Lifestyle
Studi: Pewarna Makanan Bisa Membunuh COVID-19 di Udara (Airborne)

Seorang peneliti dari Purdue University, Amerika Serikat meneliti kemungkinan cara membunuh COVID-19 di udara dengan pewarna makanan.
Bulan lalu organisasi kesehatan dunia (WHO) telah mengumumkan bahwa COVID-19 dapat menular melalui udara atau biasa disebut penularan airborne. Penularan jenis ini menjadi yang sulit untuk dilakukan pencegahan jika dalam ruangan tertutup dengan sirkulasi udara yang buruk.
Bagaimana pewarna makanan bisa digunakan untuk membersihkan udara dari virus penyebab COVID-19 yang mengambang di udara dalam bentuk airborne?
Pewarna makanan berpotensi membunuh COVID-19 di udara

Sejak awal, COVID-19 dinyatakan bisa menular melalui percikan cairan pernapasan (droplet) yang keluar saat orang yang terinfeksi bicara, batuk, atau bersin. Karena molekul percikan tersebut cukup berat (> 3 mikro), ia mampu memercik hingga sekitar 1 meter dan langsung jatuh ke permukaan. Maka, salah satu cara pencegahan penularannya adalah dengan menjaga jarak sosial (physical distancing) dan mengenakan masker supaya bisa menahan percikan droplet.
Belakangan, para ilmuwan menemukan fakta baru bahwa droplet pasien COVID-19 bisa bertahan di udara dan menular saat seseorang menghirupnya. Jalur penularan airborne ini dikarenakan droplet bisa berubah menjadi bentuk aerosol, cairan yang tersuspensi di udara seperti kabut.
Penularan jenis ini awalnya diketahui bisa terjadi ketika petugas medis memasangkan alat intubasi ke pasien COVID-19 dalam ruangan tanpa ventilasi. Karena itu ilmuwan mencari tahu bagaimana cara efektif mencegah penularan COVID-19 melalui udara ini.
Kim Young dan tim ilmuwan biomedis di Purdue University mengembangkan cara untuk menetralkan virus SARS-CoV-2 yang berada di udara dengan menggunakan pewarna makanan.
Kim menggunakan metode pembersihan udara fotodinamik (PAC), yakni membuat pewarna makanan bereaksi di hadapan cahaya dan membentuk radikal bebas oksigen yang mampu menetralkan virus penyebab COVID-19.
Menurutnya, solusi ini menunjukkan bagaimana aktivasi cahaya dari pewarna makanan dapat menghasilkan radikal bebas oksigen, salah satunya dalam bentuk oksigen singlet yang dapat membunuh patogen (virus) yang ditularkan melalui udara.
Oksigen singlet ini berfungsi merusak bagian luar yang menyelimuti virus sehingga membuat virus menjadi tidak aktif.
“Kami telah mengidentifikasi beberapa pewarna makanan yang disetujui FDA yang dapat digunakan untuk menghasilkan radikal bebas dalam cahaya tampak/terlihat. Kami menggunakan ultrasound untuk menghasilkan aerosol kecil yang mengandung pewarna makanan sehingga pewarna bisa mengapung dan bertahan di udara,” ujar Kim, lektor kepala bidang teknik biomedis sekaligus ketua tim peneliti, seperti dikutip dari website Purdue University.
Banyak penelitian lanjutan yang masih harus dilakukan


Saat ini, para peneliti sedang melanjutkan riset tersebut untuk mengevaluasi efektivitas PAC terhadap virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19. Rencana untuk tahapan selanjutnya akan melibatkan kerja sama dengan lembaga pemerintahan.
Meski sudah menggunakan pewarna makanan yang bersertifikat izin edar dari badan obat dan makanan (FDA) Amerika Serikat, Profesor Kim tetap akan menguji lebih lanjut soal keamanan pewarna makanan tersebut jika terhirup atau termakan.
Sehingga nantinya alat ini bisa menyebarkan oksigen reaktif ini ke udara dan menonaktifkan virus dalam bentuk aerosol dengan aman.
“Saya berharap teknologi ini bisa diinstal di ruangan-ruangan rumah sakit dan mencegah penularan COVID-19 di ruangan tempat orang-orang berkumpul dengan risiko penularan yang tinggi,” ujar Kim.
Teknologi disinfektan yang disemprotkan ke udara biasanya terbuat dari hidrogen peroksida yang berbentuk aerosol, ozone, atau disinfektan sinar ultraviolet. Jenis-jenis seperti ini berbahaya bagi manusia karena bersifat karsinogenik. Selain itu, jenis ini lebih ampuh digunakan untuk disinfeksi permukaan benda bukan yang mengapung di udara.
Apakah zat pewarna makanan dapat dimanfaatkan untuk menangkal virus penyebab COVID-19? Kita tunggu hasil penelitian lanjutannya.
Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.
Kabartangsel.com
Bisnis3 minggu agoPLN Luncurkan Circular Waste Initiative di Ragunan
Sport4 minggu agoJadwal Piala Dunia 2026 Senin 22 Juni: Belgia vs Iran, Uruguay vs Cape Verde, Selandia Baru vs Mesir, Argentina vs Austria
Bisnis4 minggu agoDorong Operasional Logistik yang Ramah Lingkungan, Modena Group Beralih ke Kendaraan EV
Pemerintahan3 minggu agoPemkot Tangsel Alokasikan Bantuan Pendidikan Rp1,8 Juta per Siswa untuk 94 SMP Swasta pada Tahun Ajaran 2026/2027
Bisnis4 minggu agoEvolusi Mie Sedaap: Dari Brand Mi Instan Menjadi Platform Kreativitas dan Pengalaman Generasi Muda
Tangsel3 minggu agoBenyamin Davnie Lepas Kontingen Sepak Bola Putri Tangsel ke Turnamen Internasional di Swedia
Bisnis4 minggu agoJKP Instrumen Penting Pelindungan dan Pengembangan Karier Pekerja
Bisnis4 minggu agoUnicharm Green Action: Ayo Pilah Sampah 3R Bersama!






















