Lifestyle
5 Tipe Orang yang Rentan Kena Gangguan Pola Makan; Anda Termasuk?

Gangguan pola makan adalah kondisi serius yang berkaitan dengan perilaku makan. Kondisi tersebut terus memberikan dampak negatif terhadap bentuk tubuh, fungsi tubuh, dan kondisi emosional. Gangguan pola makan yang paling umum adalah anoreksia nervosa, bulimia nervosa, dan binge eating. Ketiga gangguan pola makan ini bisa terjadi pada siapa pun. Namun, ada beberapa kelompok yang memang memiliki risiko paling tinggi mengalami gangguan ini. Siapa saja yang berisiko tinggi mengalami gangguan pola makan? Simak di bawah ini.
1. Remaja
Usia puncak timbulnya gangguan makan adalah antara usia 12-25 tahun ini. Rata-rata yang mengalami gangguan pola makan yakni remaja usia 18 tahun.
Remaja adalah masa pembentukan identitas, sehingga mereka cenderung mencoba-coba hal baru, termasuk pola makan. Ditambah lagi, banyaknya pengaruh dari teman seusianya dengan mudah bisa memengaruhi cara berpikir seorang remaja, termasuk berpikir negatif tentang tubuhnya.
Maka itu, waspadai beberapa gejala awal apakah anak remaja Anda mengalami gangguan pola makan. Gejalanya antara lain:
- Sering tidak mau makan (dengan sengaja, bukan karena lupa atau terlalu sibuk)
- Terlalu sering menimbang berat badan
- Perubahan berat badannya drastis
- Penilaian yang selalu buruk terhadap tubuhnya sendiri
2. Perempuan

Gangguan pola makan sebenarnya bisa terjadi pada laki-laki maupun perempuan, tetapi nyatanya perempuan memiliki risiko lebih tinggi karena banyak faktor yang menekan. Maka dari itu, tidak heran kalau kasus gangguan makan ini selalu didominasi oleh perempuan.
Penelitian dalam Jurnal Cerebral Cortex menunjukan bahwa aktivitas otak wanita lebih rentan terhadap citra tubuh yang negatif dibandingkan laki-laki. Oleh karena itu, wanita lebih susah menerima diri apa adanya.
Ini bisa jadi karena adanya tekanan sosial pada wanita. Ada tuntutan dalam sebuah masyarakat dengan nilai patriarki bahwa bentuk tubuh tertentu lebih baik dibandingkan bentuk lainnya.
3. Atlet

Orang-orang yang terlibat dalam olahraga kompetisi seperti atlet senam, atletik, dayung, dan olahraga lainnya yang membutuhkan standar bentuk dan berat tubuh tertentu memiliki risiko yang besar. Orang dalam kelompok ini memiliki target ketat untuk mendukung performa olahraganya di pertandingan.
Dilansir dalam laman Everyday Health, bahkan olahragawan atau atlet memiliki risiko tiga kali lebih besar mengalami gangguan pola makan dibandingkan dengan mereka yang bukan atlet. Risiko ini lebih tinggi kemungkinannya terjadi pada atlet wanita dibandingkan atlet pria.
Jenis gangguan pola makan yang paling banyak terjadi pada atlet adalah anoreksia nervosa dan bulimia.
4. Memiliki keluarga yang mengalami gangguan makan

Orang-orang yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat gangguan makan akan lebih tinggi risikonya mengalami gangguan ini.
Ini berkaitan dengan adanya gen tertentu di dalam tubuh manusia yang dapat meningkatkan risiko mengembangkan perilaku makan yang menyimpang. Meskipun begitu, kondisi genetik ini masih dievaluasi lebih lanjut bagaimana bisa gen memengaruhi perilaku makan seseorang.
5. Orang yang terobsesi turun berat badan

Banyak orang mati-matian diet untuk menurunkan berat badan, entah itu dengan prinsip diet yang benar ataupun salah. Berhati-hatilah, ketika orang terlalu terobsesi untuk menurunkan berat badan dan justru masuk ke dalam diet yang salah, ini bisa memicu perilaku makannya jadi menyimpang.
Contohnya diet yang mengharuskan untuk tidak makan seharian atau menghilangkan salah satu sumber zat gizi tertentu secara ekstrem. Ini lama-lama akan membentuk perilaku makan yang salah dan memicu orang mengalami anoreksia, bulimia, ataupun binge eating.
Kabartangsel.com
Sport4 minggu agoJadwal Piala Dunia 2026: Belanda vs Swedia, Jerman vs Pantai Gading, Ekuador vs Curacao, Tunisia vs Jepang, dan Spanyol vs Arab Saudi
Bisnis3 minggu agoPLN Luncurkan Circular Waste Initiative di Ragunan
Sport4 minggu agoJadwal Piala Dunia 2026 Senin 22 Juni: Belgia vs Iran, Uruguay vs Cape Verde, Selandia Baru vs Mesir, Argentina vs Austria
Bisnis4 minggu agoDorong Operasional Logistik yang Ramah Lingkungan, Modena Group Beralih ke Kendaraan EV
Pemerintahan3 minggu agoPemkot Tangsel Alokasikan Bantuan Pendidikan Rp1,8 Juta per Siswa untuk 94 SMP Swasta pada Tahun Ajaran 2026/2027
Bisnis4 minggu agoEvolusi Mie Sedaap: Dari Brand Mi Instan Menjadi Platform Kreativitas dan Pengalaman Generasi Muda
Pemerintahan4 minggu agoCegah Kekerasan Sejak Dini, Pemkot Tangsel Edukasi Masyarakat soal Kesehatan Mental
Tangsel2 minggu agoBenyamin Davnie Lepas Kontingen Sepak Bola Putri Tangsel ke Turnamen Internasional di Swedia























