Lifestyle
Pahami Bronchospam, Ketika Sulit Bernapas Akibat Otot Saluran Napas Menegang

Penyakit bronchospasm mungkin masih asing di telinga Anda jika dibandingkan dengan bronkitis. Walaupun menyerang bagian saluran pernapasan yang sama, yaitu bronkus. Bronchospasm adalah penyakit yang perlu Anda waspadai karena rentan terjadi pada orang yang memiliki riwayat penyakit asma atau alergi. Agar lebih jelas, simak ulasan mengenai bronchospasm berikut ini.
Bronchospasm adalah penyakit yang menyerang saluran pernapasan
Bronchospams adalah kondisi otot-otot yang melapisi bronkus pada paru-paru jadi mengencang dan menegang. Saat otot ini mengencang, saluran udara akan menyempit, sehingga udara sulit untuk keluar masuk.
Oksigen yang seharusnya masuk ke paru dan karbondioksida yang seharusnya dikeluarkan jadi terhambat dan terbatas jumlahnya. Penyempitan saluran udara tersebut dapat mengurangi jumlah aliran udara sebesar 15 persen atau lebih.
Bronchospasm rentan terjadi pada orang dengan penyakit asma, alergi atau penyakit saluran pernapasan lainnya. Kondisi tersebut biasanya sering menyerang anak-anak dan orang dewasa usia di atas 65 tahun.
Apa penyebab dan faktor risiko bronchospasm?
Penyebab bronchospasm adalah adanya pembengkakan, peradangan, iritasi pada saluran pernapasan. Itulah sebabnya banyak penyakit yang bisa berkembang menjadi bronchospasm, seperti:
- Asma
- Alergi debu, tungau, bulu binatang peliharaan, atau serbuk bunga
- Penyakit paru obstruktif kronis, seperti bronkitis kronis atau emfisema
- Infeksi jamur, virus, atau bakteri pada paru-paru
Sementara itu, faktor lainnya yang dapat membuat seseorang berisiko terkena bronchospasm antara lain:
- Sering terpapar asap dari bahan kimia atau pembakaran
- Memiliki kebiasaan merokok, baik itu dari tembakau maupun rokok elektrik
- Mendapatkan anestesi umum selama operasi yang bisa mengiritasi saluran pernapasan
- Menggunakan obat pengencer darah
Apa saja gejala bronchospasm?
Gejala bronchospasm bervariasi, tergantung tingkat keparahan penyakit, seberapa banyak saluran bronkus yang menyempit atau seberapa banyak aliran udara yang berkurang. Gejala bronchospasm yang umumnya terjadi, meliputi:
- Rasa sesak dan kencang pada dada
- Rasa sakit pada dada bisa menembus ke punggung
- Mengeluarkan suara mengi saat bernapas
- Batuk
- Mudah pusing dan juga lelah
- Sulit untuk bernapas lega seerti orang normal lainnya
Bagaimana bronchospasm dapat didiagnosis?

Untuk mendapatkan diagnosis bronchospasm, Anda sebaiknya berkonsultasi pada dokter spesialis penyakit saluran pernapasan atau ahli paru.
Dokter akan menanyakan gejala yang Anda alami serta mencari tahu riwayat kesehatan Anda, apakah Anda memiliki asma, alergi, atau penyakit saluran pernapasan lainnya atau tidak. Selanjutnya, dokter akan melihat bagaimana Anda bernapas.
Selain itu, Anda perlu mengikuti beberapa tes kesehatan untuk mengukur seberapa baik fungsi paru-paru Anda, seperti:
- Tes bernapas dengan tabung spirometri untuk mengukur kekutan udara saat Anda bernapas
- Tes volume paru untuk mengukur seberapa banyak oksigen dapat ditangkap oleh paru-paru
- Tes kapasitas difusi paru-paru unuk mengetahui kadar hemoglobin dalam darah
- Tes pulse oximetry untuk mengukur tingkat oksigen dalam darah
- Tes eucapnis voluntary hyperventilation, mendiagnosis bronchospasm dengan menghirup campuran oksigen dan karbondioksida untuk merangsang pernapasan sata berolahraga
- Rontgen dan CT Scan untuk mencari tanda atau maslaha lain pada paru-paru
Bagaimana mengatasi bronchospasm?

Walaupun penyakit ini bisa diatasi dengan obat-obatan bentuk tablet, maupun injeksi, yang paling efektif digunakan adalah obat hirup. Biasanya dokter akan meresepkan bronkodilator untuk mengatasi bronchospasm.
Obat ini dapat membantu pasien untuk melebarkan saluran udara yang menyempit sehingga aliran udara akan meningkat. Ada tiga jenis bronkodilator yang umum digunakan, yaitu beta-agonis, antikolinergik, dan teofilin.
Ada dua tipe perawatan bronchospasm dengan bronkodilator, yaitu:
Bronkodilator kerja pendek
Obat ini akan mulai bekerja dalam beberapa menit dan efeknya bisa bertahan hingga beberapa jam. Dokter akan meresepkan perawatan ini, jika pasien mengalami sesak tiba-tiba dan hanya boleh digunakan satu atau dua kali dalam seminggu. Bronkodilator kerja singkat yang umumnya digunakan, meliputi:
- Metaproterenol
- Xopenex
- Maxair
- Ventolin
Bronkodilator kerja panjang
Untuk bronchospasm kronis, dokter akan memberikan perawatan jangka panjang, yaitu kombinasi antara bronkodilator dengan kortikosteroid inhalasi. Penggunaan bronkodilator dilakukan dua atau tiga kali per hari dan pada waktu-waktu yang sudah dijadwalkan oleh dokter. Kombinasi obat dapat membantu menghilangkan gejala tegang pada otot bronkus dengan cepat.
Bronkodilator kerja panjang dan obat kortikosteroid inhalasi yang umum digunakan, meliputi:
- Foradil
- Prednisolon
- Advair
- Flovent
Artikel Berjudul ” Pahami Bronchospam, Ketika Sulit Bernapas Akibat Otot Saluran Napas Menegang ” Bersumber dari Situs Hello Sehat.
Sport5 hari agoVeda Ega Pratama Crash di Moto3 GP Amerika 2026
Sport5 hari agoGagal Finish, Veda Ega Pratama Terjatuh di Moto3 GP Amerika 2026
Sport5 hari agoHasil Moto3 Amerika 2026 Guido Pini Juara, Veda Ega Pratama Gagal Finis
Nasional4 hari agoWapres Gibran Rakabuming Raka Tekankan Pentingnya Kerukunan Umat
Kampus7 hari agoUIN Jakarta Tembus Peringkat 29 Dunia di QS World University Rankings by Subject 2026
Otomotif4 hari agoMobil Listrik Terbaik di Indonesia 2026: Tesla Model 3, Hyundai Ioniq 5, Hingga ICAR V23
Bisnis4 hari agoASICS Rilis Sepatu Canggih SONICSMASH™ FF
Bisnis3 hari agoHerbalife Family Foundation Salurkan Bantuan Kemanusiaan Rp585 Juta untuk Masyarakat Terdampak Banjir di Sumatra

























