Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) KH Agus Salim HS mengajak warga NU untuk melestarikan kitab kuning dalam setiap pengajian. Melestarikan dalam artian mempelajari dan mengamalkan. Sebab menurutnya, mengaji harus ada kitabnya, misalnya ngaji tentang fiqih harus pakai kitab fiqih atau ngaji tentang tafsir harus pakai kitab tafsir atau tentang tasawuf harus pakai kitab tasawuf dan/atau sumber kitab basah.
Kitab kuning adalah istilah yang disematkan pada kitab-kitab berbahasa Arab, yang biasa digunakan di banyak pesantren sebagai bahan pelajaran. Materi yang termuat di dalam kitab kuning sangat beragam. Mulai dari masalah aqidah, tata bahasa Arab, ilmu tafsir, ilmu hadis, ilmu ushul fiqih, ilmu fiqih, ilmu sastra bahkan sampai cerita dan hikayat yang tercampur dengan dongeng. Seperti yang biasa dilaksanakan di Pondok Pesantren al Istighotsah.
“Keberadaan kitab-kitab ini sesungguhnya merupakan hasil buah pikir para ulama salafus sholihin. Salah satunya adalah kitab fiqh, yang merupakan hasil kodifikasi dan istimbath hukum yang bersumber dari Alquran dan As-Sunnah,” katanya pada Selasa (21/12) malam.
Mengaji kitab kuning sudah menjadi aktivitas sehari-hari yang dilakukan para santri. Di Indonesia, kitab kuning menjadi acuan dalam kegiatan pengajian di pondok-pondok salaf. Kitab kuning tidak dapat dipelajari dalam waktu instan. Karena kitab ini tidak ada harakatnya, membuat pendalaman kitab berlangsung dalam rentang yang cukup lama.
Menurut Abi Agus Salim, para santri harus memahami isi kitab kuning, dengan belajar tata Bahasa Arab, seperti Ilmu Nahwu, Ilmu Shorrof, sampai Ilmu Mantiq, dan sejumlah cabang ilmu lainnya. Menurut Abi, Ilmu ilmu tersebut masih dasar, dan harus didalami dengan mengikuti ngaji kitab yang dipimpin oleh pengasuh ataupun santri senior lainnya. Umumnya metode ngaji kitab kuning berlangsung dengan cara tatap muka.
“Memelajari kitab kuning tetap penting bagi seorang santri yang tengah menimba ilmu. Sebab dengan memelajari kitab kuning, para santri dapat mengetahui asal usul ilmu yang mereka pelajari,” terang Abi yang juga Pengasuh Yayasan Manbaul Hikmah.
Saat ditanya tim dakwah NU perihal kenapa perlu mempelajari kitab kuning di zaman modern seperti ini, Abi Agus Salim menjawab “Dengan mengetahui asal usul atau seluk-beluk ilmu yang dipelajari (kitab kuning), para santri mendapat manfaat tersendiri, melatih istiqomah, ketekunan belajar, dan tawadhu akan ilmu. Tentu hal itu dapat memperkuat keislaman mereka,” tandas Abi mengakhiri. (dakwahnu)
Sport6 hari agoVeda Ega Pratama Kena Hukuman Long Lap Penalty, Misi Berat Menanti di Moto3 Hungaria 2026
Nasional6 hari agoKementerian UMKM Terus Dorong Penguatan Kemitraan Global bagi Pelaku UMKM Indonesia
Nasional6 hari agoWamen UMKM Helvi Moraza Dorong Bali Jadi Pusat Wellness Dunia
Bisnis5 hari agoIKPP Tangerang 50 Tahun Berkarya, Perkuat Kontribusi Lingkungan dan Sosial melalui Rekam Jejak Penghargaan Berkelanjutan
Komunitas5 hari agoKONGRES 2026 Tandai Era Baru Kebangkitan Musik Reggae Lokal di Tangsel
Nasional5 hari agoPresiden Prabowo Lantik Nanik S Deyang sebagai Kepala BGN, Trenggono dan Agustina Arumsari sebagai Wakil Kepala BGN, serta Said Iqbal sebagai Penasihat Khusus Presiden
Sport5 hari agoShin Tae-yong Resmi Jadi Pelatih Kepala Persija Jakarta untuk Musim 2026/2027
Pendidikan4 hari agoCreative Portfolio Showcase 2026, Terobosan SMK Budi Luhur dalam Penilaian Kompetensi Siswa











