Oleh: Rizca Amelia Akbar (Pustakawan Mumtaza Islamic School)
Menjadi pustakawan sekolah SD/MI merupakan pilihan. Mungkin, profesi ini belum terlalu diminati. Memang, untuk menjadi pustakawan sekolah SD/MI dibutuhkan kemampuan untuk memahami karakter anak-anak. Anak-anak adalah generasi penerus bangsa yang memiliki potensi untuk memajukan negaranya. Masa anak-anak adalah masa yang menyenangkan. Pada masa ini, anak-anak membutuhkan stimulus dari para orangtua untuk mengasah kemampuan yang dimilikinya. Peran tenaga kependidikan juga diperlukan, bukan hanya guru tetapi pustakawan sekolah dapat berfungsi sebagai pendorong bagi mereka.
Untuk mengasah kemampuan yang dimilikinya, anak-anak dapat mengunjungi perpustakaan di sekolah mereka untuk mencari sumber bacaan baru yang akan menambah pengetahuan mereka. Ketika mereka mengunjungi perpustakaan, tentunya ada pustakawan yang bertugas mengawasi mereka. Pustakawan dapat menempatkan dirinya secara flexsible, karena sebagian besar pemustaka yang dihadapinya adalah anak-anak. Pustakawan harus beranggapan bahwa menghadapi anak-anak adalah hal yang menyenangkan. Ikut masuk ke dunia mereka, memberikan pengalaman kepada pustakawan untuk memahami karakter anak-anak.
Ada tiga hal yang perlu dipelajari oleh pustakawan sekolah SD/MI, yaitu: memperhatikan, mendengarkan dan merespon. Ketiga hal tersebut harus sinkron. Hal yang pertama, yaitu memperhatikan. Ketika siswa/i yang masih berstatus anak-anak mengunjungi perpustakaan, maka pustakawan harus memperhatikan perilaku mereka. Perhatikan apa yang diinginkan siswa/i tersebut, apakah ingin membaca, bermain atau berdiskusi. Berikan perhatian sesering mungkin agar tidak terjadi hal-hal yang diinginkan. Kedua, mendengarkan. Ketika ada siswa/i yang bertanya mengenai buku, maka dengarkanlah buku apa yang dibutuhkan. Dengarkanlah kebutuhan mereka pada saat mereka berkunjung ke perpustakaan, walaupun mereka ingin bermain atau berdiskusi di perpustakaan, tetap dengarkan mereka karena membaca, bermain atau berdiskusi adalah bagian dari kehidupan mereka pada masa anak-anak. Ketiga, merespon. Setelah memperhatikan dan mendengarkan, maka hal selanjutnya adalah merespon. Merespon bisa ke arah positif atau negatif. Jika terjadi suasana yang menyenangkan, maka responlah mereka dengan respon yang positif. Sebagai contoh ada siswa/i yang membutuhkan buku, maka pustakawan harus segera merespon positif dengan cara memberi tahu tentang ketersediaan buku tersebut di perpustkaan. Pustakawan dapat segera mencari buku di katalog atau membimbing siswa/i mencari langsung di rak. Selain itu, jika ada suasana yang tidak menyenangkan, misalnya siswa/i membuat kegaduhan di perpustakaan, maka respon yang dikeluarkan adalah dapat berupa respon negatif, tetapi membangun atau dengan kata lain pustakawan dapat memberikan solusi atau nasehat dengan tidak memberikan hukuman fisik kepada siswa/i tersebut.
Bisnis3 minggu agoPLN Luncurkan Circular Waste Initiative di Ragunan
Sport4 minggu agoJadwal Piala Dunia 2026 Senin 22 Juni: Belgia vs Iran, Uruguay vs Cape Verde, Selandia Baru vs Mesir, Argentina vs Austria
Bisnis4 minggu agoDorong Operasional Logistik yang Ramah Lingkungan, Modena Group Beralih ke Kendaraan EV
Pemerintahan3 minggu agoPemkot Tangsel Alokasikan Bantuan Pendidikan Rp1,8 Juta per Siswa untuk 94 SMP Swasta pada Tahun Ajaran 2026/2027
Bisnis4 minggu agoEvolusi Mie Sedaap: Dari Brand Mi Instan Menjadi Platform Kreativitas dan Pengalaman Generasi Muda
Tangsel3 minggu agoBenyamin Davnie Lepas Kontingen Sepak Bola Putri Tangsel ke Turnamen Internasional di Swedia
Bisnis4 minggu agoJKP Instrumen Penting Pelindungan dan Pengembangan Karier Pekerja
Bisnis4 minggu agoUnicharm Green Action: Ayo Pilah Sampah 3R Bersama!














