Mudik dan Rekonstruksi Administratif History Keluarga

By: Kamis, 6 Juli 2017

Oleh: Lilik Istiqoriyah
(Pustakawan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Libur lebaran hari mingu lalu terasa berbeda. Meski matahari cerah bersinar, ada sedikit mendung mengantarkan sepi karena kami tak bisa beranjangsana mudik seperti kebiasaan sebelumnya. Libur panjang ini menjadikan Jakarta dan sekitarnya sepi dari rutinitas, sementara melalui medsos dan media massa terpotret kegembiraan dan keguyuban (kebersamaan) yang terasa sangat kental terakumulasi di titik-titik penjuru belahan bumi, khususnya Indonesia. Kampung halaman menjadi jauh lebih ramai, sebagai tumpuan kerinduan semua orang, minggu ini ia merupakan tempat terindah dan terhangat, di mana banyak orang menyandarkan keinginan berjumpa, saling bermaafan dan menyambung silaturahmi.

Biasanya libur lebaran seperti ini banyak dimanfaatkan untuk saling mengunjungi antar sanak saudara. Selain bersilaturahmi dengan keluarga terdekat yang menetap di kampung halaman, anak cucu juga diajak mengunjungi para orang tua hingga keluarga-keluarga yang mungkin belum pernah disambangi sebelumnya karena tinggal di daerah-daerah yang lebih jauh. Kita diperkenalkan dengan mereka yang ternyata adalah bagian dari keluarga besar bapak atau ibu kita, nenek atau kakek kita, baik dari pihak bapak maupun ibu. Sebagian dari kita atau orang tua kita juga harus melakukan upaya lebih keras untuk menelusuri siapa dan di mana pihak-pihak yang diduga adalah bagian dari anggota klan yang belum diketahui dengan pasti profil dan di mana tinggalnya. Sebagian dari mereka yang ingin kita kunjungi hanya bisa kita temukan rekam jejaknya melalui cerita anak keturunannya, suasana rumah yang dulu ditempatinya, foto-foto dokumentasi keluarga atau lebih terbatas lagi pada nisan-nisan di taman makam mereka.

Betapa besar kebahagiaan kita tatkala tahu banyak sekali jumlah sanak family kita masing-masing. Betapa kita bersyukur dan haru bangga menyadari begitu kompleknya khasanah ‘kekayaan’ keluarga besar kita, baik berupa kesuksesan-kesuksesan lahiriah dan utamanya yang bersifat bathiniah, hidup mapan, usaha yang berjalan baik, anak/ cucu/ kemenakan yang shaleh/ shalehah dan berprestasi, paman bibi yang sudah lanjut usia tapi tetap semangat menjaga kesehatan dengan rutinitas olah raga dan olah jiwa dengan aktif membangun masyarakat sekitarnya, dan banyak hal lainnya. Sebagian dari kita ada juga yang baru tahu cerita bahwa kakek atau buyutnya pernah menulis beberapa judul karya berupa buku yang dicetak pada zamannya, atau om yang sudah lama memegang hak paten atas karya temuannya, sepupu jauh yang pernah mendapat beasiswa musim semi di luar negeri, hingga cerita hobi nenek dan ademnya tangan beliau kala memasak, yang sempat membawanya menjadi guest chef di hotel nomor satu setiap akhir tahun di kampung yang sejak dulu jadi destinasi wisata domestik. Tentu terurai cerita pendek ataupun panjang, bagaimana hubungan kita dengan mereka, pengalaman mereka dalam momen kebersamaan di masa lalu antar satu dengan yang lain dan tersimpul pula bagaimana kita dan mereka harus saling menyebut/ memanggil dengan sapaan yang santun sesuai adat istiadat kampung dan suku bangsa kita.

Pengalaman mudik dengan saling mengunjungi ini kemudian menjadi bahan obrolan ringan hingga serius dengan mengingat dan menelusur kembali hubungan antar individu dalam rumpun keluarga besar. Secara naluriah informasi keluarga seperti ini ingin dan harus dilestarikan. Kekuatan ingatan dan masa hidup manusia yang terbatas meniscayakan pentingnya perekaman atau pendokumentasian yang memungkinkan akses secara tepat dan cepat terhadap informasi tersebut. Silsilah sederhana pun terkadang tak mudah difahami dan dihafal dengan cukup baik seiring berjalannya waktu dan minimnya intensitas pertemuan/ pergaulan dengan kerabat yang tinggal berjauhan.

Jika diuraikan di atas kertas maka hasil telusuran atas sejarah keluarga tersebut akan mewujud dalam sebuah bagan silsilah keluarga, suatu bentuk sederhana dari rekaman informasi yang dalam bidang kearsipan disebut sebagai administrative history. Dalam Kamus Istilah Kearsipan administrative history merupakan sebuah sarana temu kembali informasi yang mendeskripsikan: (1) sejarah sebuah badan korporasi atau kelompok badan korporasi yang saling berkaitan, struktur organisasi dan tanggung jawab fungsionalnya, atau (2) puncak hidup dan karier seseorang atau sebuah keluarga. Sejarah administrasi seseorang dikenal juga sebagai catatan biografi (biographical note) ( Sulistyo-Basuki, 2005. h. 16).

Dalam berbagai peradaban budaya dunia, konsep ini sesungguhnya sudah memasyarakat dalam sejarah Arab seperti dikenal istilah Bani Fulan yang bermakna anak cucu keturunan Fulan, sebagai suku bangsa anggota dari bangsa Arab. Klan-klan besar keturunan tokoh masyarakat menghimpun sekelompok anggota masyarakat yang terikat faktor ikatan darah, seiring berkembangnya unsur persaudaraan. Konsep seperti ini dalam beberapa tahun terakhir juga mulai terdengar digunakan secara sederhana dalam masyarakat Indonesia, dengan munculnya penggunaan istilah Bani X, Bani Y dan lain-lain yang menggunakan simbol nama tokoh tetua keluarga.

Di negara barat konsep ini dikenal dan dikembangkan dalam sub disiplin ilmu genealogy atau ilmu tentang silsilah/ keturnan atau gen. Secara sederhana masyarakat di negara maju telah terbiasa menyusun suatu family tree (pohon silsilah keluarga) yang menggambarkan sejarah perkembangan keluarga sebagai sebuah sistem dan dikembangkan dengan beberapa produk family tree yang menunjukkan hubungan antara subsitem rumpun klan mereka. Produknya ini digunakan dengan baik dan menjadi bagian dari ornamen seni dan hiasan dinding rumah. Kita bisa mencoba menyusun model pohon silsilah kelurga seperti ini, baik dengan cara manual atau pun menggunakan aplikasi open source seperti My heritage, Simple Family Tree, atau GRAMPS (Genealogical Research and Analysis Managment Progamming System).

Sebagai sebuah bentuk karya administratif history maka family tree dimaksudkan untuk memberi gambaran struktur dan sejarah tumbuh dan berkembangnya sebuah badan korporasi atau organisasi dalam hal ini sebuah keluarga atau rumpun keluarga yang saling berhubungan secara genetis. Ia juga dapat menunjukkan perjalanan kehidupan atau karier seseorang di dalamnya atau perjalanan panjang muncul dan berkembangnya sebuah keluarga karena ikatan pernikahan dan keturunan (nasab). Bagaimana individu dari sebuah keluarga kemudian berkembang dengan membentuk sebuah keluarga baru melalui ikatan perkawinan dengan individu dari struktur keluarga lainnya. Bagaimana setiap individu antar keluarga kemudian saling berhubungan dalam struktur dan tingkat kekerabatan tertentu dan seterusnya. Family tree dapat menjadi catatan biografi yang melengkapi curriculum vitae, yang memuat perjalanan karir individu, dalam bingkai dokumentasi pengembangan diri.

Pohon silsilah keluarga sebagai sebuah model sederhana dari adminsitratif history dapat dibuat dengan berbagai modifikasi dalam cakupan luas atau sempit. Kita bisa membuat silsilah kelurga dari pihak orang tua kita (kakek dan nenek) hingga tingkatan anak / menantu dan cucu atau cicit jika tidak terlalu banyak jumlah individunya, silsilah yang luas mencakup buyut, orang tua dan paman/ bibi sebagai anak menantu atau lebih luas lagi hingga mencakup anak dan atau cucu termasuk kita dan para sepupu serta anak dan keponakan, atau dibatasi tingkat tertentu misalnya kita sebagai bapak dan ibu hingga anak saja, atau menggambar pohon silsilah dari keluarga kakek nenek pihak ibu dengan anak/ menantunya saja, dan pohon silsilah lainnya dari pihak bapak kita. Family tree dapat dilengkapi dengan foto semasa kanak-kanak, masa muda hingga usia tua, memuat tahun kelahiran dan atau tutup usianya individu (jika sudah tutup usia) atau lebih lengkap memuat tempat dan tanggal/ bulan penting tersebut. Jika memungkinkan diintifikasi dan dimuat pula tanggal/ bulan dan atau tahun terbentuknya sebuah keluarga yakni waktu diikrarkannya akad pernikahan atas setiap pasangan yang termuat dalam pohon tersebut.

Family tree menjadi sarana keluarga untuk mengidentifikasi siapa saja kerabat kita dari garis keturunan tertentu serta tingkat kekerabatannya. Hal ini akan menjadi dasar bagi kita bagaimana seharusnya kita memposisikan diri dan memperlakukan mereka dan anak keturunannya, dalam kaitannya dengan kewajiban sebagai keluarga, setidaknya menurut aturan hukum, agama dan adat istiadat. Hal ini sangat penting mengingat bahwa keluarga dan kerabat dalam ajaran agama misalnya adalah salah satu pihak yang utama untuk mendapatkan hak-haknya berupa kebaikan dan pertolongan dari keluarganya di samping kelompok masyarakat lainnya yang papa. Di sisi lain keluarga merupakan unsur masyarakat yang paling berwenang dalam menjalankan suatu kewajiban tertentu yang memiliki syarat dan kualifikasi kekerabatan seperti dimaksud dalam prasyarat perwalian dan pernikahan, menyangkut hak kewarisan, terkait politik kekuasaan khususnya di ranah sistem kerajaan, penelitian dan pengembangan bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat, pengembangan ilmu pengetahuan pada umumnya, dan sebagainya.

Secara moral kita diajak untuk semakin mencintai dan sekaligus menerima eksistensi diri dan keluarga dengan lebih baik. Apapun adanya keluarga kita, tentu dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya, dengan berbagai kisah perjalanan hidup yang dilaluinya, keluarga adalah asal muasal eksistensi kita di dunia. Prestasi atau pun keterbatasan para pendahulu kita diharapkan dapat menjadi pendorong motivasi untuk terus melanjutkan kehidupan yang lebih baik dan melahirkan buah karya dan generasi yang lebih unggul. Dengan dokumen arsip sejarah sederhana seperti family tree memudahkan kita memperbaiki jalinan silaturahmi pada mereka yang mungkin doa-doanya untuk kebaikan kita dikabulkan hingga kita menjadi seperti adanya hari ini.