Connect with us

Serba-Serbi

Statistik Kesejahteraan Rakyat Kota Tangerang Selatan 2025

Statistik Kesejahteraan Rakyat Kota Tangerang Selatan 2025 (BPS Tangsel)

Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tangerang Selatan menerbitkan publikasi Statistik Kesejahteraan Rakyat Kota Tangerang Selatan 2025 (Volume 11) sebagai hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025. Publikasi ini menyajikan data komprehensif mengenai kondisi sosial ekonomi masyarakat dengan fokus pada kependudukan, pendidikan, kesehatan, fertilitas, perumahan, konsumsi, pengeluaran, serta aspek kesejahteraan lainnya.

Statistik Kesejahteraan Rakyat Kota Tangerang Selatan 2025

Nomor Katalog :4101002.3674
Nomor Publikasi :36740.25012
ISSN/ISBN :
Frekuensi Terbit :Tahunan
Tanggal Rilis :28 November 2025
Bahasa :Indonesia
Ukuran File :19.34 MB

Abstraksi

Publikasi Statistik Kesejahteraan Rakyat Kota Tangerang Selatan Tahun 2025 merupakan publikasi yang diterbitkan oleh BPS Kota Tangerang Selatan. Publikasi ini merupakan hasil pengumpulan data melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Tahun 2025 yang dilaksanakan pada bulan Maret 2025 secara serentak di seluruh wilayah Indonesia. Publikasi ini menyajikan berbagai aspek kesejahteraan masyarakat yang datanya tersedia dan terukur. Untuk memudahkan interpretasi, perubahan taraf kesejahteraan dikaji menurut berbagai bidang yang mencakup kependudukan, pendidikan, kesehatan, fertilitas dan keluarga berencana (KB), perumahan, konsumsi dan pengeluaran, serta aspek sosial lainnya yang menjadi acuan dalam upaya peningkatan kualitas hidup.

Berikut adalah rangkuman temuan utama:

1. Metodologi dan Ruang Lingkup

  • Sampel: Survei mencakup 950 rumah tangga yang tersebar di 7 kecamatan di Kota Tangerang Selatan, dengan total sampel nasional 345.000 rumah tangga.

  • Metode: Stratified two-stage sampling dengan pengumpulan data melalui wawancara langsung menggunakan kuesioner VSEN25.K dan VSEN25.KP.

  • Disagregasi Data: Data disajikan berdasarkan jenis kelamin, kelompok pengeluaran (40% terbawah, 40% menengah, 20% teratas), dan tingkat pendidikan kepala rumah tangga (SD ke bawah, SMP ke atas).

2. Kependudukan

  • Status Perkawinan:

    • 56,97% penduduk berusia 10+ tahun berstatus kawin, 37,16% belum kawin, dan 5,87% cerai.

    • Sebanyak 97,55% penduduk yang kawin memiliki buku/akta nikah dari KUA/Kantor Catatan Sipil.

  • Akta Kelahiran: 96,57% penduduk usia 0–17 tahun memiliki akta kelahiran.

3. Pendidikan

  • Literasi: 99,30% penduduk usia 15+ tahun dapat membaca dan menulis huruf Latin.

  • Partisipasi Sekolah:

    • 73,60% penduduk usia 5+ tahun masih bersekolah.

    • 77,28% penduduk usia 7–23 tahun masih bersekolah, sementara 21,91% sudah tidak bersekolah lagi.

  • Tingkat Pendidikan:

    • 24,74% penduduk usia 15+ tahun memiliki ijazah perguruan tinggi.

    • 45,07% tamat SMA/SMK, sementara hanya 2,50% tidak memiliki ijazah SD.

4. Kesehatan dan Fertilitas

  • Jaminan Kesehatan:

    • 83,95% penduduk memiliki BPJS Kesehatan.

    • 13,48% memiliki asuransi kesehatan lain (Jamkesda/swasta).

    • 9,19% tidak memiliki jaminan kesehatan.

  • Perilaku Kesehatan:

    • Angka kesakitan: 6,73% penduduk mengalami sakit dalam sebulan terakhir.

    • 22,41% penduduk usia 15+ tahun merokok tembakau.

  • Imunisasi dan Gizi Anak:

    • Cakupan imunisasi lengkap (BCG, polio, DPT, dll.) pada balita berkisar 57–88%.

    • 88,74% baduta (0–23 bulan) pernah diberi ASI, dengan rata-rata lama pemberian 11,34 bulan.

  • Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak:

    • 100% persalinan terakhir dilakukan di fasilitas kesehatan dan ditolong oleh tenaga kesehatan.

    • 70,54% bayi lahir dengan berat badan ≥2,5 kg, sementara 14,69% <2,5 kg.

5. Perumahan dan Sanitasi

  • Kepemilikan Rumah: 83,01% rumah tangga menempati rumah milik sendiri.

  • Kualitas Bangunan:

    • 77,82% atap terbuat dari beton/genteng/seng/kayu.

    • 100% dinding terbuat dari tembok/plesteran.

    • 100% lantai terbuat dari keramik/ubin/kayu/semen.

  • Sanitasi dan Air Bersih:

    • 99,60% rumah tangga memiliki fasilitas buang air besar sendiri.

    • 99,63% menggunakan tangki septik/IPAL sebagai pembuangan akhir tinja.

    • 65,61% menggunakan air kemasan/isi ulang/leding sebagai sumber air minum utama.

  • Penerangan: 100% rumah tangga menggunakan listrik PLN.

6. Teknologi Informasi dan Perlindungan Sosial

  • Akses Teknologi:

    • 89,54% penduduk usia 5+ tahun pernah menggunakan telepon seluler/komputer.

    • 88,62% pernah menggunakan internet.

  • Program Bantuan Sosial:

    • 1,95% rumah tangga menerima Program Keluarga Harapan (PKH).

    • 1,51% menerima Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT)/Program Sembako.

  • Kredit: 10,68% rumah tangga menerima kredit dari sumber non-bank (koperasi, perorangan, dll.).

7. Konsumsi dan Pengeluaran

  • Rata-rata Pengeluaran per Kapita Sebulan: Rp 2.660.127.

    • Pengeluaran makanan: Rp 1.003.151 (38% dari total).

    • Pengeluaran non-makanan: Rp 1.656.976 (62% dari total).

  • Pola Konsumsi Berdasarkan Kelompok Pengeluaran:

    • 40% terbawah: 53% untuk makanan, 47% non-makanan.

    • 40% menengah: 45% makanan, 55% non-makanan.

    • 20% teratas: 26% makanan, 74% non-makanan (mencerminkan peningkatan kesejahteraan).

  • Konsumsi Gizi:

    • Rata-rata konsumsi kalori per kapita per hari: 1.935,87 kkal (di bawah standar nasional 2.100 kkal).

    • Rata-rata konsumsi protein: 62,23 gram (di atas standar 57 gram).

8. Ulasan Tematik

  • Peningkatan Kualitas SDM: Proporsi penduduk dengan ijazah SMA ke atas meningkat dari 64,43% (2023) menjadi 69,81% (2025), sementara yang tidak memiliki ijazah SD menurun.

  • Transformasi Pola Konsumsi: Masyarakat beralih dari konsumsi berbasis kebutuhan dasar (makanan) ke kebutuhan sekunder/tersier (non-makanan), sesuai dengan Engel’s Law.

  • Ketahanan Pangan dan Gizi: Konsumsi protein sudah memadai, tetapi konsumsi kalori masih perlu ditingkatkan, terutama pada kelompok 40% terbawah.

9. Implikasi Kebijakan

  • Pendidikan: Program wajib belajar 12 tahun berhasil meningkatkan partisipasi pendidikan tinggi.

  • Kesehatan: Cakupan universal kesehatan hampir tercapai, namun perlu perhatian pada kelompok tanpa jaminan kesehatan dan perilaku merokok.

  • Perumahan: Infrastruktur dasar (listrik, sanitasi, air bersih) sudah sangat baik, namun kepemilikan rumah masih perlu ditingkatkan.

  • Kesejahteraan: Perlunya intervensi khusus untuk kelompok 40% terbawah dalam peningkatan akses pangan, pendidikan, dan perlindungan sosial.

Kesimpulan

Kota Tangerang Selatan menunjukkan kemajuan signifikan dalam berbagai indikator kesejahteraan, dengan akses layanan dasar yang baik, peningkatan kualitas SDM, dan pola konsumsi yang semakin modern. Namun, tantangan tetap ada dalam hal ketahanan pangan, kesenjangan antarkelompok pengeluaran, dan kesehatan perilaku. Data ini dapat menjadi dasar perencanaan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan menuju visi Indonesia Emas 2045.

Advertisement

Sumber: Badan Pusat Statistik Kota Tangerang Selatan. (2025). Statistik Kesejahteraan Rakyat Kota Tangerang Selatan 2025.
ISBN: 2807-4777 | Katalog: 4101002.3674 | Tautan: https://kangselkota.bps.go.id

Advertisement

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer