ini juga dikenal sebagai astrositoma stadium 4.

Jenis kanker otak ini dapat menyerang siapa pun, termasuk anak-anak. Namun, umumnya, glioblastoma multiforme terjadi pada orang berusia dewasa.

Menurut keterangan salah satu rekan artis, Bedu, seperti dilansir dalam Kompas.com (16/06), Agung Hercules menderita kanker di bagian otak sebelah kiri.

Ya, glioblastoma biasanya terjadi pada salah satu bagian otak, yang disebut sebagai cerebral hemispheres, tepatnya di lobus frontal dan temporal. Namun, kanker ini juga bisa terjadi pada bagian otak lainnya.

Tak menutup kemungkinan pula bahwa glioblastoma dapat menyebar ke bagian otak lainnya melalui jembatan penghubung bagian otak yang disebut dengan corpus callosum. Meski dapat menyebar ke bagian otak lainnya, kanker ini diketahui sangat jarang untuk menyebar keluar dari otak.

Secara umum, terdapat dua jenis glioblastoma, yaitu:

  • Primer — tumor diketahui pertama kali muncul sebagai glioblastoma stadium 4
  • Sekunder — tumor otak yang terjadi merupakan perkembangan sel tumor otak dengan stadium yang lebih rendah (astrositoma)

Tanda dan gejala glioblastoma

radang otak ensefalitis

radang otak ensefalitis

Seseorang yang memiliki glioblastoma mungkin merasakan beberapa gejala akibat pertumbuhan tumor ini. Tak hanya itu, gejala kanker otak yang dialami juga bisa berasal dari membengkaknya bagian otak karena adanya cairan di sekitar jaringan tumor (edema).

Gejala yang muncul bisa berbeda-beda, bergantung bagian otak mana yang terserang tumor. Namun, secara umum, glioblastoma memiliki beberapa gejala sebagai berikut:

  • Sakit kepala yang tak kunjung hilang (pada beberapa tipe akan memburuk di waktu pagi)
  • Penglihatan ganda atau kabur
  • Mual dan muntah
  • Kehilangan nafsu makan
  • Perubahan mood dan sifat
  • Penurunan kemampuan berpikir dan belajar
  • Kejang

Apabila tumor ini berkembang hingga mengenai saraf-saraf tertentu, penderitanya juga dapat mengalami beberapa gejala seperti lemas atau perubahan mimik wajah, hilangnya koordinasi, atau bahkan kemampuan mengingat.

Tumor ini juga dapat memengaruhi kemampuan berbahasa apabila berkembang di bagian otak yang memiliki fungsi tersebut. Akibatnya, pasien akan kesulitan dalam berbicara atau memahami pembicaraan.

Penyebab glioblastoma multiforme (GBM)

Seperti kebanyakan tumor yang lain, tak ada yang bisa memberitahukan dengan pasti apa penyebab dari glioblastoma multiforme.

Meski begitu, dalam laman National Organization of Rare Disorder, penyakit keturunan langka seperti sindrom Turcot, Li-Fraumeni syndrome, dan neurofibromatosis telah dikaitkan dengan kejadian tumor ganas ini. Namun, amat sangat sedikit dari penyakit tersebut yang mengakibatkan glioblastoma.

Siapa saja yang berisiko terserang glioblastoma multiforme (GBM)?

akibat stroke otak rusak

akibat stroke otak rusak

Setiap orang bisa saja terkena tumor yang satu ini. Namun, kebanyakan kanker otak ini terjadi pada orang yang lebih dewasa. Sangat jarang anak-anak yang diketahui memiliki penyakit yang satu ini.

Tumor ganas stadium 4 ini terjadi pada 3 dari 100.000 orang di Amerika Serikat per tahunnya. Rata-rata, penyakit ini terdiagnosis pada usia 64 tahun dengan persentase pada pria sedikit lebih tinggi dibandingkan wanita.

Meski tak diketahui penyebabnya, terdapat beberapa faktor yang bisa membuat seseorang berisiko terhadap penyakit ini, di antaranya:

  • Usia. Risiko terkena tumor otak akan meningkat seiring dengan usia Anda. Tumor otak lebih umum terjadi pada usia dewasa antara 45-65 tahun.
  • Terpapar radiasi. Orang yang pernah menjalani terapi radiasi/terkenan paparan tinggi radiasi juga berisiko terkena glioblastoma, termasuk jika terapi itu diperuntukkan untuk mengobati sel kanker.
    Pengobatan menggunakan terapi radiasi memang dapat menghancurkan sel kanker. Namun, terapi ini juga dapat menghancurkan sel normal, bahkan memicu pertumbuhan sel kanker.
  • Pekerjaan. Beberapa pekerjaan dapat meningkatkan risiko Anda terkena penyakit yang satu ini. Misalnya saja adalah pekerja di pabrik karet sintesis, penyulingan minyak bumi, atau mereka yang sering terpapar vinyl klorida atau pestisida.
  • Riwayat glioma dalam keluarga. Meski glioma (tumor otak) jarang diturunkan dalam keluarga, memiliki anggota keluarga yang pernah menderitanya dapat meningkatkan risiko Anda terkena glioblastoma multiforme.

Bagaimana glioblastoma didiagnosis?

Terdapat dua cara yang dilakukan untuk mentetapkan diagnosis terhadap seseorang yang diduga memiliki glioblastoma multiforme.

Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik dapat meliputi pemeriksaan segala kemampuan yang berkaitan dengan fungsi sistem saraf otak, seperti penglihatan, pendengaran, keseimbangan, koordinasi, kekuatan otot, serta refleks seseorang.

Pemeriksaan ini dilakukan untuk menilai kemampuan sensorik dan respons otot pasien. Apabila ditemukan bahwa adanya gejala tumor otak ganas yang muncul dari pemeriksaan fisik, seorang dokter mungkin akan menyarankan untuk melakukan pemeriksaan citra otak, seperti CT Scan atau MRI.

CT scan atau MRI

aluminium pada otak

aluminium pada otak

Pemindaian otak menggunakan teknologi pencitraan dapat menunjukkan dengan pasti di bagian otak mana tumor berkembang.

Pemeriksaan otak menggunakan MRI biasanya juga dilakukan dengan menggunakan cairan kontras. Cairan kontras dapat membantu seorang dokter dalam memberikan gambaran yang lebih jelas karena dapat membedakan antara sel normal dengan sel kanker di otak.

Sekalipun hasil MRI atau CT scan menunjukkan adanya perkembangan jaringan tidak normal, biopsi tetap harus dilakukan.

Biopsi adalah proses pemeriksaan jaringan kanker yang telah diambil dari bagian otak yang terserang di laboratorium untuk menentukan apakah sel tersebut merupakan glioblastoma atau bukan.

Bisakah glioblastoma diobati?

Glioblastoma multiforme adalah salah satu kanker otak paling mematikan. Rata-rata, kemampuan bertahan hidup pasien hanya sekitar 15 bulan setelah penyakit ini didiagnosis. Hal ini karena perkembangan dan penyebarannya yang sangat cepat.

Pesatnya pertumbuhan sel kanker otak ini disebabkan oleh astrosit yang sebenarnya adalah sel yang menjaga kesehatan otak. Sel astrosit yang sehat bertugas untuk mengontrol jumlah darah yang mengalirinya.

Itu sebabnya, ketika astrosit ini menjelma menjadi sebuah sel kanker, sel-sel ini tetap memiliki akses terhadap sejumlah pembuluh darah yang justru menjadi “makanan: bagi sel kanker itu.

Meski begitu, bukan berarti tidak terdapat pengobatan bisa dilakukan untuk mengatasi penyakit ini. Beberapa pengobatan yang umum dilakukan untuk meyembuhkan kanker otak ini, antara lain:

Operasi

darah menggumpal setelah operasi

darah menggumpal setelah operasi

Operasi merupakan prosedur yang paling umum untuk mengangkat sel tumor otak, termasuk glioblastoma. Biasanya, prosedur ini menjadi langkah pertama dalam mengobati kanker.

Apabila sel tumor masih kecil dan mudah dijangkau, akan mudah bagi dokter untuk mengangkat seluruhnya. Namun, ada pula kasus di mana sel kanker otak terlalu besar sehingga akan merusak jaringan sehat atau terletak dekat dengan area sensitif sehingga dapat berisiko bagi pasien.

Dalam kasus tersebut, dokter biasanya akan mengangkat sebisa mungkin, sejauh yang dianggap aman. Walapun tidak dapat mengangkat seluruhnya, prosedur ini mungkin tetap dapat membantu mengurangi gejala yang dirasakan oleh pasien.

Terdapat beberapa jenis operasi yang umum dilakukan, yaitu dengan membuka tempurung kepala atau dengan menggunakan metode endoskopi, yaitu memasukkan alat kecil ke dalam kepala untuk menghilangkan tumor. Cara ini merupakan metode minim invasif.

Terapi radiasi

Terapi radiasi merupakan tahap selanjutnya dalam pengobatan glioblastoma. Terapi ini akan membantu menghancurkan DNA sel-sel tumor yang mungkin masih tersisa dari operasi.

Langkah ini bisa memperlambat atau bahkan menghentikan perkembangan penyakit. Meski begitu, terdapat kemungkinan akan ada sel normal yang ikut hancur akibat radiasi.

Beberapa efek samping yang dirasakan karena radiasi di antaranya, kelelahan, rambut rontok, kehilangan nafsu makan, dan masalah kulit. Terapi ini mungkin saja dihentikan apabila pasien mengalami efek samping yang amat parah.

Kemoterapi

kemoterapi, obat kanker pada pasien obesitas

kemoterapi, obat kanker pada pasien obesitas

Kemoterapi juga dilakukan untuk menghancurkan atau bahkan menghambat pertumbuhan sel-sel kanker, termasuk sel yang tak bisa diangkat saat operasi karena terlalu kecil atau sulit dijangkau.

Kemoterapi menggunakan obat-obatan untuk membunuh sel kanker. Pemberiannya bisa dilakukan secara oral ataupun intravena (infus).

Temolozomide adalah salah satu obat yang disetujui oleh Badan POM Amerika Serikat, FDA, untuk diberikan dalam terapi kemoterapi pasien glioblastoma.

Efek samping yang mungkin dirasakan biasanya bergantung pada jenis dan dosis obat yang diberikan. Namun, beberapa efek samping yang umum biasanya adalah mual dan muntah, sakit kepala, rambut rontok, demam, dan badan lemas.

Sumber gambar utama: https://www.instagram.com/sinyoritaesperanza/

Kabartangsel.com

https://platform.instagram.com/en_US/embeds.js

Source