Lifestyle
Penyebab Intoleransi Laktosa dan Faktor Risikonya yang Wajib Diketahui

Sehabis minum susu atau makan keju, perut terasa sakit melilit, kembung atau begah, dan bahkan jadi buang-buang air (diare) merupakan gejala intoleransi laktosa. Umumnya gejala bisa muncul dalam 2 jam setelah mengonsumsi produk susu. Lantas, apa faktor penyebab utama dari intoleransi laktosa?
Penyebab intoleransi laktosa
Intoleransi laktosa terjadi ketika usus kecil Anda tidak menghasilkan cukup enzim laktase untuk mencerna laktosa, gula yang ada dalam susu.
Laktase seharusnya akan mengubah laktosa menjadi gula sederhana yang bisa diserap ke dalam aliran darah. Gula sederhana tersebut kemudian akan dialirkan ke seluruh tubuh untuk digunakan sebagai energi.
Jika tubuh Anda kekurangan enzim laktase, laktosa dalam makanan akan langsung pindah ke usus besar tanpa diproses. Bakteri alami di dalam usus besarlah yang nanti justru akan mengolahnya.
Selama memecah laktosa, bakteri dalam usus akan menghasilkan gas buangan yang kemudian memicu berbagai gejala gangguan pencernaan.
Faktor risiko pemicu intoleransi laktosa
Intoleransi laktosa bisa dialami siapa saja. Namun, kondisi ini lebih sering terjadi pada orang-orang yang memiliki faktor risikonya. Beberapa faktor yang meningkatkan risiko seseorang memiliki intoleransi laktosa adalah:
- Usia: Semakin tua, produksi enzim laktase menurun. Gejala intoleransi laktosa biasanya muncul pada akhir masa kanak-kanak atau dewasa awal.
- Etnis atau ras: Kondisi ini lebih sering terjadi di Afrika, Amerika latin, Amerika Indian, dan Asia (termasuk Indonesia).
- Perawatan kanker: Efek samping radiasi untuk kanker di bagian perut atau komplikasi akibat kemoterapi dapat menjadi penyebab intoleransi laktosa. Terapi kanker dapat memengaruhi jumlah enzim laktase di usus kecil.
Jenis intoleransi laktosa berdasarkan penyebab
Ada empat jenis intoleransi laktosa, dan semuanya memiliki penyebab berbeda. Berikut penjelasannya:
1. Intoleransi laktosa primer
Ini adalah jenis intoleransi laktosa yang paling umum. Jenis intoleransi ini umum dimiliki oleh orang-orang yang dulunya pernah dan bisa mengonsumsi produk susu tanpa masalah, tapi kemudian berhenti.
Intoleransi laktosa primer dimulai ketika tubuh berhenti membuat enzim laktase sekitar usia 5 tahun. Hampir setiap bayi yang lahir ke dunia akan menghasilkan cukup laktase untuk mencerna laktosa dalam ASI dan susu formula.
Namun setelah konsumsi susu sempat lama dihentikan, usus halus akan memproduksi lebih sedikit enzim laktase. Ketika kadar laktase menurun, produk susu menjadi lebih sulit dicerna oleh tbuh,
2. Intoleransi laktosa sekunder
Penyebab dari jenis intoleransi laktosa sekunder adalah karena pengaruh penyakit pencernaan (terutama penyakit Celiac, penyakit Crohn), efek samping operasi atau pembedahan, cedera pada perut, atau selama mengonsumsi obat tertentu. Semua ini dapat memengaruhi kerja usus kecil Anda untuk memproduksi enzim laktase.
Penyakit gastroenteritis (muntaber) yang disebabkan oleh infeksi juga dapat menjadi penyebab intoleransi laktosa untuk sementara, biasanya selama 1-2 minggu. Infeksi dan kekurangan zat besai selama sakit muntaber dapat menggangu kerja pencernaan dan penyerapan laktosa.
Jenis intoleransi ini hanya berlangsung sementara, dan biasanya akan pulih begitu pemicunya dihentikan atau disembuhkan.
3. Intoleransi laktosa kongenital
Bayi yang lahir prematur rentan mengalami intoleransi laktosa karena usus mereka belum berkembang sempurna. Maka dari itu bayi prematur cenderung memiliki kadar enzim laktase yang sedikit.
Meski begitu, jenis intoleransi ini jarang ditemukan dan jika terjadi umumnya berlangsung singkat. Intoleransi laktosa kongenital bisa hilang sendiri seiring bertambahnya usia bayi dan dengan perawatan yang tepat.
4. Intoleransi laktosa bawaan
Penyebab intoleransi laktosa ini adalah kelainan genetik, sehingga ada kemungkinan kondisi yang Anda alami diturunkan dari kedua orangtua. Intoleransi genetik terjadi ketika tubuh Anda tidak memproduksi laktase sama sekali sejak lahir, atau kalaupun ada jumlahnya amat sedikit.
Namun, jenis satu ini termasuk sangat jarang terjadi.
Makanan penyebab gejala intoleransi laktosa
Penyebab utama dari intoleransi laktosa adalah tubuh yang tidak memproduksi cukup enzim laktase untuk mencerna laktosa. Laktosa adalah jenis gula yang ada di dalam susu, produk olahan susu, dan hidangan apa pun yang terbuat dari atau mengandung susu.
Maka dari itu, konsumsi makanan atau minuman penyebab intoleransi laktosa perlu dibatasi oleh orang yang memiliki kondisi ini. Misalnya:
- Susu hewani dalam bentuk murni, atau olahan minuman susu seperti milkshakes, smoothies yang dibuat dengan susu atau yogurt, dan minuman berbahan dasar susu lainnya.
- Produk turunan susu, seperti air dadih (whey), dadih (curds), padatan susu kering (dry milk solid)
- Susu bubuk kering tanpa lemak (nonfat dry milk powder)
- Whipped cream (krim kocok) dan krimer dairy
- Es krim, es susu, gelato, yogurt, puding susu, atau camilan dingin apa pun yang mengandung susu
- Keju
- Mentega (butter)
- Sup krim atau saus dan krim dari susu (misalnya saus pasta carbonara)
- Makanan lainnya yang dibuat dari susu
- Produk sampingan susu (milk by products)
Meski demikian, laktosa juga dapat ditemukan di dalam makanan atau minuman lainnya. Untuk menghindari gejala intoleransi laktosa, hindari makanan seperti:
- Roti, pancake, waffle, keik, dan kue-kue kering
- Permen cokelat
- Salad dressing dan saus
- Sereal dan produk kreasinya
- Daging olahan, seperti bacon, sosis, daging hot dog
- Permen dan makanan ringan
- Adonan pancake dan biskuit
- Margarin
- Jeroan, (seperti hati)
- Gula bit, kacang polong, dan kacang lima
- Cairan pengganti susu dan bubuk, smoothie, dan bubuk protein
- Makanan olahan seperti sereal sarapan, margarin, keripik kemasan, dan makanan ringan lainnya
Ada kemungkinan makanan lain yang tidak disebutkan di atas dapat mengandung sejumlah kecil laktosa. Maka sebaiknya cermati dan periksa daftar label komposisi makanan pada kemasan sebelum membelinya.
Sejumlah kecil laktosa juga dapat ditemukan dalam beberapa obat resep dan obat-obatan bebas. Bicarakan dengan dokter tentang kondisi Anda dan jumlah laktosa dalam obat-obatan yang Anda gunakan, agar tidak memicu kemunculan gejalanya selama dalam pengobatan.
Kabartangsel.com
Sport4 hari agoHasil Akhir Persija Jakarta vs Persib Bandung1-2 di BRI Super League 2025/2026 Pekan ke-32
Opini5 hari agoKetika Makanan Juga Relasi
Pemerintahan6 hari agoBenyamin Davnie Lanjutkan Program Bedah Rumah, Targetkan 329 Unit Diperbaiki Sepanjang 2026
Banten4 hari agoHasil Persita Tangerang vs Persijap Jepara 0-3 di BRI Super League 2025/2026 Pekan ke-32
Techno5 hari agoAplikasi HRD Terbaik di Indonesia untuk Tingkatkan Efisiensi Pekerjaan HR hingga 80 Persen
Sport4 hari agoHasil Persija vs Persib Babak Pertama 1-2: Brace Adam Alis Bawa Maung Bandung Unggul
Sport4 hari agoKlasemen Persib Bandung Usai Kalahkan Persija Jakarta Kokoh di Puncak BRI Super League 2025/2026
Banten4 hari agoPersita vs Persijap: Pendekar Cisadane Incar Rekor Poin, Carlos Pena Waspadai Laskar Kalinyamat





















