Di era digital saat ini masyarakat dapat menyampaikan dan mengakses informasi secara langsung melalui berbagai platform. Staf Khusus (Stafsus) Presiden Bidang Komunikasi/Juru Bicara (Jubir) Presiden Fadjroel Rachman menyampaikan, di era digital dan demokrasi ini yang menjadi tantangan adalah misinformasi dan disinformasi, bukan penyampaian kritik.
Hal tersebut disampaikannya dalam pada Webinar Jejaring Alumni Luar Negeri (JALAR) Nusantara dengan tema ““Kritik atau Hoaks di Era Demokrasi”, Minggu (07/03/2021) malam.
“Tantangan utama yang kita hadapi adalah bukan kritik, yang kita hadapi pada hari ini sebenarnya adalah misinformasi dan disinformasi. Ini yang menjadi problem ini yaitu misinformasi dan disinformasi, yang kadang-kadang misinformasi dan disinformasi ini seolah-olah kritik,” ujarnya.
Fadjroel menegaskan, penyampaian kritik adalah jantung demokrasi dan juga dilindungi oleh konstitusi. “Basis kritik di dalam kehidupan berbangsa kita adalah demokrasi berdasarkan konstitusional, yaitu Pasal 28 [Undang-Undang Dasar Tahun 1945],” tuturnya.
Kritik, imbuh Fadjroel, juga merupakan syarat untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan kemajuan suatu bangsa serta keberhasilan sebuah kebijakan atau program. Untuk itu, imbuhnya, pemerintah mengharapkan masukan dari berbagai pihak termasuk JALAR Nusantara dalam perjalanan proses pembangunan di Indonesia ke depan.
Tak hanya itu, Jubir Presiden juga meminta JALAR Nusantara untuk berperan dalam upaya peningkatan literasi digital kepada masyarakat Indonesia.
“Ini penting ini buat teman-teman yang diaspora JALAR untuk menyampaikan soal kewarasan digital, yaitu bagaimana literasi digital yang sebaik-baiknya penggunaannya, menggunakannya agar produktif,” tuturnya.
Kemudian, ujar Fadjroel, diaspora JALAR juga dapat berperan di garis terdepan untuk membangun cara berpikir kritis atau critical thinking dan menyampaikannya melalui platform digital.
“Yang ketiga, yaitu mengajarkan kepada mereka [masyarakat] tentang the sound of evidence atau bukti. Jadi ketika menyampaikan sesuatu harus jelas ini berdasarkan riset yang mana, diambil dari jurnal mana, ini datanya atau survei atau polling-nya benar atau tidak misalnya seperti itu,” ujarnya.
Terakhir, Fadjroel meminta JALAR Nusantara untuk mengedukasi masyarakat untuk membedakan antara fakta dan opini.
“Penting diajarkan kepada masyarakat apa bedanya fakta dengan opini. Yang kebanyakan disinfomasi dan misinformasi itu adalah opini, bukan fakta,” tandasnya.
JALAR Nusantara adalah sebuah komunitas alumni pelajar Indonesia yang telah kembali ke Tanah Air yang dibentuk pada tahun 2018. Sebanyak sekitar 1.000 orang tercatat sebagai anggota organisasi ini. JALAR berfungsi sebagai platform yang menghubungkan simpul alumni diaspora dan menguatkan kontribusi para alumni dari luar negeri melalui berbagai kegiatan di masyarakat. (sk/fid)
Kampus7 hari agoIKA FISIP UIN Jakarta 2025–2029 Resmi Dilantik, Perkuat Peran Alumni sebagai Kekuatan Intelektual
Pemerintahan7 hari agoDWP Bersama DLH Tangsel Berbagi Bersama Penyapu Jalanan
Nasional1 hari agoWINGS Food Hadirkan ‘Pondok Rehat’ di Jalur Mudik 2026, Sediakan Fasilitas Lengkap untuk Pemudik
Pemerintahan6 hari agoDSDABMBK Tangsel Siap Hadapi Libur Lebaran 2026 dengan Infrastruktur Optimal
Bisnis6 hari agoQurban Asyik Luncurkan Aplikasi Versi Terbaru, Kurban Kini Lebih Mudah
Bisnis1 hari agoTempo Scan Berangkatkan 3.000 Pemudik lewat Program “Mudik Sepenuh Hati 2026”
Bisnis1 hari agoSarihusada Raih Penghargaan Indonesia Best Companies in HSE Implementation 2026 Kategori Manufaktur
Bisnis1 hari agoAriston Hadirkan Kehangatan Ramadan Lewat Program CSR “Caring Brings Comfort” di Yayasan Al Andalusia











