Dinas Sosial dan Satpol PP Tangsel Tertibkan Manusia Silver

By on Kamis, 26 Juli 2018

Keberadaan manusia silver di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) belakangan ini marak bermunculan, seperti di Perampatan Gaplek, Pamulang Square, Alam Sutra dan Perempatan Sekolah Santa Ursula BSD. Dinas Sosial dan Satpol PP Kota Tangsel menggiring dua manusia silver untuk dimintai keterangan.

Kasi Operasional dan Pengendalian, Satpol PP Tangsel, Taufik Wahidin menyampaikan pihaknya bersama dengan Dinas Sosial melakukan penertiban terhadap manusia silver yang ada di lampu merah. Awalnya masyarakat melihat mereka mengedepankan seni. Namun belakangan marak di beberapa titik, di samping itu memang mereka menyediakan tempat untuk memperoleh kedermawanan pengguna jalan.

“Sudah banyak laporan dari banyak pihak, tentang keberadaan manusia silver ini. Memang mereka mengedepankan seni, dan sifatnya tidak memaksa. Tapi dikhawatirkan apabila tidak ditertibkan untuk dimintai informasi khawatirnya akan lebih banyak lagi dan meresahkan di kemudian hari,” kata Taufik.

Atas dasar laporan dari banyak masyarakat, pada Selasa, 24 Juli 2018 Satpol PP bersama Dinsos mengamankan dua manusia silver, satu di Perempatan Sekolah Santa Ursula BSD, dan satu di Lampu merah Alam Sutra. Tak hanya mereka, pihaknya juga mengamankan satu gepeng dan satu orang pengamen yang menggunakan badut dipinggir jalan.

“Totalnya ada empat orang kami bawa ke Rumah Singgah, Kademangan Setu. Untuk manusia silver akan dimintai keterangan oleh Dinsos lebih lanjut. Demikian dua lainya gepeng dan pengamen akan mendapatkan binaan, dari Dinsos,” tambah ia.

Sementara itu, Kasi Rehabilitasi Tunas Sosial dan Korban Perdagangan Orang (RSTSKPO) Dinsos Kota Tangsel, Hadian menegaskan akan menggali informasi selengkap mungkin keberadaan manusia silver yang beredar di beberapa titik. Di samping memang mereka mengedepankan seni, ada hal lain yang bakal didalami.

“Keberadaan mereka memiliki dua unsur pertama bidang seni, kami tidak mempersoalkan tapi ada satu hal lagi mereka membawa nama yayasan. Yayasan inilah yang akan kami dalami apakah memiliki izin atau bodong,” katanya.

Ada stiker di kotak yang mereka bawa-bawa bertuliskan Kami Dari Komunitas Silver Seni Manusia Patung “Berawal Dari Menerima Lalu Memberi” Peduli Yayasan Cikal Mandiri, Panti Asuhan BSD Yatim dan Dhuafa Jalan Ciater Raya, Serpong Tangsel. Semestinya jika yayasan sosial, tidak boleh mengecrek di jalanan seperti itu. Alasan yang mendukung yayasan sosial tidak boleh mengecrek di pinggir jalan karena biasanya yayasan mendapatkan dana hibah baik dari pemerintah daerah atau pusat.

“Komunitas manusia seni mereka mengaku di Yayasan Cikal Mandiri di Ciater Serpong ini yang akan kami dalami apakah benar ada yayasan. Jika memang ada akan dicek rekomendasi dan domisili. Jika memang benar ada kami panggil pengurus yayasan. Apabila tidak ada surat izinya akan kami angkut mereka untuk dikembalikan ke daerah asal mereka,” tegas Hadiana.

Sementara waktu, dua manusia silver ini dimintai keterangan di Rumah Singgah beberapa waktu saja selanjutnya bakal dilepaskan kembali hingga memastikan status yayasan. Jika yayasan memang hanya kamuflase maka Dinsos akan mengirimkan surat perintah kepada Satpol PP untuk menertibkan para manusia silver yang kemudian bakal dikirimkan ke daerah masing-masing.

“Apabila tidak diketemukan keberadaan yayasan, kami akan mengirimkan surat kepada Satpol PP untuk penertiban. Selanjutnya kami kirim ke daerah masing-masing mereka berasal,” tambah ia. (rls/fid)