Lifestyle
Racial Trauma: Pengertian, Gejala, dan Penanganan

Perilaku rasis dapat menimbulkan stres berat pada orang yang mengalaminya. Ini adalah kondisi yang dikenal sebagai racial trauma. Pada kelompok masyarakat yang masih lekat dengan rasisme dan diskriminasi, racial trauma menjadi salah satu masalah utama yang perlu mendapatkan perhatian lebih.
Berikut ulasan selengkapnya.
Apa itu racial trauma?

Racial trauma merupakan reaksi fisik dan emosional yang dialami seseorang setelah menghadapi perilaku rasis dalam jangka panjang. Kondisi ini dikenal pula sebagai stres traumatis berdasar-ras, sebab akar penyebabnya adalah diskriminasi terhadap ras.
Seiring perkembangan zaman, diskriminasi terhadap ras kini tidak lagi dilakukan secara terang-terangan. Namun, masyarakat dengan ciri ras tertentu tetap rentan mengalami trauma akibat perilaku rasis tersirat yang berlangsung selama bertahun-tahun.
Rasisme tersirat mungkin berbentuk diskriminasi di tempat kerja, komentar negatif dan ejekan, stigma, atau sikap lainnya yang menyakitkan hati. Perilaku ini memunculkan kelelahan psikis dan emosional yang mirip seperti saat Anda menghadapi stres.
Semua rasa lelah yang timbul dari melihat, mendengar, dan mengalami sendiri rasisme adalah pemicu utama racial trauma. Jika tidak ditangani, kondisi ini bisa mengakibatkan stres berat dan berbagai gangguan psikologis.
Tanda-tanda dan dampak racial trauma


Korban racial trauma umumnya mengalami tanda-tanda yang mirip dengan gangguan stres pascatrauma (PTSD). Keduanya memang disebabkan oleh faktor yang berbeda, tetapi reaksi yang ditimbulkannya tetap serupa.
Mereka mungkin jadi lebih waspada, mudah marah, serta menghindari orang, tempat, ataupun kegiatan yang memicu trauma pada dirinya. Banyak pula yang merasa minder serta menarik diri dari pergaulan karena takut mendapat diskriminasi.
Inilah salah satu alasan mengapa masyarakat dari ras dan etnis tertentu lebih banyak mengalami gangguan stres pascatrauma dibandingkan orang-orang berkulit putih. Rasisme yang mereka hadapi seumur hidup membuat mereka terkurung dalam stres berkepanjangan.
Tidak hanya itu, racial trauma juga berhubungan erat dengan gangguan kecemasan, depresi, keinginan untuk bunuh diri, dan beberapa masalah fisik. Tingkat keparahannya berbeda pada setiap orang, tapi dampaknya jelas merugikan berbagai aspek.
Menangani trauma akibat rasisme


Racial trauma adalah masalah yang rumit. Pasalnya, rasisme masih amat kental dalam beberapa kelompok masyarakat. Korbannya mungkin harus menghadapi perlakuan yang sama selama menjalani perawatan untuk menangani traumanya.
Selain itu, psikolog atau psikiater yang belum pernah menangani kasus stres akibat ras mungkin butuh waktu ekstra untuk menyesuaikan diri. Hal ini tentunya menjadi kendala, baik bagi terapis maupun orang yang mengalami trauma.
Meski demikian, terapis mungkin dapat membantu korban racial trauma dengan metode yang sama seperti penanganan PTSD. Penanganan bertujuan agar korban bisa memperoleh kembali kontrol atas hidupnya.
Sebelum memulai terapi, terapis akan melakukan penilaian lengkap untuk menentukan penanganan yang sesuai. Jika trauma tergolong ringan atau berlangsung kurang dari empat minggu, terapis akan memantau kondisi Anda dahulu selama satu bulan.
Apabila gejala tidak membaik atau bertambah parah, barulah terapis memberikan terapi dan/atau obat-obatan. Jenis terapi yang digunakan antara lain:
- Terapi kognitif, akan membantu Anda mengenali pikiran yang memicu stres. Misalnya, pikiran negatif bahwa orang-orang di sekitar Anda berniat jahat.
- Terapi paparan, bertujuan agar Anda dapat menghadapi situasi dan ingatan yang memicu trauma dalam kondisi yang aman.
- Terapi desensitisasi dan pemrosesan ulang gerak mata, untuk membantu Anda menghadapi ingatan traumatis dan mengubah reaksi Anda.
Apa Penyebab Rasisme yang Masih Terjadi di Sekitar Kita?
Selama terapi, psikolog atau psikiater akan membantu Anda berlatih mengelola stres sehingga Anda mampu menghadapi stres sehari-hari dengan lebih baik. Anda mungkin akan menjalani terapi seorang diri, bersama kelompok, atau keduanya sekaligus.
Psikiater juga dapat meresepkan obat bila terapi tidak berhasil. Namun, konsumsi obat harus betul-betul diawasi untuk menghindari kecanduan. Obat yang digunakan untuk mengatasi racial trauma antara lain antidepresan dan obat untuk gangguan kecemasan.
Diskriminasi di tempat kerja, pengasingan dari lingkungan rumah, hingga bullying terkait perbedaan ras adalah beberapa penyebab umum racial trauma. Kondisi ini membuat para korban rasisme rentan menderita berbagai gangguan psikologis.
Jika Anda mengalami gejala trauma akibat perilaku rasisme, Anda tidak sendirian dan belum terlambat untuk mencari bantuan profesional. Coba konsultasikan kondisi Anda pada terapis untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Kabartangsel.com
Bisnis5 hari agoWarnaGo Resmi Hadir di Tangerang, Usung Konsep One-Stop Solution Cat Premium
Banten5 hari agoPeringati Milad ke-6 dan HPN 2026, JMSI Banten Gelar Aksi Sosial dan Lingkungan
Jabodetabek4 hari agoIDWX Hadirkan Jam Tangan Tag Heuer Original untuk Pecinta Jam Mewah di Jakarta
Bisnis4 hari agoAle-Ale Rasa Buah Nanas: Juicy Nanasnya, Segarnya Juara
Pemerintahan4 hari agoBenyamin Davnie Pastikan Tumpukan Sampah di Tangsel Sudah Teratasi
Jabodetabek4 hari agoBedah Akuntabilitas BUMN Pasca Danantara, Akademisi UIN Jakarta Fathudin Kalimas Raih Doktor di UI
Pemerintahan4 hari agoPemkot Tangsel Gandeng KPK Perkuat Pencegahan Korupsi Lewat Program Keluarga Berintegritas
Pemerintahan4 hari agoPilar Saga Ichsan Hadiri Puncak HPN 2026 di Banten: Perkuat Peran Pers Hadapi Tantangan Era Digital dan AI



























