Connect with us

Bisnis

Investasi Tiongkok dan Hong Kong Melonjak, Indonesia Jadi Destinasi Utama Sektor Logam dan Mineral

Indonesia menjadi salah satu destinasi utama investasi dari Tiongkok dan Hong Kong. Tahun 2015 lalu, investasi Tiongkok sebesar 0,6 miliar dolar AS melonjak hingga mencapai 8,1 miliar dolar AS pada 2024 lalu.

Kenaikan signifikan ini menegaskan semakin eratnya hubungan ekonomi kedua negara, dengan sektor logam dan mineral/pertambangan menjadi pendorong utama di balik aliran investasi tersebut.

Hal itu mengemuka dalam forum ‘The 4th Metal and Mining Forum 2025: Forging Global Connections’ yang diinisiasi DBS Bank Ltd (Bank DBS), Rabu (26/11), di Jakarta.

Forum sebagai wadah bagi para pemimpin industri di seluruh value chain, dari hulu hingga hilir, untuk membahas tantangan sektor yang krusial, perkembangan regulasi, serta tren terbaru sektor logam dan mineral.

Advertisement

Forum berbasis industri ini sekaligus menjadi ruang pertukaran pengetahuan dari para ahli di kawasan Asia sekaligus mendorong masuknya investasi asing langsung (FDI) ke Indonesia.

Head of Institutional Banking Group PT Bank DBS Indonesia, Anthonius Sehonamin, menyebutkan industri logam dan mineral tengah memasuki fase transformasi yang menuntut efisiensi sumber daya, ketahanan rantai pasok, dan kemampuan membaca dinamika pasar global dengan jauh lebih presisi.

Dalam konteks ini, menurutnya, pelaku usaha membutuhkan mitra yang tidak hanya memahami kompleksitas industri, tetapi juga mampu memberikan perspektif yang tajam dan berorientasi ke depan.

“Bank DBS tak hanya menyediakan solusi pembiayaan, tetapi juga analisis pasar yang mendalam dan relevan agar nasabah dapat mengambil keputusan finansial yang tepat sekaligus memperkuat posisi Indonesia di pasar global,” ujar Anthonius.

Advertisement

Sementara itu, Managing Director, Global Head of Metals and Mining, DBS Bank Ltd., Mike Zhang yang tampil sebagai pembicara menjelaskan,

Industri mineral global kini menghadapi tekanan dari fragmentasi pasar dan pergeseran geoekonomi. Kondisi ini diperparah oleh penerapan tarif impor AS terhadap nikel, seng, dan kobalt, serta pembatasan ekspor logam tanah jarang oleh Tiongkok.

Kondisi tersebut selanjutnya akan mengancam prinsip ‘hukum harga tunggal’ dan mendorong perbedaan harga antar pasar.

“Di tengah peristiwa tersebut, tantangan ‘trilemma energi’ muncul: bagaimana memastikan keterjangkauan, keandalan, dan keberlanjutan tercapai secara bersamaan agar stabilitas energi tetap terjaga,” lontar Mike Zhang.

Advertisement

Kendati kondisi global yang tengah menantang, permintaan logam masih tetap kuat di berbagai komoditas.

Dalam satu dekade mendatang, kebutuhan investasi pertambangan diperkirakan mencapai 3,5 triliun dolar AS di mana Amerika Latin menyumbang sekitar seperempat dari total belanja modal global.

Fokus belanja modal ini tetap terkonsentrasi pada tembaga (35%) dan emas (17%), disusul batu bara (14%) dan bijih besi (12%), mencerminkan bahwa sektor mineral tetap menarik meski menghadapi tekanan geopolitik.

Menurut Senior Economist DBS Bank, Radhika Rao, yang juga tampil sebagai pembicara, menjelaskan bahwa sentimen industri dalam negeri terus membaik, didorong oleh permintaan yang lebih kuat dan meningkatnya belanja pemerintah.

Advertisement

Dengan ruang kebijakan yang masih dimiliki pemerintah dan bank sentral, pertumbuhan ekonomi berpotensi tetap terjaga.

“Ke depan, perkembangan kebijakan domestik, khususnya fiskal, akan menjadi katalis penting bagi pasar,” kata Radhika Rao. ()

(rls/MC)

Advertisement
Advertisement

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer