Serpong
Gemasos Tangsel Desak Pemkot Tutup Minimarket Ilegal

Sejumlah mahasiswa yang menamakan dirinya Gerakan Mahasiswa Sosialisme (Gemasos) Kota Tangerang Selatan (Tangsel), menggelar aksi unjuk rasa di depan gedung Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Tangsel, di Kelurahan Cilenggang, Kecamatan Serpong, Tangsel, Jumat (27/12/2013).
“Banyak pedagang kecil yang tak sanggup bertahan dan terpaksa gulung tikar, lantaran keberadaan toko modern tersebut. Bahkan khusus untuk minimarket, sudah menjangkau ke wilayah perkampungan. Hal ini harus jadi perhatian serius Pemkot Tangsel,” Ujar Kordinator aksi, Hafiz nasution kepada hariantangerang.com, Jumat (27/12/2013).
Menurut Hafiz, Disperindag sebagai instansi yang memiliki wewenang, seharusnya melindungi keberadaan para pelaku usaha skala kecil dari persaingan usaha seperti ini. Karena jelas, dengan modal pas-pasan, pedagang kecil tidak akan mampu bersaing dengan pemilik supermarket dan minimarket yang punya modal besar.
“Ini bisa jadi preseden buruk bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat kecil, karena dikuasai ritel-ritel besar yang membuka cabangnya serta menjual produk yang tidak jauh berbeda dengan pedagang warungan, bahkan lebih lengkap. Otomatis masyarakat lebih memilih belanja di minimarket ketimbang warung,” katanya.
Dijelaskannya, berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 112 Tahun 2007 dan Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor: 53/M-DAG/PER/12/2008 tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern, pemerintah daerah dalam hal ini Pemkot Tangsel diberi kewenangan untuk mengatur zonasi dan menata keberadaan pasar modern serta mengeluarkan Izin Usaha Pasar Modern (IUPM).
“Sebelumnya Walikota Tangsel, Airin Rachmy Diani juga pernah mengeluarkan pernyataan, akan menutup toko modern yang menyalahi izin. Tapi kenyataannya, itu tidak terjadi dan keberadaan ritel-ritel besar semakin menjamur, bahkan tersebar hingga ke pelosok perkampungan,” katanya.
Hal senada juga diutarakan Ketua Gemasos, Hairil. Kondisi yang terjadi saat ini kata Hairil, menjadi bukti bahwa Disperindag Kota Tangsel, tidak berpihak kepada pedagang kecil dan hanya mementingkan pemasukan asli daerah (PAD) saja.
“Kami mengatakan ini berdasarkan fakta. Bisa dilihat sendiri, masih banyak toko-toko ritel modern yang buka sampai 24 jam, sehingga membuat para pedagang kecil tak mampu bertahan dan hanya bisa pasrah, akibat kalah bersaing dengan para pemodal besar,” pungkasnya. (ht/kt)
Bisnis3 minggu agoLamiPak Indonesia Sabet Dua Penghargaan Bergengsi di TOP CSR Awards 2026
Pemerintahan3 minggu agoPeringati Hari Lahir Pancasila, Benyamin Davnie Serukan Persatuan, Gotong Royong, dan Kepedulian Sosial
Pemerintahan3 minggu agoPemkot Tangsel Hadirkan 5.000 Titik Internet Gratis, Jangkau 379 Masjid dan 376 Musala
Pemerintahan3 minggu agoInternet Gratis Jangkau 379 Masjid dan 376 Musala, Pemkot Kini Hadirkan Aplikasi Tangsel Mengaji Berbasis AI
Nasional4 minggu agoMenteri Maman Abdurrahman dan Menkomdigi Meutya Hafid Kolaborasi Perkuat Pelindungan UMKM di Marketplace
Bisnis4 minggu agoSepanjang 2025, Pelindo Petikemas Setor Rp1,73 Triliun
Sport4 minggu agoPersita Tangerang Evaluasi Total Usai Musim Kompetisi 2025/26, Ahmed Zaki Iskandar Siapkan Pembenahan Besar
Pemerintahan4 minggu agoSelain Hewan Kurban, Pemkot Tangsel Salurkan 10 Ribu Wadah Ramah Lingkungan























