Perbanyaklah Mengingat Pemutus Kelezatan

By on Selasa, 3 Desember 2019
Perbanyaklah Mengingat Pemutus Kelezatan

Perbanyaklah Mengingat Pemutus Kelezatan

(H. Azharul Fuad Mahfudh | Humas Kemenag Tangsel)

 

Beberapa tahun lalu saya ta’ziah ke kediaman seorang teman saat ayah beliau berpulang. Di sisi jenazah yang bersih dan tenang, sambil berdoa saya sempat mengedarkan pandangan. Objek pandangan saya terhenti, setidaknya diam-diam, kepada siapa lagi kalau bukan kepada teman saya itu.

Saya ingin mengerti, reaksi seperti apakah dari teman saya yang terkenal lantang itu saat ayahnya tiada. Kesan saya, beliau saat itu mencoba tampil rileks, tetapi saya menduga ia tetaplah seorang anak yang sedang kehilangan ayah.

Setiap kita memiliki ayah, dan pada akhirnya saat yang dialami teman saya itu akan juga kita jelang. Walaupun saat itu pasti datang, kita sungguh belum memiliki gambaran, tepatnya kesiapan, kalau saat itu benar-benar datang.

Saya anak sulung, punya lima adik, perempuan semua, cantik-cantik dan insya Allah semuanya sholehah. Hubungan kami sangat dekat dan harmonis sebagai kakak beradik. Kami dididik oleh orang tua untuk tidak berkata “Elo Gw” saat bicara antar kakak-adik. Yang muda memanggil “Teteh” kepada kakaknya. Dan saya dipanggil “Kakak” oleh mereka.

Walaupun sudah berkeluarga dan beranak pinak, tapi kami tetap manja kepada ayah, apalagi kepada ibu. Saya merasa kecintaan ayah, juga kebanggannya kepada anak-anaknya, besar sekali sejak kecil. Saya merasakan betul soal ini. Jika ada tetangga menyebut nama saya, hanya dengan mendengar nama itu saja, ekspresi beliau biasanya berubah. Ayah biasanya terdiam. Tetapi saya tahu, dadanya gemuruh oleh rasa yang dalam.

Ayah saya sangat sehat dan jarang sakit. Seingat saya yang paling parah adalah saat dirawat di RS karena typus. Setelah pensiun, ayah rajin menanam pohon hias di sepetak taman depan rumah. Hobi istri beliau, yaitu ibu saya, beliau lakukan dengan sepenuh hati. Mengingat ibu sudah tidak mampu lagi melakukan hobinya itu sendiri pasca operasi tulang belakang. Kini taman itu merimbun dengan aneka pepohonan.

Ayah saya sangat demokratis, tidak pernah sekalipun memaksa anak-anaknya dalam hal apapun. Diskusi dan mendengar pendapat anak adalah cara beliau dalam mendidik kami. Sebagai seorang pendidik, beliau adalah guru dan teladan kami.

Teringat saat ayah khutbah Idul Adha. Saat itu ayah menceritakan dialog antara Nabi Ibrahim as dan puteranya nabi Ismail as. Ketika Nabi Ibrahim as diperintah oleh Allah SWT untuk menyembelih puteranya, Nabi Ibrahim tidak langsung menyembelihnya, tapi beliau berdialog dengan puteranya yang kurang lebih:

“Wahai anakku, semalam ayah bermimpi menyembelihmu. Coba fikirkan bagaimana pendapatmu, wahai anakku?” (QS. As-Shaaffaat/37: 102)

Sungguh dialog yang sangat indah dan mengandung pelajaran, bahkan dalam hal melakukan perintah Allah pun harus ada dialog.

Satu hal lain yang patut diteladani dari ayah saya adalah beliau selalu konsisten menjenguk ibunya (yaitu nenek saya) yang tinggal di Ciomas Banten setiap bulan. Hari Sabtu dan Ahad pertama tiap bulan adalah waktu yang tidak bisa diganggu bahkan oleh presiden sekalipun. Karena waktu tersebut beliau khususkan untuk menjenguk ibunya, bahkan setelah ibunya wafat.

Ayah sangat menyukai kesederhanaan. Sepengetahuan saya, tidak satupun barang-barang yang beliau kenakan adalah barang mewah. Seringkali barang mewah yang kebetulan dikasih oleh orang, justru turun kepada anak sulungnya, yaitu saya.

Kini, Ayah telah berpulang. Dan saya merasakan apa yang dirasakan oleh teman saya beberapa tahun lalu. Sedih memang, tapi kami harus ikhlas menerima takdir-Nya. Allah lebih sayang kepada ayah ketimbang kami anak-anaknya.

“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan”, demikian sabda Nabi SAW.

Mengingat kematian menjadikan seseorang semakin mempersiapkan diri untuk berjumpa dengan Allah. Mengingat kematian membuat seseorang tidak berlaku zholim. Mengingat kematian akan membuat seseorang memperbaiki hidupnya.

Sungguh kematian dari orang sekeliling kita menjadi pengingat dan penyadar bahwa kita pun suatu hari akan sama dengannya, akan kembali kepada-Nya. Dunia akan kita tinggalkan, dunia hanya sebagai lahan mencari bekal, dan akhiratlah tempat akhir kita.

Ya Rabb, wafatkan kami pada waktunya nanti dalam keadaan husnul khatimah, Engkau ridho kepada kami. Aamiin.