Organisasi keperempuanan Pergerakan Sarinah menunjukkan kepeduliannya terhadap penyelamatan lingkungan. Caranya dengan menanam 1.000 bibit mangrove di Desa Muara Ujung, Teluk Naga, Tangerang, Banten.
Penanaman 1.000 bibit mangrove ini juga sekaligus dalam rangka memperingati kemerdekaan Indonesia ke 71 tahun dan mendorong pemerintah membuat kebijakan nyata untuk menyelamatkan lingkungan.
’’Tak semata membicarakan mangrove dan abrasi, namun fokus melihat kerusakan lingkungan dalam bingkai yang lebih besar,” kata Sekretaris Pergerakan Sarinah, Adhi Ayoe Yanthy, melalui siaran pers , Jumat (19/8).
Menurut Adhi, salah satu penyebab kerusakan lingkungan adalah eksploitasi sumber daya alam tanpa melibatkan masyarakat lokal.
’’Masyarakat kita memiliki kearifan budaya lokal dalam penyelamatan lingkungan. Misalnya budaya sasi di Maluku yang berarti larangan mengambil hasil sumberdaya alam tertentu sebagai upaya pelestarian dan menjaga keberlangsungan keanekaragaman hayati,” tutur Adhi.
Di sisi lain, pembangunan lingkungan yang tak berazas keberlanjutan menyumbang porsi besar pada terciptanya kemiskinan. Kerusakan lingkungan menyebabkan penurunan kualitas hidup manusia. Kondisi kehidupan yang berkualitas rendah akan menciptakan perangkap ekonomi yang merongrong perkembangan sosial seseorang.
’’Pemerintah harus sadar bahwa pengelolaan alam merupakan bagian penting dari upaya penanggulangan kemiskinan dan ketertinggalan. Kemiskinan akan menjadi beban pertumbuhan pembangunan dan menjadi salah satu penyebab degradasi sumber daya alam. Kita harus bisa menghentikan siklus tak berkesudahan ini,” tutur Adhi.
Guna menghasilkan kebijakan yang berlandaskan keilmuan maka Pergerakan Sarinah bekerjasama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Kepala UPT LPKSDMO -Unit Pelaksana Teknis Loka Pengembangan Kompetensi Sumber Daya Manusia Oseanografi (UPT LPKSDMO) Pulau Pari LIPI Triyono, menyambut baik bentuk kerja sama yang terjalin dalam kegiatan penanaman mangrove ini,
’’Program penyadaran lingkungan kelautan yang kami lakukan di UPT Loka Pengembangan Kompetensi SDM Oseanografi LIPI sejalan dengan fokus Pergerakan Sarinah yaitu di program lingkungan, khususnya di bidang mangrove. Kami berharap ke depannya kerja sama ini akan membuka peluang kerja sama jangka panjang khususnya dalam konteks science to policy,” ujar Triyono.
Perempuan sesungguhnya memiliki peranan penting dalam masalah lingkungan. Walaupun sering diasosiasikan dengan hal-hal yang bersifat kerumahtanggaan, perempuan merupakan penjaga gawang dari permasalahan air, energi, pangan, dan sumber daya alam lainnya. Ibu tak hanya mampu menyeleksi penggunaan produk rumah tangga berazas keberlanjutan, mengajarkan anak-anak menjadi generasi ramah lingkungan, tetapi juga dipaksa menjamin ketersediaan air, pangan, dan hasil alam lainnya agar kebutuhan keluarga terpenuhi.
Karena itulah, perempuan terdorong untuk lebih menjaga lingkungan. Setiap kebijakan atau tindakan yang merusak alam, serta merta akan mempengaruhi kondisi rumah tangga yang digawangi perempuan. (mri/fid)
Nasional6 hari agoSiapa Suyudi Ario Seto, Pengganti Kapolri Listyo Sigit Prabowo? Ini Profil dan Riwayat Jabatannya
Sport1 minggu agoJadwal Timnas Indonesia vs Bangladesh di FIFA ASEAN Cup 2026: Jam Tayang dan Skenario Lolos ke Final
Banten2 minggu agoSTAI Syekh Manshur Gelar Bedah Buku “Manajemen Cinta Sebagai Hidden Kurikulum di Madrasah” dan “Ekosistem Mutu Pendidikan Islam Paradigma Baru Menuju Pendidikan Islam Berdampak”
Nasional1 minggu agoG30SPKI, Gerakan 30 September 1965: Sejarah G30S, Kronologi, Korban, dan Dampaknya bagi Indonesia
Sport1 minggu agoJadwal Indonesia vs Bangladesh di FIFA ASEAN Cup 2026
Sport5 hari agoHasil Indonesia vs Bangladesh 9-2: Injury Time Awalnya 2 Menit, Kenapa Berubah Jadi 7 Menit?
Sport1 minggu agoJadwal BRI Super League 2026-27 Pekan ke-4: 9-11 Oktober
Bisnis1 minggu agoBogasari Baking Center Latih Puluhan UKM













