Pamulang
Menelisik Terminal Pondok Cabe yang Terlantar
Kabartangsel.com – Terminal Pondok Cabe pernah terkenal sekitar tahun 2002. Terminal yang berlokasi di Jalan Kemiri 7 RT 001/011 Kelurahan Pondok Cabe, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), ini sempat melayani berbagai jurusan, dari dalam kota hingga berbagai jurusan luar provinsi. Setelah tidak dipergunakan selama nyaris 10 tahun, seperti apa kondisinya?Sepi, tak terawat dan kumuh. Begitulah gambaran Terminal Pondok Cabe kini. Padahal dulu, ratusan angkutan kota dan bus antar kota antar provinsi (AKAP) mondar-mandir masuk ke terminal yang dibangun Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang dengan anggaran Rp 10 miliar tersebut. Tak hanya itu, aktivitas jual beli pun rutin terjadi. Karena seiring adanya terminal, pedagang mulai banyak yang berjualan.
Sayangnya kini, kondisinya sangat jauh berbeda. Pemandangan miris bisa disaksikan mulai dari gerbang terminal, kantor terminal, loket, hingga jalur lintasan angkutan umum yang sangat tidak terawat. Bahkan, kios yang disiapkan untuk para pedagang juga sudah hancur dimakan rayap. Mirisnya, tiang-tiang ruko di dalam terminal kerap dijadikan jemuran baju para pemulung dan gelandangan serta depan pintu masuk pun terdapat penjual sayuran.
Memang, untuk bisa mencapai letak terminal dari Jalan Raya Parung-Ciputat membutuhkan jarak lebih dari 100 meter. Kontan saja, kondisi tersebut membuat siapa saja yang ingin memasuki areal terminal menjadi malas. Tidak terkecuali bagi warga setempat. “Jalan masuknya saja jauh, gimana orang mau masuk (terminal),” ujar Abdul Sanad, warga setempat.
Dulunya, kata Abdul, terminal tersebut sempat mengundang minat beberapa pengusaha angkot untuk membuka kantor cabang. Bus kecil yang melayani jurusan seperti Blok M, Stasiun Kota, Pasar Baru, Senen, dan Tanjung Priok, Tanah Abang, Kampung Rambutan, Kebayoran Lama, Parung, dan Muncul juga siap beroperasi. Begitu juga dengan bus AKAP. Sayang, semuanya gagal.
“Dulu semenjak ada terminal, warga banyak yang berdagang di sekitar terminal, sehingga warga mendapatkan pemasukan, kalau ramai kan bisa dapat uang. Singkong saja kalau dijual di terminal laku, sekarang apa yang mau dijual, sepi,” kata Nisan Atik, mantan pegawai Dinas Perhubungan Kabupaten Tangerang.
Luas terminal ini sekira 2,2 hektar dan dibangun sekitar 1999. Tahun 2000, pekerjaan selesai. Akhir 2001, banyak angkot baik jurusan antar provinsi dan maupun dalam provinsi menjalankan aktivitasnya dalam di terminal. Namun di akhir 2003, sedikit demi sedikit sejumlah supir angkot mulai meninggalkan terminal tersebut.
“Kalau dahulu, sekitar 20 angkot yang ngetem di sini. Tapi tidak sampai pertengahan 2003, sejumlah sopir mulai meninggalkan terminal Pondok Cabe,” jelasnya. Penyebabnya diduga karena lokasi terminal kurang strategis sehingga angkot kesulitan mendapatkan penumpang. Mereka lebih memilih terminal-terminal bayangan yang akhirnya banyak muncul.
Nasar Antun salah seorang warga menjelaskan bahwa dirinya lebih tertarik jika dibangun tempat gelanggang olahraga ketimbang terminal. Alasannya, karena untuk saat ini tempat olahraga di Tangerang sangat sedikit. “Lebih baik dibangun tempat olahraga agar lebih bermanfaat untuk masyarakat banyak,” katanya.
Heri salah seorang pedagang di depan terminal menjelaskan, apapun yang dibangun harus bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat wilayah Jalan Kemiri ini. “Saya lebih suka bekas terminal ini dijadikan tempat Rumah sakit dan gelanggang olahraga, karena tempat ini kalau siangnya suka dijadikan tempat orang pacaran, dan tempat mesum, namun kalau warga melihatnya, mereka segera diusir dari tempat tersebut,” katanya.
Sementara, salah seorang sopir angkot D02, Yanto mengatakan bahwa dirinya sangat keberatan jika dipindahkan atau masuk ke Terminal Pondok Cabe kembali. “Dulu aja sepi penumpang, apalagi sekarang, tidak ada penumpang yang mau naik atau pun turun ke terminal tersebut, dikarenakan kondisi yang sangat jauh dari jalan raya,” ungkapnya.
Anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tangsel, Tb Rachmatullah, mengamini komentar sopir tadi. Menurutnya, letak terminal pondok cabe tidak strategis.Perlu ada alternatif pembuatan terminal baru yakni dikisaran Ciputat, atau wilayah lain yang strategis.
“Hingga saat ini Dinas Perhubungan belum melakukan persentasi terkait DED Terminal Pondok Cabe, namun disayangkan jika tempat yang dulu saja tidak ada peminatnya ini, digunakan kembali untuk terminal. Sangat mubazir!”ungkapnya.(tangselpos/kt)
Tangsel4 minggu agoBenyamin Davnie Lepas Kontingen Sepak Bola Putri Tangsel ke Turnamen Internasional di Swedia
Pemerintahan4 minggu agoDiskominfo Tangsel Bawa Semangat Kolaborasi Digital di Forum Komdigi APEKSI 2026
Pemerintahan4 minggu agoPemkot Tangsel Terima Reses DPRD Provinsi Banten, Bahas SPMB, Usulan Penambahan SMA Negeri hingga Pengendalian Banjir
Pemerintahan4 minggu agoRakernas XVIII APEKSI 2026, Pilar Saga Ichsan: Forum Strategis Sinkronisasi Program Pusat dan Daerah
Tangerang Selatan4 minggu agoDara Swandana dan Aiman Rasyapradipta Rangkuti Wakili Tangsel di Youth City Changers APEKSI 2026
Pemerintahan4 minggu agoPilar Saga Ichsan Tinjau Booth Paviliun Tangsel di APEKSI 2026
Pemerintahan4 minggu agoBenyamin Davnie: Pemkot Tangsel Dukung LANTIP Perkuat Program Kesehatan dan Pemberdayaan Lansia
Serba-Serbi2 minggu agoPerda Kota Tangerang Selatan Nomor 2 Tahun 2023: Di Wilayah yang Sudah Terpasang Jaringan, Kewajiban Menggunakan Layanan PAM Mulai Berlaku




























