Lifestyle
Rasa Aman Palsu Bikin Orang Berkerumun Saat Pandemi

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.
Kendati bahaya penularan COVID-19 masih tinggi, antusiasme masyarakat ternyata tidak berkurang untuk menyambut pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Rupanya, hal ini terjadi karena banyak orang mengalami rasa aman palsu selama pandemi.
Perasaan aman palsu dapat memperburuk pandemi karena kewaspadaan masyarakat terhadap COVID-19 kian menurun. Padahal, risiko penularan masih sama seperti ketika kasus-kasus pertama diumumkan. Lantas, dari mana datangnya rasa aman palsu dan bagaimana cara mengatasinya?
Apa itu rasa aman palsu?

Pemerintah kini mulai melonggarkan PSBB di beberapa kota dan bersiap memulai new normal. Selama masa perubahan ini, kita tidak hanya menghadapi musuh berupa virus SARS-CoV-2, tapi juga timbulnya perasaan aman palsu (false sense of security).
Pada minggu-minggu pertama diumumkannya kasus COVID-19, masyarakat dengan cepat terbawa arus kepanikan. Anda sendiri mungkin pernah menyaksikan orang berbondong-bondong memborong masker, hand sanitizer, hingga kebutuhan pokok.
Karantina mandiri pun mulai diberlakukan. Sekolah-sekolah diliburkan, pegawai kantor mulai bekerja di rumah, dan tempat umum ditutup sementara. Anjuran kesehatan berisi langkah pencegahan COVID-19 digaungkan di mana-mana.
Masyarakat kini sudah akrab dengan physical distancing, kebiasaan mencuci tangan, dan bahkan membawa perlengkapan sendiri. Pemakaian masker pun menjadi semakin umum. Dari pejalan kaki, pedagang, hingga anak-anak, Anda dapat menemukan orang yang memakai masker di mana-mana.
Namun, ada satu kekurangan masker yang tidak dapat dipungkiri. Kampanye masker selama pandemi membuat masyarakat mengalami rasa aman palsu. Penggunaan masker membuat banyak orang merasa terlindung dari penularan COVID-19.
Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Ini sebabnya Anda melihat orang-orang berkerumun di jalan, mal-mal kian ramai, dan CFD dibanjiri oleh pengunjung. Masyarakat kini berani berkerumun karena merasa terlindungi dengan memakai masker.
Padahal, memakai masker saja tidak cukup untuk mencegah penyebaran COVID-19. World Health Organization (WHO) sendiri ikut buka suara dalam pedoman penggunaan masker yang diterbitkannya pada 5 Juni 2020.
Sebelumnya, WHO tidak menyarankan penggunaan masker pada masyarakat awam yang sehat. Masker awalnya hanya direkomendasikan bagi orang sakit dan mereka yang berkontak dengan pasien COVID-19.
Kini, setiap orang disarankan untuk menggunakan masker. Orang yang sakit sebaiknya tetap di rumah, sedangkan orang yang mengalami gejala COVID-19 bisa berkonsultasi dengan dokter dan menjalani perawatan yang diperlukan.
Kendati masker berperan penting, WHO tetap mengingatkan bahwa pencegahan utama tetaplah dengan physical distancing dan disiplin menjaga kebersihan. Masker adalah langkah yang akan melengkapi segala upaya pencegahan.
New Normal Akibat Pandemi COVID-19 dan Efek Psikologisnya
Mengapa rasa aman palsu selama pandemi berbahaya?


Risiko penularan COVID-19 masih sama besar seperti beberapa pekan lalu. Alih-alih menurun, angka positif harian pun pernah menembus 1.000 kasus. Tanpa jaga jarak dan disiplin mencuci tangan, Anda tetap bisa tertular sekalipun menggunakan masker.
Masih banyak pula yang belum memakai masker dengan benar. Masker kadang tidak dipakai sampai menutup hidung atau dilepas sembarangan. Padahal, tindakan ini dapat mengurangi keampuhan masker dalam mencegah penularan.
Selain itu, tidak semua masker bekerja dengan keampuhan yang sama. Bila menilai keampuhannya, maka masker terbaik untuk mencegah COVID-19 adalah masker N95. Namun, masker ini tidak bisa digunakan sehari-hari karena menimbulkan sesak.
Masker yang digunakan masyarakat umum adalah masker kain. Masker jenis ini cukup ampuh untuk perlindungan sehari-hari, tapi penggunanya harus tahu cara mencuci dan menyimpan masker dengan tepat untuk mencegah kontaminasi.
Masker memang memiliki peran penting dalam perang melawan pandemi COVID-19. Bahkan, para ahli menyebutkan bahwa pemakaian masker bisa mencegah gelombang kedua COVID-19 yang dikhawatirkan muncul dalam beberapa bulan mendatang.


Meski begitu, jangan sampai hal ini membuat Anda terjebak dalam rasa aman palsu selama pandemi. Pastikan Anda tetap melakukan upaya pencegahan untuk melindungi diri maupun orang-orang terdekat dari risiko penularan.
Cara terbaik untuk menghindari rasa aman palsu selama pandemi adalah dengan selalu waspada. Walaupun new normal sudah di depan mata, angka positif dan risiko penularan belum banyak berubah.
Ketika bepergian ke luar rumah, pastikan Anda selalu menjaga jarak dengan orang lain. Ikuti cara memakai masker yang tepat, serta jaga kebersihan diri Anda dengan mencuci tangan dan membersihkan barang yang sering digunakan.
Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan berikut.
Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.
Kabartangsel.com
Pemerintahan7 hari agoPemkot Tangsel Hadirkan Tangsel One, Akses Layanan Kini Cukup Lewat WhatsApp Berbasis AI
Bisnis6 hari agoPT Nusantara Infrastructure Group Gelar Program “She Drives Change” di Tol BSD
Pemerintahan7 hari agoPilar Saga Ichsan: Pemkot Tangsel Siapkan Normalisasi Drainase Hingga Penataan Kawasan Melati Mas
Nasional6 hari agoAnggaran Rapat Daring BGN Capai Rp5,7 Miliar Selama April–Desember 2026
Nasional6 hari agoKepala BGN Dadan Hindayana: 19.000 Ekor Sapi untuk Program MBG hanya Pengandaian
Nasional6 hari agoProgram MBG Diklaim Jangkau 61,9 Juta Penerima dan Serap 1,2 Juta Tenaga Kerja
Nasional5 hari agoLamiPak Indonesia Raih Penghargaan Ajang Global CSR & ESG Summit & Awards 2026™ ke-18 di Bangkok
Jabodetabek5 hari agoTari Kreasi Tradisional Indonesia 2026 Sukses Digelar Meriah di Kebayoran Park Mall























