Kemenkes Prioritaskan Eliminasi Hepatitis B dari Ibu Ke Anak

By: Kamis, 30 Juli 2020

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung dr. Wiendra Waworuntu, M.Kes mengatakan bahwa upaya memutus mata rantai penularan Hepatitis B dari ibu ke anak menjadi prioritas pemerintah saat ini. Hal ini dilakukan dengan melakukan upaya pencegahan sedini mungkin pada ibu hamil.

“Caranya dengan mendeteksi semua ibu hamil harus diperiksa hepatitis B. Tetapi bukan hanya hepatitis B, kita mempunyai program triple yakni hepatitis B, HIV dan sifilis, sehingga cara memutuskannya dengan itu,” katanya dalam temu media Hari Hepatitis Sedunia yang dilakukan secara daring di Kementerian Kesehatan pada Selasa (28/7).

Sejalan dengan itu, Kementerian Kesehatan juga telah menyusun sejumlah program pencegahan penularan Hepatitis B dari ibu ke anak dimulai dengan pemberian imunisasi Hepatitis B (3 dosis) untuk semua bayi guna mengurangi insiden, Pemberian HB0 <24 jam pada semua bayi yang baru lahir untuk mengurangi transmisi dari ibu ke bayi, pemeriksaan pada ibu hamil, ANC dan pemantauan bayi, pemberian HBIg pada bayi lahir dari ibu reaktif HBsAg serta pemberian tenofovir pada bumil dengan VL tinggi.

“Untuk kegiatan Pedoman Program Pencegahan Penularan HIV, Sifilis dan Hepatitis B dari Ibu ke Anak (PPIA) sudah kita lakukan di Indonesia yaitu pemberian dosisi hepatitis B kepada bayi, dimana HB0 <24 jam dan Imunisasi Dasal Lengkap (IDL) secara nasional harus diberikan kepada semua bayi dan ini gratis. Ini merupakan program proritas nasional daripada pemerintah,” imbuhnya.

Sebagai prioritas utama, pemerintah terus melakukan upaya percepatan pengendalian Hepatitis B di Indonesia. Pasalnya, hingga Juni 2020, ada sekitar 73,2% Kabupaten/Kota yang melakukan deteksi dini belum mencapai target, capaian jumlah ibu hamil periksa deteksi dini Hepatitis B pada triwulan kedua tahun 2020 baru mencapai 724.497 orang, sementara cakupan imunisasi HB0 periode Januari hingga Juni 2020 baru sekitar 40%.

“Untuk vaksinasi yang kita harapkan harusnya bisa 80-90%. Kami mendapat laporan bahwa untuk HB0 masih 86% tahun lalu, tetapi pada periode Januari-Juni ini baru sekitar 40%. Artinya kita masih harus bekerja keras, agar bisa mencapai target 90%,” ujarnya.

Wiendra menilai penurunan ini sedikit banyak disebabkan oleh pandemi COVID-19, yang mana banyak orang takut untuk datang ke pelayanan kesehatan. Untuk itu, pihaknya mengimbau agar masyarakat tetap memberikan imunisasi pada anak tentunya dengan memperhatikan protokol kesehatan yang berlaku.
“Di daerah sudah ada strategi-strategi yang dibuat seperti imunisasi dengan protokol kesehatan seperti APD lengkap, pakai masker, jaga jarak, atau bisa membuat janji, sehingga bisa tercapai cakupan yang sesuai dengan target,” tutur Wiendra.

Tak hanya eliminasi Hepatitis, Wiendra menyebutkan pandemi juga telah menganggu pengendalian TB dan HIV. Untuk itu, pihaknya terus melakukan upaya percepatan pengendalian penyakit menular lainnya guna mencapai target yang telah ditetapkan. (rls/fid)


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *