Serang, Banten — Rais ‘Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ma’ruf Amin menyerukan gerakan literasi pesantren sebagai upaya mengimbangi radikalisme yang marak dikampanyekan melalui berbagai media. Cicit dari Syekh Nawawi Al-Bantani itu mengingatkan para kiai dan santri untuk memanfaatkan teknologi sosial media dan kebebasan pers sebagai momentum mendakwahkan islam ramah dan tradisi keberagamaan rahmatan lil alamin yang diajarkan di pesantren.
“Pesantren saat ini harus mengkader santri-santrinya untuk melek media dan memanfaatkannya sebagai wahana berdakwah. Di samping mengajarkan kajian-kajian fiqh, tauhid, tasawuf dan kajian khas pesantren,” papar Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia ini, Minggu (4/9/2016).
Maraknya da’i televisi yang terkadang tampil tanpa menguasai kajian keislaman yang komprehensif, juga menjadi perhatian Kiai Ma’ruf. Fenomena tersebut, merupakan konsekwensi dari orientasi media menampilkan nuansa hiburan buat masyarakat.
“Media memang butuh entertainment, karena itu, da’i-da’i yang tampil di TV kadang lebih menghadirkan nuansa hiburannya ketimbang substansi dakwah. Tinggal kita bina mereka, agar mampu memberikan materi dakwah yang selaras dengan ajaran pesantren, yang bijak dan mendidik masyarakat,” imbuhnya.
Literasi di dunia pesantren, menurut Kiai Ma’ruf, pada dasarnya sudah terbangun dalam tradisi kajian yang diajarkan sejak berabad lampau. Para ulama Indonesia seperti Syekh Nawawi, Syekh Ahmad Khatib Sambas, hingga ulama kekinian, banyak memiliki karya yang menjadi bahan kajian di Pesanten. Bahkan, Syekh Nawawi dijuluki Sayyidul Ulama Hijaz, Pemimpin Ulama Hijaz, hingga saat ini dikenal di dunia akademis juga dikenang abadi, karena karya-karyanya. Karya Syekh Nawawi menjadi rujukan para peneliti keislaman di berbagai kampus dunia. Kitabnya dikaji di pesantren-pesantren di negeri ini.
“Kajian Fiqh yang banyak ditulis oleh Syekh Nawawi dan ulama seangkatannya itulah yang kini mewarnai tradisi keislaman di Asia Tenggara, Afrika dan sebagian Eropa. Syekh Nawawi juga mengajarkan pentingnya rasa cinta tanah air. Sehingga di Indonesia, Nasionalisme dan Keislaman bisa menyatu tanpa kontradiksi. Bahkan menjadi spirit perjuangan kemerdekaan,” tandasnya. (sm/fid)
Bisnis5 hari agoWarnaGo Resmi Hadir di Tangerang, Usung Konsep One-Stop Solution Cat Premium
Banten5 hari agoPeringati Milad ke-6 dan HPN 2026, JMSI Banten Gelar Aksi Sosial dan Lingkungan
Jabodetabek4 hari agoIDWX Hadirkan Jam Tangan Tag Heuer Original untuk Pecinta Jam Mewah di Jakarta
Bisnis4 hari agoAle-Ale Rasa Buah Nanas: Juicy Nanasnya, Segarnya Juara
Sport7 hari agoHasil Persib Bandung vs Malut United 2-0 di BRI Super League 2025/26 Pekan ke-20
Pemerintahan4 hari agoBenyamin Davnie Pastikan Tumpukan Sampah di Tangsel Sudah Teratasi
Jabodetabek4 hari agoBedah Akuntabilitas BUMN Pasca Danantara, Akademisi UIN Jakarta Fathudin Kalimas Raih Doktor di UI
Pemerintahan4 hari agoPilar Saga Ichsan Hadiri Puncak HPN 2026 di Banten: Perkuat Peran Pers Hadapi Tantangan Era Digital dan AI












