Melelang Surga

By: Rabu, 31 Maret 2021

Oleh: Muhbib Abdul Wahab, Ketua Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Arab FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Wakil Ketua Umum Imla Indonesia

Ketika mempersiapkan Perang Tabuk, Nabi Muhammad SAW melakukan konsolidasi strategis. Kepada para sahabatnya, Nabi SAW mengumumkan secara terbuka di Masjid Nabawi rencana penghadangan pasukan Romawi yang akan menyerang Madinah. Nabi SAW merasa penting memaklumkan rencana penghadangan ini karena perang yang terjadi pada bulan Rajab dan Sya’ban tahun ke-9 H ini sangat sulit.

Oleh karena itu, perang Tabuk disebut juga Ghazwah al-’Usrah (perang penuh kesulitan). Disebut demikian, karena saat itu cuaca sangat panas (sekitar 50 derajat celcius), jarak medan perang sangat jauh, sekitar 683 km utara Madinah, dan secara ekonomi umat Islam mengalami krisis: dana, logistik, dan kendaraan perang

Sedemikian krisisnya, sehingga seekor unta mesti ditunggangi oleh 10 orang prajurit secara bergantian. Padahal jumlah pasukan yang diberangkatkan ke medan perang mencapai 30.000 prajurit. Penghadangan yang berlangsung selama 10 hari di Tabuk itu memakan 40 hari perjalanan pulang dan pergi (Madinah-Tabuk-Madinah). Jika setiap prajurit membutuhkan logistik sebesar Rp. 100.000,-/hari x 30.000 orang x 50 hari, maka total biaya perang ini mencapai sekitar 150 milyar.

Selain krisis, ternyata persiapan dan pemberangkatan ekspedisi Tabuk ini juga mengalami “pengkhiatan dan pembelotan” dari kaum munafik yang dimotori Abdullah bin Ubay. Kaum munafik mempunyai rencana jahat, tidak hanya menurunkan moral pasukan umat Islam, tetapi juga menargetkan pembunuhan Nabi SAW. Namun, rencana jahat itu dapat diketahui dan digagalkan oleh Nabi SAW.

Karena sangat krisis dan memerlukan dana sangat besar, maka Nabi SAW naik mimbar masjid Nabawi untuk “melelang” surga kepada para sahabatnya melalui infak terbuka dan penggalangan dana jihad fi sabilillah. Nabi SAW lalu bersabda: “Siapa yang menyiapkan perbekalan untuk tentara penuh kesulitan (Tabuk), maka baginya surga.” (HR. al-Bukhari).

Pelelangan surga tersebut mendapat respon positif dari para sahabat. Umar bin al-Khathab RA menemui Rasulullah dengan memberikan separuh hartanya. Abu Bakar ash-Shiddiq RA datang menyerahkan sebagian besar hartanya. Melihat banyaknya harta yang diinfakkan, Rasulullah bertanya, “Apa yang Engkau tinggalkan untuk keluargamu?” Abu Bakar menjawab: “Dalam mengimani dan meresponi perintah Engkau, hanya Allah dan Rasul-Nya yang aku tinggalkan untuk mereka.”

Utsman bin ‘Affan merespon pelelangan surga itu dengan memberikan logistik perang untuk sepertiga pasukan (10.000 prajurit), ditambah 900 ekor onta, 100 ekor kuda,  dan 1.000 dinar. Abdurrahman bin Auf juga menginfakkan 200 uqiyah emas, senilai sekitar 50 milyar Rupiah. Banyak sahabat lainnya menginfakkan harta mereka sesuai kesanggupan. Para wanita juga menyumbangka aneka perhiasan dan makanan (kurma, gandum, daging, susu, dan sebagainya).

Setidaknya ada 5 pelajaran moral yang dapat dipetik dari pelelangan surga tersebut. Pertama, mentalitas jihad dan kedermawanan para sahabat luar biasa tinggi, karena mereka memiliki keimanan, kecintaan, dan loyalitas yang kuat terhadap agama Allah. Meski dalam kondisi krisis, para sahabat menunjukkan tipe manusia yang “sudah selesai dengan dirinya sendiri”, sehingga mereka tidak mengeluh, tidak berkhianat, siap berjuang dan berkorban demi memenuhi panggilan iman dan jihad di jalan Allah dan Rasul-Nya.

Kedua, mentalitas kaya hati dengan merasa “sudah selesai dengan dirinya sendiri” membuat para sahabat tidak lagi berpikir untuk kepentingan dirinya, melainkan berpikir dan berbuat untuk kemenangan dan kejayaan Islam. Mereka meyakini sepenuh hati ayat: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS Muhammad [47]:7)

Ketiga, melelang surga yang dilakukan Nabi SAW merupakan strategi penggalangan  investasi akhirat yang sangat efektif. Dalam waktu singkat, dana dan logistik perang yang dapat dihimpun cukup banyak, sehingga menjadi pembuktian iman dan kedermawanan bahwa krisis ekonomi tidak menjadi penghalang bagi para sahabat untuk tidak berinfak. Bahkan mereka menunjukkan etos fastabiqul khairat yang sangat tinggi.

Keempat, melelang surga dapat menumbuh-kembangkan spirit jihad fi sabilillah yang dapat mengalahkan segala bentuk orientasi dan kepentingan duniawi. Mereka tidak merasa takut miskin. Yang terpatri dalam hati dan pikiran mereka adalah terbukanya tiket dan jalan tol menuju surga, karena Allah selalu membersamai ketulusan dan keridhaan mereka dalam berjihad. “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS al-Ankabut [29]:69)

Kelima, di masa krisis, sosok pemimpin umat dan bangsa yang  diperlukan adalah pemimpin teladan yang sudah selesai dengan dirinya: hadir melayani, memberi solusi, melindungi, menegakkan keadilan sosial, dan merekatkan persatuan bangsa. Pemimpin yang sudah selesai dengan dirinya sendiri tidak akan berpikir untuk menyalahgunakan kekuasaan demi kepentingan pribadi dan partainya, sehingga tidak akan melacurkan jabatannya dengan melakukan korupsi dan penyimpangan.

Sumber: Koran Republika, Rabu, 31 Maret 2021/17 Sya’ban 1442. (uinjkt.ac.id)


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *