Kenali Ciri-Ciri Iritasi Pada Kulit, Termasuk Pada Area Kewanitaan Anda

By on Sabtu, 15 September 2018

Kulit yang sehat jadi idaman semua wanita. Untuk itu, perlu perawatan ekstra agar kulit terhindar dari berbagai masalah, salah satunya iritasi pada kulit. Tapi, iritasi ini tidak hanya terjadi pada kulit wajah, tangan atau kaki saja, kulit area kemaluan juga sering jadi keluhan.

Nah, untuk mencegah terjadinya masalah kulit seperti iritasi, Anda perlu tahu seperti apa ciri-ciri dan penyebabnya. Penasaran? Simak ulasannya berikut ini.

Iritasi sering terjadi pada kulit di area kewanitaan

Kulit adalah bagian yang paling mudah terpapar dengan berbagai zat asing. Itulah sebabnya bagian tubuh ini perlu perhatian ekstra dalam merawat kebersihan dan kesehatannya. Sayangnya, Anda cenderung lebih peduli dengan kulit wajah, tangan, dan kaki. Padahal, kulit di area vagina juga harus Anda perhatikan.

Kenapa? Masalah kulit, seperti iritasi bukan hanya terjadi pada kulit wajah atau tangan saja. Kulit area kewanitaan yang tidak terekspos juga bisa mengalami gatal dan iritasi.

Kulit area vagina lebih sensitif dibandingkan dengan kulit di area tubuh lainnnya. Semua kulit memiliki lapisan horny cell atau dikenal juga dengan lapisan tanduk (stratum corneum). Lapisan terluar pada kulit ini, bertanggung jawab untuk melindungi kulit dari masuknya zat asing ke lapisan kulit bagian dalam.

Nah, horny cell pada setiap bagian tubuh memiliki ketebalan yang berbeda-beda. Lapisan yang paling tipis berada di area kewanitaan. Inilah sebabnya kulit area vagina jadi sangat rentan mengalami iritasi.

Berbagai penyebab iritasi pada kulit yang perlu Anda ketahui

Apa sih yang menyebabkan kulit iritasi? Pada kebanyakan kasus, iritasi kulit, terutama pada wajah disebabkan oleh  kulit kering. Kondisi kulit yang kurang lembap ini sering memicu rasa gatal dan akhirnya jadi iritasi. Selain itu, menggunakan produk perawatan wajah yang tidak sesuai juga bisa memicu iritasi pada kulit.

Namun, kebalikan dengan kulit wajah, penyebab umum iritasi pada area kulit vagina justru adalah kelembapan. Area kulit vagina yang terlalu lembap bisa memicu pertumbuhan bakteri menjadi lebih banyak.

Kondisi ini bisa terjadi kapan saja, namun lebih sering saat menstruasi. Menggunakan pembalut selama beberapa hari tidak memberikan celah pada area kulit vagina untuk bernapas. Kondisinya akan semakin parah, saat kulit terus bergesekan dengan pembalut yang tidak lembut, celana yang terlalu ketat, dan kulit terus berkeringat.

Mengenal tanda dan gejala iritasi pada kulit, termasuk pada area kewanitaan

Banyak orang yang menganggap bahwa iritasi hanya terjadi saat kulit mulai terluka dan terasa perih. Padahal, kulit iritasi memiliki gejala yang bertahap. Jika Anda mengalami gejala yang membuat Anda tidak nyaman dan tidak juga sembuh, segera lakukan pemeriksaan lebih lanjut ke dokter. Berikut ini tahapan tanda dan gejala kulit mengalami iritasi.

1. Kulit terasa gatal

Mengalami rasa gatal pada kulit itu biasa. Namun, jika rasa gatal tersebut menyebabkan Anda terganggu dan gemas ingin terus menggaruknya, bisa jadi tanda awal iritasi pada kulit.

Sayangnya, banyak yang menyepelekan gejala ini dan beranggapan rasa gatal akan hilang. Padahal jika tidak diatasi, gatal akan semakin parah dan memperburuk kondisi.

2. Kulit kemerahan dan membengkak

Kulit kemerahan bisa jadi tanda iritasi. Kondisi ini bisa terjadi lebih awal sebelum atau bersamaan dengan rasa gatal. Rasa gatal yang parah, membuat Anda terus menggaruk atau menggesekan kulit. Bukan hanya kemerahan pada kulit yang semakin terlihat, kulit juga akan membengkak.

3. Kulit memunculkan bercak ruam

Selain membengkak, tahapan iritasi yang semakin parah adalah munculnya ruam. Ruam ini ditandai dengan bintik-bintik kecil kemerahan yang terasa panas atau perih. Semakin banyak terjadi gesekan pada area kulit ini, semakin besar kemungkinannya ruam jadi menyebar atau melepuh. Akibatnya, akan ada luka pada bagian kulit ini.

Tips mencegah kulit agar tidak iritasi

Iritasi pada kulit tentu membuat Anda terganggu, bukan? Supaya Anda terhindar dari kondisi ini, ikuti beberapa tipsnya berikut ini.

1. Cegah kulit menjadi dehidrasi

Krim pelembap menjaga kulit Anda tetap terhidrasi dan lembap. Gunakan krim ini sesering mungkin, terutama setelah mandi atau setiap kali kulit Anda merasa kering. Pastikan untuk memilih produk yang sesuai dengan jenis kulit dan bahan-bahannya aman.

2. Minum banyak air putih

Minum air putih memang secukupnya saja. Tapi saat kondisi kulit Anda kering, minum air putih lebih banyak bisa jadi salah satu cara untuk mengatasinya. Air bukan hanya menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh saja, tapi juga kelembapan kulit. Selain air putih, buah dan sayur yang kaya vitamin juga bisa mendukung kesehatan kulit.

3. Mencegah iritasi pada area kemaluan

Mencegah iritasi pada area kemaluan, berarti menjaga area tersebut tetap terjaga kelembapannya. Iritasi kulit vagina sering terjadi ketika menjelang dan selama menstruasi. Pada momen tersebut, kelembapan kulit akan terus meningkat dan risiko terjadinya iritasi jadi semakin besar.

Nah, itulah sebabnya Anda harus bijak memilih pembalut. Pilih pembalut yang lembut, cepat menyerap, dan bersirkulasi udara agar area vagina tetap kering dan bisa “bernapas” dengan baik sehingga tidak lembap. Cari tahu seberapa rentan Anda terhadap iritasi di area kewanitaan, pada laman ini.

Selain itu agar menstruasi bebas iritasi, hindari pemakaian celana yang terlalu ketat yang bisa menyebabkan adanya gesekan pada kulit. Jangan lupa untuk selalu menggunakan tisu setelah buang air agar vagina selalu dalam keadaan kering.

Kabartangsel.com

Source