Nasional
Tsunami Selat Sunda Dipastikan Akibat Longsoran Anak Krakatau

Kabartangsel.com, JAKARTA – Tsunami yang terjadi di Selat Sunda pada Sabtu (22/12) dipastikan karena dipicu oleh erupsi Anak Gunung Krakatau. Erupsi menjadi pemicu gempa vulkanik terjadinya keruntuhan lereng kepundan atau kawah gunung.
“Melanjutkan apa yang sudah dikoordinasikan Kemenko Maritim bersama BMKG, LIPI, dan lembaga lain kami mengkonfirmasikan benar apa yang kami sampaikan bahwa tsunami ini adalah karena erupsi vulkanik (Gunung Anak Krakatau),” ujar Kepala BMKG Dwikorita Karnawati di HJakarta, Senin (24/12).
Menurutnya, runtuhnya kepundan tersebut lah yang mengakibatkan longsor bawah laut hingga menimbulkan tsunami. Berdasarkan hasil analisis, longsoran itu setara dengan kekuatan gempa magnitudo 3,4. Kemudian, luas area yang runtuh mencapai 64 hektar.
Dwi mengaku tidak bisa memberikan peringatan dini tsunami karena penyebabnya adalah aktivitas vulkanik. Sementara BMKG hanya mampu mendeteksi potensi tsunami menggunakan sensor-sensor gempa tektonik.
Alat pendeteksi tsunami akibat aktivitas vulkanik tersebut dimiliki oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) di bawah Badan Geologi Kementerian ESDM.
Di samping tak memiliki alatnya, BMKG juga terkendala Buoy yang banyak tidak berfungsi di perairan Indonesia. Alat milik Badan Pengembangan dan Penerapan Teknologi (BPPT) itu rusak sejak 2007 silam.
Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Kemenko Maritim Ridwan Djamaluddin mengatakan, pemerintah sempat memasang sebanyak 10-12 buoy di perairan Indonesia. Belum lama terpasang, buoy mengalami kendala operasional, bahkan berupa pengerusakan.
“Peralatan yang digunakan tidak semua dirancang sesuai kondisi laut Indonesia. Misalnya di kita lebih cepat karatan rantainya, dan lain-lain. Ada kerusakan-kerusakan. Ada beberapa buoy yang kami temukan rusak dan dirusak. Hal-hal itulah yang kemudian menyebabkan akhirnya buoy kita tidak difungsikan lagi,” tutur Ridwan pada kesempatan yang sama.
BMKG mengandalkan seismometer untuk mengetahui informasi seputar tsunami. Sementara untuk menggantikan buoy, pemerintah akan beralih kepada kabel yang ditanamkan di bawah laut.
“Sekarang kita bergeser menggunakan teknologi yang lebih sulit untuk dirusak, menggunakan kabel bawah laut. Jadi tidak lagi buoy yang terapung di atas laut,” paparnya. (yes/JPC)
Pemerintahan5 hari agoPra-Musrenbang Tematik, Tangsel Matangkan Strategi Penurunan Stunting
Pemerintahan5 hari agoLibatkan 134 Organisasi Kepemudaan di Pra Musrenbang, Pemkot Tangsel Dorong Pemuda Jadi Motor Pembangunan
Nasional5 hari agoWapres Gibran Rakabuming Raka Kunjungi NTT dan Sulut
Bisnis5 hari agoDaikin Perpanjang Garansi AC hingga 5 Tahun, Berlaku untuk Nusantara Prestige dan SkyA
Sport6 hari agoPERSIB Bandung Kalahkan Semen Padang 2-0, Ramon Tanque Borong Gol dan Teja Paku Alam Catat Clean Sheet ke-16
Pemerintahan5 hari agoPemkot Tangsel Ajak Warga Sukseskan ORI Campak Serentak, Sasar 109 Ribu Anak
Bisnis5 hari agoDari Tari Saman hingga Barongsai, Pesta Budaya Rakyat Paramount Gading Serpong Pikat Ribuan Pengunjung
Bisnis5 hari agoTownship Jadi Tren Hunian Modern, Solusi Hidup Praktis di Tengah Mobilitas Tinggi






















