Pernah ada fase di mana orang NU tak berani mengaku NU. Jika berani mengaku NU, maka mereka yang sedang jadi pegawai negeri sipil (PNS) harus siap karirnya akan buntu, tak berkembang.
Jika berani mengaku NU atau ketahuan NU, maka mereka yang sedang mengajukan beasiswa studi ke luar negeri harus siap menghadapi syarat tambahan yang sulit dilaksanakan.
Jaman dulu rasanya sulit bagi orang NU hanya untuk menjadi kepala KUA dan kepala sekolah, apalagi menjabat eselon satu dan dua. Lebih-lebih untuk menjadi Ketua MUI dan Ketua PPP; sungguh tak mudah.
Tapi itu dulu. Sekarang dalam usianya yang ke 95, orang NU tak perlu menyembuyikan ke-NU-annya. Termasuk Anak PMII tak perlu menutupi ke-PMII-annya.
Sekiranya sebagian warga NU hari ini berkuasa, maka mereka tak perlu menyontoh kesalahan para pemimpin dan pejabat jaman dulu. Biarlah sektarianisme dan primordialisme itu terkubur bersama masa lalu. Mari kita menyongsong masa depan dengan kebersaman membangun peradaban.
Senin, 1 Februari 2021
Salam,
Abdul Moqsith Ghazali
Pemerintahan6 hari agoPilar Saga Ichsan: Progres Venue Sepatu Roda Ciater Permai Capai 80 Persen, Siap untuk Porprov Banten 2026
Sport4 hari agoJadwal BRI Super League 2026/27 Pekan ke-8, 30 Oktober–1 November
Pemerintahan6 hari agoHari Sumpah Pemuda ke-98, Wali Kota Benyamin Davnie Ajak Pemuda Tanamkan Semangat Patriotik, Gigih, dan Berempati
Banten5 hari agoUntirta Dorong Pengembangan Produk Lokal Banten untuk Ketahanan Pangan Nasional
Sport4 hari agoJadwal BRI Super League 2026/27 Hari Ini, Jumat 30 Oktober 2026: Java United FC vs Bhayangkara FC dan Persebaya vs Persijap
Nasional5 hari agoKonser Andrea Bocelli Digelar 31 Oktober di Borobudur dan 3 November 2026 di JIExpo Kemayoran
Sport6 hari agoHasil Persib Bandung vs Melbourne Victory 2-0 di ACL Two, Balsa Sekulic Cetak Brace
Nasional4 hari agoMA Kabulkan Kasasi Nomor 742 K/TUN/2026, Suket Penyetaraan Ijazah SMA Gibran Rakabuming Raka Dinyatakan Tidak Sah












