Lifestyle
Pasien Sembuh COVID-19 Bisa Terinfeksi Dua Kali, Kenapa?

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.
Peneliti di Hongkong melaporkan adanya kasus infeksi berulang dari seorang pasien COVID-19 yang sebelumnya telah dinyatakan sembuh. Pasien tersebut merupakan pria berusia 33 tahun yang tertular COVID-19 dua kali. Setelah dinyatakan sembuh pada akhir Maret, ia kemudian terinfeksi kembali beberapa bulan setelahnya.
Kenapa seseorang bisa terinfeksi COVID-19 untuk kedua kalinya?
Kasus pasien COVID-19 yang tertular dua kali

Kasus infeksi ulang pertama dilaporkan oleh peneliti Hongkong pada Senin (24/8). Kasus ini terjadi pada seorang pria berusia 33 tahun yang pertama kali terinfeksi pada akhir Maret dan dinyatakan sembuh, lalu kembali terinfeksi empat bulan setengah kemudian.
Kasus ini menerbitkan tanya tentang ketahanan perlindungan antibodi SARS-CoV-2 dalam tubuh pasien yang telah sembuh.
Laporan tertular COVID-19 dua kali jarang terjadi dan sejauh ini tidak disertai data identitas virus sehingga tidak dapat dikonfirmasi.
Namun, pada kasus ini peneliti Universitas Hongkong mengurutkan data genetika virus dari dua infeksi yang terjadi dan menemukan identitas genetik keduanya tidak cocok. Hal ini mengonfirmasi bahwa infeksi kedua tidak berkaitan dengan infeksi pertama.
Para ahli meminta agar dilakukan penelitian berkelanjutan terhadap kasus infeksi dua kali ini dengan melacak pasien yang telah pulih dari COVID-19. Pelacakan tersebut dapat membantu penelitian demi mencapai kesimpulan yang lebih pasti.
Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Apakah pernah terinfeksi COVID-19 tidak memberikan kekebalan?


Antibodi adalah protein pelindung yang dibentuk oleh sistem kekebalan saat ada virus yang menginfeksi tubuh. Antibodi ini bertugas melawan virus dan membuatnya menjadi tidak berbahaya bahkan menghancurkannya.
Antibodi yang terbentuk setelah sembuh dari penyakit biasanya bertahan dalam darah untuk menjaga tubuh dari virus yang sama bahkan bisa mencegah terjadinya infeksi kedua.
Namun kualitas perlindungan antibodi dari tubuh pasien sembuh COVID-19 masih belum diketahui secara pasti. Meski begitu, para ahli mengatakan serendah-rendahnya tingkat antibodi dalam tubuh masih mungkin memiliki kemampuan melindungi.
Pada kasus pria di Hongkong ini, ia mengalami gejala COVID-19 yang lebih ringan pada infeksi kedua. Hal ini menunjukkan, sistem kekebalan tetap memberikan perlindungan meski tidak sampai mampu mencegah terjadinya infeksi berulang.
Ada tiga kemungkinan saat seseorang terinfeksi ulang oleh virus yang sama, yakni bisa mengalami gejala sakit yang lebih parah, gejala yang sama dengan infeksi yang pertama, dan bisa lebih ringan atau tanpa gejala.
Pertama, seseorang bisa mengalami gejala sakit yang lebih parah pada infeksi kedua seperti yang terjadi pada virus penyebab demam berdarah. Namun belum ada satupun buktikasus serupa ini pada pandemi COVID-19.
Kedua, pasien mengalami keparahan gejala yang sama ketika tertular COVID-19 dua kali. Kemungkinan ini dikarenakan sistem imun tidak begitu mengingat virus. Ini bisa terjadi jika infeksi pertama bisa sembuh tanpa perlu antibodi dan sel-T dalam melawan serangan virus pada tubuh.
Kemungkinan ketiga, gejala sakit pada infeksi kedua menjadi lebih ringan karena masih ada antibodi yang dihasilkan sistem imun yang tersisa di dalam darah. Antibodi ini mampu mengingat dan melawan virus.
Dapatkah Pasien Menularkan COVID-19 Setelah Sembuh?
Berapa lama antibodi COVID-19 mampu memberikan perlindungan?


Semua ini tergantung seberapa lama dan seberapa banyak antibodi yang tersisa setelah seseorang sembuh dari COVID-19.
Kekuatan dan daya tahan respon imun menjadi faktor penting dalam memprediksi berapa lama vaksin bisa efektif menjaga dari tertular COVID-19, apakah memerlukan dua kali vaksin, serta berapa dosis yang diperlukan.
Sebelum publikasi kasus infeksi dua kali pasien COVID-19 di Hongkong, para peneliti Chongqing Medical University menemukan bahwa antibodi pasien COVID-19 hanya mampu bertahan 3 bulan. Dari 74 pasien yang dianalisis, mayoritas mulai mengalami penurunan kadar antibodi hingga 70%.
Kabartangsel.com
Bisnis5 hari agoWarnaGo Resmi Hadir di Tangerang, Usung Konsep One-Stop Solution Cat Premium
Banten5 hari agoPeringati Milad ke-6 dan HPN 2026, JMSI Banten Gelar Aksi Sosial dan Lingkungan
Jabodetabek4 hari agoIDWX Hadirkan Jam Tangan Tag Heuer Original untuk Pecinta Jam Mewah di Jakarta
Bisnis4 hari agoAle-Ale Rasa Buah Nanas: Juicy Nanasnya, Segarnya Juara
Sport7 hari agoHasil Persib Bandung vs Malut United 2-0 di BRI Super League 2025/26 Pekan ke-20
Jabodetabek4 hari agoBedah Akuntabilitas BUMN Pasca Danantara, Akademisi UIN Jakarta Fathudin Kalimas Raih Doktor di UI
Pemerintahan4 hari agoBenyamin Davnie Pastikan Tumpukan Sampah di Tangsel Sudah Teratasi
Pemerintahan4 hari agoPilar Saga Ichsan Hadiri Puncak HPN 2026 di Banten: Perkuat Peran Pers Hadapi Tantangan Era Digital dan AI




























