JAKARTA – Kaderisasi kepemimpinan jalur kampus, akreditasi program studi, dan peningkatan produksi pertanian khususnya padi menjadi pokok perbincangan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko dengan Rektor Institut Pertanian Bogor Dr. Arif Satria, SP, M.Si, Kamis, 1 Maret 2018, di Bina Graha, Jakarta.
Sebagai orang yang bergiat di pertanian selepas menjabat Panglima TNI, Moeldoko bercerita tentang jenis padi yang ia beri nama M70 yang tengah dikembangkan. “Sosoknya tinggi, malainya panjang, dan badannya gede jadi nggak ambruk,” jelasnya. Tak hanya itu, Moeldoko yang juga mengembangkan pupuk sendiri, baik remah maupun cair.
Kastaf yang didampingi oleh Deputi II Yanuar Nugroho dan Deputi III Puspa Purbasari juga bercerita tentang Program Pestani yang ia selenggarakan saat ia menjadi Pangdam di Kodam Tanjungpura dan Siliwangi bisa dilanjutkan. Pestani adalah program petani masuk kampus. Mereka datang dan diinapkan ke kampus bertemu dengan mahasiswa, dosen, dan praktisi bertukar informasi dan pengetahuan tentang pertanian. “Intinya, keluhan petani yang dari bawah itu. Sebagai calon pemimpin, mahasiswa perlu tahu persoalan petani,” tandas Moeldoko.
Berkaitan dengan kaderisasi kepemimpinan lewat jalur kampus, Rektor IPB menyampaikan dibukanya jalur penerimaan mahasiswa baru. Selain jalur undangan SNMPTN, jalur tes SBMPTN, kini dibuka jalur untuk Ketua Osis. “Karena ke depan kampus adalah tempat calon pemimpin, sehingga yang kita cari adalah orang-orang yang sudah punya gen,” ungkap Arif Satria yang datang bersama dengan Dr. Doni Yusri, Ketua Divisi Politik Pertanian dan Pembangunan Desa IPB.
Rektor IPB juga mengapresiasi soal keinginan Presiden Jokowi agar perguruan tinggi lebih lincah dalam membuat program studi (prodi) baru yang sesuai dengan zaman yang serba cepat dan dinamis. Menurut Arif, keinginan Presiden tersebut sebenarnya gampang diwujudkan, seperti pengalaman IPB ketika membuka prodi sawit.
Namun ia melihat masih adanya ganjalan soal sertifikasi di Badan Akreditasi Nasional-Perguruan Tinggi dan regulasi yang bisa menghambat pembentukan program studi tersebut.
“Dengan pola akreditasi dan regulasi yang selama ini ada akan berat. Sekarang saya buka prodi kopi, ada nggak nomenklatur kopi di ristek dikti. Kalau ya, ada nggak yang mengatur tentang dosen-dosen,” ungkap Arif.
Menanggapi persoalan tersebut Kepala Staf mengagendakan pertemuan dengan BAN-PT untuk mencari solusi. “Diundang saja BAN-PT. Ini sudah perintah Presiden, nggak boleh lambat-lambat,” tandasnya. (rls)
Nasional1 minggu agoSiapa Suyudi Ario Seto, Pengganti Kapolri Listyo Sigit Prabowo? Ini Profil dan Riwayat Jabatannya
Sport1 minggu agoJadwal Timnas Indonesia vs Bangladesh di FIFA ASEAN Cup 2026: Jam Tayang dan Skenario Lolos ke Final
Nasional1 minggu agoG30SPKI, Gerakan 30 September 1965: Sejarah G30S, Kronologi, Korban, dan Dampaknya bagi Indonesia
Sport1 minggu agoJadwal Indonesia vs Bangladesh di FIFA ASEAN Cup 2026
Sport6 hari agoHasil Indonesia vs Bangladesh 9-2: Injury Time Awalnya 2 Menit, Kenapa Berubah Jadi 7 Menit?
Sport1 minggu agoJadwal BRI Super League 2026-27 Pekan ke-4: 9-11 Oktober
Bisnis1 minggu agoBogasari Baking Center Latih Puluhan UKM
Bisnis1 minggu agoIndustri Makanan dan Minuman Tumbuh 6,51 Persen, Fi Asia Indonesia 2026 Dorong Inovasi dan Kolaborasi












