Oleh: Ayik Heriansyah
Boleh saja nyinyir kepada “ulama” yang dekat penguasa yang kedekatannya “terbukti” (bukan “terasumsi” atau “teropini”) membuatnya terjerumus kepada perbuatan nista. Memperjual beli agama. Menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Menjadi stempel “halal” terhadap kezaliman penguasa.
Memang, idealnya ulama merangkap sebagai umara dan sebaliknya. Akan tetapi sangat sedikit orang yang mempunyai dua kualitas itu sekaligus. Pemisahan kepemimpinan agama (ulama) dan politik (umara) disebabkan karena tidak semua ulama mempunyai kemampuan sebagai umara, dan tidak semua umara yang memiliki kualitas sebagai ulama. Pemisahan ini bukan berarti penghilangan fungsi ulama dan umara. Bukan juga penegasian satu sama lain.
Hubungan ulama dan penguasa (umara) sangat dinamis. Namun, pada dasarnya, kepentingan ulama terhadap penguasa adalah agar ajaran agama bisa dijalankan selurus-lurusnya oleh penguasa. Mengawal umara supaya menjalani pemerintahan dengan adil dan beradab. Ulama juga berkepentingan menjaga kemaslahatan umat disampaikan oleh penguasa.
Sebagaimana yang dijelaskan Syaikh Ibnu ‘Athaillah dalam kitab Lathaiful Minan, setiap zaman selalu ada ulama waliyullah yang dimuliakan oleh penguasa di zamannya. Para penguasa itu mentaati dan mematuhi ulama waliyullah di zamannya, Ada lagi ulama waliyullah yang hilir mudik di tempat penguasa dan pejabat untuk memenuhi kebutuhan para hamba.
Orang-orang awam nyinyir, “seandainya dia ulama waliyullah tentu tidak hilir mudik di tempat penguasa dunia.” Tentu saja pandangan seperti itu keliru, kata Syaikh Ibnu ‘Athaillah, jangan lihat hilir mudiknya di tempat penguasa, namun lihatlah bagaimana sikapnya. Jika ia datang ke tempat penguasa demi kepentingan para hamba Allah, untuk melenyapkan kesulitan mereka, menjadi penghubung bagi mereka,…serta tetap melakukan amar ma’ruf nahi munkar, kebiasaanya itu tidak menurunkan kehormatannya.
Tentang Syaikh Abul Hasan asy-Syadziliy, Syaikh al-Imam Taqiyuddin Muhammad bin Ali al-Qusyairi mengatakan: “Orang-orang dan para pejabat tidak mengetahui kedudukan Syaikh Abul Hasan asy-Syadziliy karena ia sering hilir mudik di tempat mereka guna membantu para hamba.”
Syaikh Ibnu ‘Athaillah menceritakan di dalam kitab Lathiful Minan. Suatu ketika Syaikh Abul Hasan asy-Syadziliy waktu di Iskandaria, memanggil seorang dokter Yahudi untuk mengobati seseorang. Tetapi dokter Yahudi menolak sebelum mendapat izin dari yang yang berwenang. Ada aturan dari pemerintah, dokter tidak boleh mengobati kecuali ada izin dari kepala dokter di Kairo.
Lalu Syaikh Abul Hasan asy-Syadziliy berangkat ke Kairo meminta izin untuk dokter Yahudi. Setelah mendapat izin, ia langsung pulang tanpa menginap. Lalu memberi surat izin kepadanya. Dokter Yahudi terkesima dan sangat kagum dengan keluhuran akhlak Syaikh Abul Hasan asy-Syadziliy.
Hilir mudik ulama waliyullah di tempat penguasa dalam rangka mengurus kebutuhan umat, hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang berakhlak tinggi. Mereka mengorbankan dan menghinakan dirinya demi meraih ridla Allah. Mereka mengetahui luasnya rahmat Allah. Dengan rahmat Allah mereka memperlakukan hamba Allah.
Sport2 minggu agoHasil Drawing League Cup 2026/2027
Sport2 minggu ago38 Peserta League Cup 2026/27
Sport1 minggu agoHasil Sidang Komdis PSSI Tanggal 1, 7, dan 8 Oktober 2026: Persiraja Didenda Rp75 Juta
Sport1 minggu agoHasil Sidang Komite Disiplin PSSI 23 September 2026: Persebaya dan Garudayaksa Didenda Rp100 Juta
Sport1 minggu agoHasil Sidang Komdis PSSI 24-25 September 2026: Java United FC dan Persib Bandung Didenda
Sport1 minggu agoKlasemen BRI Super League 2026/2027 Usai Pekan ke-4, Persija Jakarta di Puncak
Sport2 minggu agoLeague Cup 2026/2027, Persib Bandung dan Borneo FC Langsung ke Perempat Final
Nasional5 hari agoGrand BAZNAS Awards 2026, UIN Jakarta Raih Penghargaan Lembaga Pendidikan Pendukung Zakat Terbaik











