Nasional
Kepala Daerah Dipilih DPRD Munculkan Oligarki Politik

Pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) sedang hangat-hangatnya digodok di DPR. Pasalnya, dalam beberapa hari ke depan RUU ini bakal disahkan. Di dalam RUU Pilkada tersebut dibahas mengenai mekanisme Pemilihan Kepala Daerah (Gubernur, Walikota dan Bupati). Setidaknya ada dua opsi yang mengemuka, yakni kepala daerah dipilih oleh rakyat seperti yang sudah berjalan selama ini, atau dipilih melalui DPRD.
Pengamat Politik dari Konsep Indonesia (Konsepindo) Research and Consulting, Veri Muhlis Arifuzzaman, menyatakan opsi pilkada tidak langsung yang dimotori oleh Koalisi Merah Putih (KMP) merupakan upaya menghidupkan oligarki dalam politik. “Sangat jelas opsi pilkada langsung merupakan agenda koalisi merah putih dalam melakukan oligarki politik,” kata Veri Muhlis, selasa (9/9).
Menurut Veri, pilkada melalui DPRD merupakan upaya koalisi merah putih untuk melakukan penjatahan kepala daerah. Dan ini, menurut Veri, sesuatu yang tidak sehat dalam iklim demokrasi di Indonesia. “Yang saya amati, opsi itu bentuk upaya penjatahan kepala daerah untuk masing-masing parpol anggota koalisi merah putih. Situasi yang tidak sehat dalam demokrasi kita,” tegas Veri.
Dalam perhitungan hasil perolehan suara di DPRD, jika nanti kepala daerah dipilih DPRD, maka koalisi merah putih akan memenangkan di 31 provinsi.
Senada dengan Veri, Direktur Indexpolitica, Deny Charter, menyayangkan sikap inkonsiten dari Presiden SBY soal opsi pilkada langsung dan melalui DPRD. “SBY tidak konsisten dalam bersikap soal pilkada langsung atau melalui DPRD. Dulu SBY setuju terhadap pilkada langsung sebagai pilihan terbaik, namun belakangan SBY malah cenderung setuju pilkada melalui DPRD, “terang Deny Charter.
Padahal menurut Deny, SBY pun merupakan Presiden yang dipilih secara langsung oleh rakyat. “Harusnya SBY sadar bahwa dirinya dipilih langsung oleh rakyat,” cetus Deny.
Kritik lain disampaikan oleh pengamat politik Yunarto Wijaya. Direktur Charta Politica itu menyebut jika pemilihan kepala daerah dilakukan oleh DPRD, maka akan membuka peluang money politic dilakukan di ruang tertutup melalui elite politik.
“Mereka mengurangi politik berbiaya tinggi dgn cara memangkas political cost, tapi membiarkan money politics terjadi di ruang tertutup. Selain untuk tujuan rente, pilkada lewat DPRD jg bisa dilihat sbg simbolisasi sikap mereka bahwa parlemen lebih berkuasa dr pemerintah, ” kata Yunarto. (*/kt)
Tangerang Selatan7 hari agoIndah Kiat Tangerang Santuni Anak Yatim di Pondok Aren dan Kelapa Dua
Bisnis6 hari agoPromo Sunscreen Biore Selama Diskon Ramadhan di Blibli
Nasional2 hari agoHegemoni Amerika Serikat Memudar, GKB-NU: Prabowo Subianto Harus Pimpin Poros Global South
Pemerintahan3 hari agoBenyamin Davnie Dampingi Gubernur Banten Safari Ramadan, Silaturahmi hingga Pemberian Bantuan
Pemerintahan5 hari agoPemkot Tangsel Gelar Bazar Ramadan 1447 Hijriah Serentak di 7 Kecamatan pada 5 Maret 2026
Pemerintahan5 hari agoBenyamin Davnie Buka Bazar Ramadan 1447 H di Pondok Aren, 11.000 Paket Sembako Murah Diserbu Warga
Nasional1 hari agoHUT ke-46 Dekranas, Selvi Gibran Rakabuming Berharap Dekranas Tetap Jadi Rumah yang Nyaman Bagi Perajin
Nasional1 hari agoMomen Wapres Gibran Rakabuming Raka Ziarah ke Makam Sunan Bonang



















