Seiring dengan serah terima manajemen pengelolaan Rumah Sakit Haji Jakarta dari Kementerian Agama kepada UIN Jakarta, Jumat (19/5/2020), Rektor UIN Jakarta Amany Lubis menunjuk dr Andi Wahyunngsih Attas, Sp.An, KIC, MARS sebagai Direktur Utama RS Haji Jakarta. Ia menggantikan direktur utama RS Haji Jakarta sebelumnya, yakni dr Syarief Hasan Luthfi, Sp, KFR.
Penunjukkan mantan Direktur Utama RSUP Fatmawati Jakarta itu sesuai dengan pengalaman yang dimilikinya dalam mengelola beberapa rumah sakit dan berorganisasi. Selain itu penunjukkan Andi Wahyuningsih sudah sesuai prosedur dan berdasarkan kesepakatan pimpinan UIN Jakarta.
“Insya Allah, Ibu Andi Wahyunngsih akan mampu memimpin RS Haji Jakarta yang kini sudah menjadi rumah sakit pendidikan UIN Jakarta,” kata Rektor Amany Lubis di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Jumat (19/5/2020).
Sementara itu, Andi Wahyuningsih mengatakan, dirinya akan berusaha menjadikan RS Haji sebagai rumah sakit yang memberikan pelayanan terbaik bagi pasien, khususnya umat Islam. Ia juga bahkan akan membenahi manajemen RS Haji sehingga pelayanan lebih meningkat sesuai kebutuhan pasien dan rumah sakit pendidikan.
Ia melihat keberadaan RS Haji bernilai plus dan sangat strategis. Sebagai rumah sakit Islam, RS Haji dapat memberikan pendidikan pola hidup sehat bagi setiap muslim dan mencetak dokter-dokter muslim.
“Namun, untuk pembenahan manajemen dan peningkatan layanan, saya akan terus berkoordinasi dengan UIN Jakarta termasuk Kementerian Agama. Saya ingin tahu seperti apa konsepnya nanti dari UIN Jakarta,” katanya.
Andi Wahyuningsih Attas lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 63 tahun silam. Selain pernah menjabat direktur utama RSUP Fatmawati selama enam tahun (2011-2017), ia juga menjadi direktur medik spesialistik pada Direktorat Bina Pelayanan Medik Spesialistik Kementerian Kesehatan RI (2010-2011) dan direktur umum pendidikan dan sumberdaya manusia RSUP Fatmawati (2005-2010).
Dokter Spesialis Anestesiologi itu menempuh pendidikan S1 di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanudin, Makassar (1987). Kemudian mengambil dokter Spesialis Anestesi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (1998) dan Konsultan Intensive Care Universitas Padjajaran, Bandung (2012). Sementara gelar MARS ia peroleh dari Magister Administrasi Rumah Sakit Universitas Indonesia (2013).
Tak hanya itu, ia juga aktif di berbagai organisasi profesi medis, antara lain Ketua Asosiasi Rumah Sakit Vertikal Indonesia (ARVI) selama dua periode (2011-2012, 2012-2015), Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesi dan Terapi Intensif Indonesia (PP PERDATIN) selama dua periode (2013-2016, 2016-2019), Ketua Perhimpunan Dokter Manajemen Medik Indonesia (PDMMI) (2016-sekarang), dan Ketua Asosiasi Rumah Sakit Pendidikan Indonesia (2018-2021).
Jabatan lain di organisasi adalah menjadi Dewan Pembina Kolegium Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (2019-2022), Dewan Pertimbangan Perhimpunan Dokter Intensive Care Indonesia (2019-2022), serta Dewan Pembinaan, Pertimbangan, dan Etika Profesi Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (2019-2022). (rls)
Sport5 hari agoVeda Ega Pratama Crash di Moto3 GP Amerika 2026
Sport5 hari agoGagal Finish, Veda Ega Pratama Terjatuh di Moto3 GP Amerika 2026
Nasional5 hari agoWapres Gibran Rakabuming Raka Tekankan Pentingnya Kerukunan Umat
Sport5 hari agoHasil Moto3 Amerika 2026 Guido Pini Juara, Veda Ega Pratama Gagal Finis
Otomotif5 hari agoMobil Listrik Terbaik di Indonesia 2026: Tesla Model 3, Hyundai Ioniq 5, Hingga ICAR V23
Bisnis5 hari agoASICS Rilis Sepatu Canggih SONICSMASH™ FF
Bisnis4 hari agoHerbalife Family Foundation Salurkan Bantuan Kemanusiaan Rp585 Juta untuk Masyarakat Terdampak Banjir di Sumatra
Pemerintahan4 hari agoApel dan Halalbihalal, Benyamin Davnie Tekankan Kebersihan Lingkungan hingga Efisiensi Anggaran di Tangsel














