Obituari
Kurniawan Zulkarnain: Intelektual Organik yang Tak Pernah Berhenti Gelisah Memikirkan Indonesia

Kurniawan Zulkarnain adalah salah satu tokoh senior yang memiliki tempat khusus dalam sejarah intelektual dan perkaderan HMI Ciputat. Alumni IAIN Jakarta, yang kini menjadi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, ia dikenal sebagai aktivis, intelektual, pekerja pemberdayaan masyarakat, dan mentor bagi banyak mahasiswa serta alumni Ciputat. Ia bukan tipe intelektual yang berhenti di ruang akademik atau larut dalam perdebatan gagasan semata. Pengetahuan, pengalaman, dan keyakinannya ia bawa ke tengah masyarakat melalui kerja-kerja pemberdayaan dan pengorganisasian.
Dalam pengertian Antonio Gramsci, intelektual organik adalah intelektual yang tidak hidup terpisah dari masyarakatnya. Ia tumbuh dari suatu lingkungan sosial tertentu, memahami persoalan konkret masyarakat, lalu menggunakan pengetahuan dan gagasannya untuk ikut membentuk kesadaran serta perubahan sosial. Dalam pengertian inilah Kurniawan Zulkarnain dapat dibaca sebagai seorang intelektual organik: ia mempertemukan dunia pemikiran, aktivisme, organisasi, dan kerja nyata bersama masyarakat.
Kurniawan tumbuh dalam tradisi intelektual Islam Ciputat yang sangat kuat. Ia merupakan bagian dari generasi yang menjadikan kampus bukan hanya tempat memperoleh gelar, tetapi juga ruang untuk membaca persoalan umat, bangsa dan negara. Pada awal 1980-an, bersama sejumlah intelektual muda dan aktivis IAIN Jakarta, ia ikut mendirikan HP2M, Himpunan untuk Penelitian dan Pengembangan Masyarakat. Dari sini terlihat orientasi intelektualnya: pengetahuan harus mempunyai hubungan dengan kehidupan masyarakat.
Dalam perjalanan berikutnya, Kurniawan aktif dalam berbagai NGO nasional maupun internasional. Ia pernah menjadi konsultan FAO dan terlibat dalam berbagai program pemberdayaan masyarakat yang bersentuhan dengan lembaga-lembaga internasional, termasuk Bank Dunia dan PBB, serta program-program pemerintah. Dunia yang digelutinya mempertemukan gagasan dengan realitas lapangan: kemiskinan, ketimpangan, pembangunan, pemberdayaan, masyarakat sipil dan persoalan-persoalan kebangsaan.
Tetapi ada satu lapisan penting dalam memahami sosok Kurniawan: ia adalah anak ideologis Masyumi. Dalam pengertian ini, Masyumi bukan semata-mata nama sebuah partai politik masa lalu, melainkan sebuah tradisi pemikiran Islam modern yang menempatkan agama, intelektualitas, kebangsaan, demokrasi dan tanggung jawab sosial dalam satu ruang pergulatan. Kurniawan mewarisi semangat tersebut dan membawanya ke dalam tradisi HMI serta dunia intelektual dan pemberdayaan masyarakat.
Karena itu, menjadi HMI bagi Kurniawan bukan sekadar identitas organisasi. Ia adalah jalan ideologis dan intelektual. Ia dikenal sebagai ideolog HMI sejati, yang memahami perkaderan bukan hanya sebagai proses menghasilkan kader organisasi, tetapi sebagai proses membentuk manusia yang memiliki kesadaran keislaman, keindonesiaan, intelektualitas dan tanggung jawab sosial.
Bagi banyak mahasiswa dan alumni Ciputat, Kurniawan kemudian lebih dari sekadar seorang senior. Ia adalah mentor. Sosoknya dikenal ramah, tetapi tegas; terbuka, tetapi mempunyai prinsip. Ia dapat berbicara dengan siapa saja, dari berbagai latar belakang, tanpa kehilangan pijakan ideologisnya. Pintu hatinya selalu terbuka bagi adik-adik yang datang untuk berdiskusi, meminta nasihat, atau sekadar mencari teman bertukar pikiran. Dalam hubungan dengan generasi muda itulah karakter intelektual organiknya semakin terasa: ia tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi mentransmisikan pengalaman, nilai dan kegelisahan dan kegelisahan itulah barangkali yang paling kuat melekat pada sosoknya.
Kurniawan adalah seorang yang tidak pernah benar-benar selesai dengan Indonesia. Ia terusik ketika melihat bangsa dan negara yang dicintainya masih bergolak. Pergulatan politik, ketimpangan sosial, persoalan demokrasi, kualitas kehidupan masyarakat dan arah perjalanan bangsa menjadi bagian dari kegelisahan yang terus ia bawa. Ia tidak melihat Indonesia dari kejauhan sebagai seorang pengamat yang merasa sudah mengetahui semuanya. Ia merasa menjadi bagian dari persoalan itu sendiri.
Kegelisahan tersebut bahkan masih tampak hingga hari-hari terakhir kehidupannya. Hanya dua hari sebelum wafat, ia meluncurkan buku Renungan & Keprihatinan: Memahami Keindonesiaan Kita. Buku setebal 277 halaman itu diterbitkan Kali Pustaka dan menjadi karya yang sangat personal sekaligus kebangsaan. Kata pengantarnya ditulis Prof. Dr. Didin S. Damanhuri, SE., MS., DEA., prolog oleh Fachry Ali, MA, dan epilog oleh Prof. Dr. Abuddin Nata, MA.
Judul buku tersebut terasa seperti ringkasan dari perjalanan batinnya: renungan dan keprihatinan. Renungan lahir dari pengalaman panjang membaca Indonesia; keprihatinan lahir karena Indonesia yang ia pikirkan dan cintai belum juga menemukan keadaan yang menurutnya ideal. Ia tetap gelisah melihat bangsa dan negara masih bergolak, bahkan ketika dirinya sendiri telah berada di penghujung perjalanan.
Ada sesuatu yang terasa sangat simbolik dalam kenyataan bahwa buku itu diluncurkan hanya dua hari sebelum kepergiannya. Seakan-akan Kurniawan meninggalkan sebuah catatan terakhir: bahwa seorang intelektual tidak pernah benar-benar pensiun dari kegelisahan terhadap bangsanya. Selama masih ada persoalan yang belum selesai, selama masyarakat masih membutuhkan pembelaan, dan selama Indonesia masih terus mencari arah, seorang intelektual organik akan selalu merasa terpanggil untuk berpikir dan bersuara.
Hari ini, Kamis, 16 September 2026, Kurniawan Zulkarnain, kami biasa memanggilka Kak Kur, telah berpulang. Ia akan dimakamkan di Pemakaman Jambon, Bogor. Kepergiannya meninggalkan duka bagi keluarga, sahabat, kolega, mahasiswa dan alumni Ciputat yang pernah mengenal dan belajar darinya.
Namun mungkin warisan terbesarnya bukanlah jabatan, organisasi atau proyek-proyek yang pernah dikerjakannya. Warisan itu adalah gagasan dan manusia: gagasan yang ia tuliskan, nilai yang ia perjuangkan, serta generasi muda yang pernah ia bimbing dan ia dorong untuk berpikir lebih jauh tentang Islam, masyarakat dan Indonesia.
Ia pergi ketika kegelisahannya tentang Indonesia belum selesai. Tetapi memang demikianlah nasib seorang intelektual organik: ia tidak ditakdirkan untuk melihat semua persoalan selesai. Ia hanya berkewajiban mewariskan kesadaran kepada generasi berikutnya agar perjuangan berpikir dan memperbaiki keadaan tidak berhenti bersamanya.
Selamat jalan, Bang Kurniawan Zulkarnain. Seorang anak ideologis Masyumi, kader dan ideolog HMI, intelektual organik, pekerja masyarakat, dan mentor yang pintunya selalu terbuka bagi adik-adiknya.
Buku terakhir telah diluncurkan. Renungannya telah ditinggalkan. Kegelisahannya kini menjadi tugas generasi setelahnya.
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadahnya, mengampuni segala kekhilafannya, melapangkan kuburnya, dan menempatkan almarhum di tempat terbaik di sisi-Nya.
Ciputat, 16, September 2026
Veri Muhlis Arifuzzaman
Adik, murid dan sahabat Almarhum
Sport2 minggu agoJadwal BRI Super League 2026/27 Pekan 1 Lengkap
Sport2 minggu agoFerry Paulus Soroti Ranking Indonesia di Asia Turun Gegara Kegagalan Persib dan Dewa United?
Sport2 minggu agoJadwal BRI Super League 2026/2027 Pekan Pertama, 4–6 September 2026
Sport2 minggu agoBali United vs PSS Sleman: Prediksi Skor dan Duel Sengit Pekan Pertama Super League 2026/27
Sport2 minggu agoHasil Bali United vs PSS Sleman 2-1 di Pekan Pertama BRI Super League 2026/2027
Pemerintahan2 minggu agoPilar Saga Ichsan Dorong Desainer Lokal Tembus Tingkat Global
Kabupaten Tangerang2 minggu agoPersita Tangerang Datangkan Dion Wilhelmus Eddy Markx dari Persib Bandung untuk BRI Super League 2026/27
Pemerintahan2 minggu agoBenyamin Davnie: Hingga Akhir Agustus 2026, Cek Kesehatan Gratis di Tangsel Capai 53 Persen









































