Bisnis
IWG Ungkap Kerja Fleksibel Perkuat Karier Perempuan di Dunia Kerja

Temuan riset dari International Workplace Group (IWG) menjelaskan bahwa fleksibilitas kerja sebagai akselerator utama partisipasi dan keberlanjutan karier perempuan.
Studi global tersebut mencatat bahwa 67% perempuan menyatakan bahwa kerja hybrid telah berdampak positif pada perkembangan karier mereka, dan hampir setengah darinya merasa terbantu untuk mencapai posisi yang lebih senior.
Bahkan, 60% perempuan akan mempertimbangkan untuk meninggalkan peran mereka, jika mandat kembali ke kantor penuh waktu diterapkan.
Di Indonesia, terutama di kota-kota padat seperti Jakarta, dalam pandangan Putri Mulya, tempat waktu tempuh berjam-jam kerap seakan memaksa perempuan memilih antara karier dan keluarga.
Model hybrid, menurutnya, menghapus dilema tersebut. Perempuan dapat kembali bekerja pasca cuti melahirkan tanpa mengorbankan lintasan karier.
Ia menambahkan, dengan semakin meningkatnya adopsi model kerja fleksibel, saat ini kita melihat talenta-talenta perempuan terbaik di kota-kota sekunder kini turut berkontribusi pada peran nasional, bahkan global tanpa harus pindah domisili.
“Produktivitas diukur dari hasil, bukan kehadiran fisik. Di sisi perusahaan, fleksibilitas memperluas akses ke talenta perempuan unggul yang sebelumnya terhalang faktor geografis dan jadwal yang kaku,” ujar Putri Mulya selaku Country Head IWG Indonesia, dalam keterangan pers, Selasa (10/3), di Jakarta.
Meski kesadaran meningkat, ia menyoroti kesenjangan persepsi sebagai tantangan mendesak. Dalam banyak organisasi bisnis, perempuan masih dituntut untuk terlebih dahulu membuktikan diri melalui rekam jejak yang sempurna, sementara laki-laki sering kali diberi ruang promosi berdasarkan potensi yang diproyeksikan.
Bagi perempuan Indonesia, Putri memiliki pesan sederhana namun kuat: jangan menunggu hingga merasa sepenuhnya siap.
Baginya, kepemimpinan tidak pernah lahir dari kondisi yang sempurna, melainkan dari keberanian untuk mengambil tanggung jawab di tengah ketidakpastian.
Ia mendorong perempuan untuk berani hadir di ruang-ruang pengambilan keputusan, bahkan ketika menjadi satu-satunya perempuan di sana.
Lebih dari itu, ia menekankan pentingnya mendefinisikan kepemimpinan dengan cara masing-masing, alih-alih menyesuaikan diri dengan standar lama yang kerap tidak inklusif.
Ia juga meyakini banyak perempuan sebenarnya sudah sangat mampu, tetapi menahan diri karena merasa belum seratus persen siap. Padahal, kepemimpinan bukan mengenai kesempurnaan, melainkan mengenai keberanian untuk melangkah dan bertanggung jawab.
“Masuklah ke ruangan itu. Ambil ruang. Bangun kemampuanmu, bangun jejaringmu. Jangan menunggu izin,” tandas Putri. ()
Pemerintahan5 hari agoPra-Musrenbang Tematik, Tangsel Matangkan Strategi Penurunan Stunting
Pemerintahan5 hari agoLibatkan 134 Organisasi Kepemudaan di Pra Musrenbang, Pemkot Tangsel Dorong Pemuda Jadi Motor Pembangunan
Nasional4 hari agoWapres Gibran Rakabuming Raka Kunjungi NTT dan Sulut
Sport5 hari agoPERSIB Bandung Kalahkan Semen Padang 2-0, Ramon Tanque Borong Gol dan Teja Paku Alam Catat Clean Sheet ke-16
Pemerintahan4 hari agoPemkot Tangsel Ajak Warga Sukseskan ORI Campak Serentak, Sasar 109 Ribu Anak
Bisnis4 hari agoDaikin Perpanjang Garansi AC hingga 5 Tahun, Berlaku untuk Nusantara Prestige dan SkyA
Bisnis4 hari agoTownship Jadi Tren Hunian Modern, Solusi Hidup Praktis di Tengah Mobilitas Tinggi
Sport5 hari agoHasil BRI Super League: Persija Jakarta Kalah 2-3 dari Bhayangkara FC
















