Tangsel Potensial Kembangkan Wisata Meeting, Incentive, Conference and Exhibition (MICE)

By: Selasa, 6 November 2012

Pemerintah Kota Tangerang Selatan melalui Kantor Kebudayaan dan Pariwisata terus berjuang agar potensi budaya dan pariwisata yang ada di Kota Tangsel maju dan berkembang. Untuk itu, sejumlah langkah pun dilakukan. Salah satunya membangun sinergi dengan stakeholder yang ada. Untuk mendukung seluruh kegiatan tersebut, kantor Budaya dan Pariwisata didukung dengan kucuran anggaran senilai Rp 1,097 miliar untuk 7 program serta 17 kegiatan.

Kepala  Kantor Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tangsel-Eddy Wahyu mengatakan, di era seperti sekarang ini, membangun sinergi dengan banyak pihak dalam mengembangkan budaya dan pariwisata mutlak dilakukan. Sebab dengan begitu ada akan ada pembagian peran serta tugas untuk menuntaskan keinginan tersebut.

Sehingga dengan adanya pembagian peran tersebut juga, akan saling mengisi dan melengkapi juga kegiatan yang akan dilakukan ke depan. Sehingga dalam jangka panjang, keinginan untuk tetap menjaga adat-istiadat serta mengembangkan budaya lokal dan kontemporer di Kota Tangsel berhasil sukses.

“Tidak mungkin Kantor Budpar bisa berjalan sendiri. Sinergi dan kerja sama dengan banyak pihak harus dilakukan jika ingin potensi budaya dan pariwisata di Tangsel makin dikenal oleh daerah lain,” kata Eddy Wahyu.

Kota Tangerang Selatan (Tangsel), sambungnya,  dinilai sangat potensial untuk pengembangan wisata Meeting, Incentive, Conference and Exhibition (MICE). Pasalnya, di Tangsel terdapat cukup banyak perusahaan asing, sekolah asing hingga warga asingnya sendiri. “Di Tangsel banyak orang asingnya sehingga saya berharap Tangsel dapat mengembangkan wisata MICE,”ungkap Kepala Kantor Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), Eddy Wahyu, kemarin.

Mengingat potensi yang ada di Tangsel tersebut, Eddy Wahyu mengatakan dirinya terobsesi untuk mewujudkan wisata MICE di Kota Tangsel. namun untuk merealisasikannya diperlukan sarana dan prasarana yang mendukung, seperti fasilitas gedung pertemuan yang bertaraf internasional. “Saat ini memang hotel berbintang ataupun gedung pertemuan yang bertaraf internasional masih sangat minim” imbuhnya.

Eddy menambahkan, jika wisata MICE benar-benar dapat terealisasi di Tangsel, maka akan mmberikan banyak dampak positif bagi kota pemekaran dari Kabupaten Tangerang itu. Selain memberikan konstribusi besar dalam peningkatan PAD, juga dapat membuat Tangsel dikenal dimata dunia internasional.

Lebih lanjut Eddy menambahkan, saat ini pihaknya tengah mengajukan Rancangan Peraturan Daerah atau RAPERDA dan Rencana Induk Kajian Pariwisata. Kedua rancangan tersebut akan mengatur mengenai pariwisata di Tangsel termasuk MICE ini. “Saat ini sedang dibahas mudah-mudahan dalam tahun ini beres” ucapnya.

Dari Budaya Tradisional hingga Wisata Kuliner

Eddy Wahyu mengutarakan, potensi kebudayaan dan pariwisata di Kota Tangsel sebetulnya sangat banyak. Hanya saja dia mengakui, pemanfaatannya belum dilakukan secara maksimal. Untuk kebudayaan misalnya, Kota Tangsel hampir memiliki semua, baik yang bersifat tradisional maupun kontemporer. Untuk yang tradisional misalnya Lenong Betawi, Tari Gambang Kromong, Palang Pintu, dan Onde-onde. Bahkan untuk Lenong Betawi, sudah dipentaskan hingga keliling Eropa dan Amerika.

Begitu juga  untuk potensi pariwisata. Yang paling mengagumkan tentu saja potensi wisata kuliner. Sudah menjadi buah bibir, bahkan hingga ke daerah lain, kalau Kota Tangsel kaya dengan restoran dan rumah makan yang sangat beragam. Jenis menu yang ditawarkan pun bermacam-macam mulai menu dengan cita rasa Nusantara hingga mancanegara.“Bisa dibilang mau makan jenis apa saja di Tangsel pasti ada,” kata Eddy Wahyu.

Masih terkait lokasi wisata, Kota Tangsel juga banyak memiliki kawasan wisata baik alam, wisata buatan, wisata sejarah, hingga wisata religi. Yang sering dikenal misalnya lokasi wisata Tanah Tingal di Ciputat yang menawarkan keasrian pemandangan alam.

Kemudian wisata kolam renang buatan yang terbesar di Asia Tenggara yang terdapat di kawasan Serpong. Selain itu ada juga wisata ziarah di Kramat Tajug yang tidak hanya dikunjungi oleh masyarakat Banten, tapi juga pelosok lain di Indonesia. “Termasuk Monumen Lengkong dan Taman Makam Pahlawan Seribu yang masuk kategori wisata ziarah,” imbuh Eddy Wahyu

Antara Dodol dan Tahu Serpong

Lantas bagaimana soal kerajinan dan produk khas? Untuk yang ini pun, Edy Wahyu menegaskan kalau Kota Tangsel tidak kalah dengan daerah lain. Beragam produk khas Tangsel banyak bertebaran di sejumlah kecamatan. Beberapa yang sudah sangat dikenal misalnya batik khas Tangsel.

Untuk produk ini bahkan sudah dikenal hingga ke mancanegara. Selain itu, ada juga dodol khas Cilenggang yang ketenarannya menyamai dodol Betawi.

Produk lainnya yang tak kalah khas adalah tahu asal Serpong. Sesuai dengan namanya, produk tahu ini banyak dijumpai di wilayah Serpong. Kelebihan dari tahu yang sudah diproduksi sejak sebelum tahun 1940 ini adalah memiliki rasa yang khas, dan bentuknya agak bulat.

Selain itu, warna kuningnya pun terlihat lebih segar karena menggunakan pewarna kunyit. Istimewanya, tahu Serpong juga bisa dimakan mentah atau digoreng tanpa minyak karena tanpa menggunakan bahan pengawet. “Ada juga produski kacang sangrai khas Tangsel. Sampai saat ini produk kacang tanah ini masih tetap eksis,” tandas Eddy.

Terhadap segala potensi yang dimiliki Kota Tangsel itu, kata Eddy adalah berkah sekaligus peluang yang harus dimaksimalkan. Kantor Budpar selaku leading sector pun sudah melakukan program.

Selain melalui pembinaan kepada pelaku budaya dan pariwisata, secara kontinyu Kantor Budpar juga mengikuti pameran baik di Provinsi Banten maupun di daerah lain. Yang terbaru adalah keikutsertaan Kota Tangsel dalam pameran di Manado yang akan diselenggarakan Asosiasi Pemerintahan Kota/Kabupaten Indonesia (APEKSI) pada bulan April dan Mei mendatang.

Sementara dari sisi kemudahan regulasi, Kota Tangsel juga tengah mengupayakan agar proses pengurusan Tanda Daftar Usaha Perdagangan (TUDP) yang berhubungan dengan wisata dan budaya cukup dilayani oleh Kantor Budpar.

“Saat ini kami hanya merekomendasi, sementara pengurusan tetap di Kantor BP2T. Mudah-mudahan dalam waktu dekat kebijakan TDUP bisa segera dilakukan di Kantor Budpar, hal ini untuk lebih mengefisienkan proses pengurusan,” tandas Eddy Wahyu.(TAPOS/kt)


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *