Nasional
Tiga Pelajar Indonesia Kembangkan Drone Rajawali untuk Penanganan Bencana:Raih Dua Penghargaan Internasional

Untuk pertama kalinya, Indonesia berhasil “unjuk gigi” di ajang kompetisi teknologi World Robot Summit (WRS) dan World Robot Games (WRG). Keberhasilan itu ditunjukkan oleh tiga talenta muda yang tergabung dalam Tim Bayu Sakti, yang terdiri dari Ksatria Wibawa Putra Murti (16 tahun) dan Owen Tay Jia Hao (16 tahun) yang merupakan pelajar SMA kelas 11 ACS Jakarta serta Arga Wibawa (18 tahun) yang merupakan pelajar SMA Al Irsyad Satya Islamic School yang baru lulus kelas 12.
Teknologi karya Tim Bayu Sakti itu telah menyabet dua penghargaan internasional berturut-turut, yaitu juara empat kategori Drone Disaster Challenge di ajang World Robot Summit (WRS) di Fukushima, Jepang, pada Oktober 2025 lalu dan juara satu kategori Innovation AI Robot di ajang World Robot Games (WRG) di Taipei, Taiwan, pada awal Desember 2025.
Bayu Sakti adalah perwakilan Indonesia pertama dalam sejarah WRS dan menjadi peserta termuda. Sementara di WRG, Bayu Sakti adalah tim Indonesia pertama yang memenangkan juara satu di kategori innovation.
Mereka berhasil mengembangkan Drone Rajawali untuk membantu penanganan bencana. Drone Rajawali merupakan autonomous AI-powered disaster response UAV (unmanned aerial vehicle) alias drone yang bisa melakukan mapping area, bergerak secara mandiri (autonomous), dan mampu mendeteksi beberapa indikator yang muncul saat bencana seperti retakan, label hazard, karat, dan serangkaian tantangan lainnya.
Drone Rajawali dipilih karena Indonesia merupakan salah satu negara dengan risiko bencana tertinggi di dunia yang banyak menelan korban jiwa. Pasca bencana, akses sulit ditembus dan informasi situasi di lapangan menjadi terbatas.
“Indonesia adalah negeri rawan bencana. Kami ingin mengembangkan solusi riil untuk menjawab permasalahan ini. Kerap jumlah korban bencana alam yang terbanyak bukan saat bencana terjadi, tapi saat bantuan tidak segera datang akibat putusnya akses transportasi dan komunikasi. Kami turut berduka atas bencana siklon tropis Senyar yang melanda saudara-saudara kita di Sumatera dan Aceh. Teknologi seperti Drone Rajawali sangat dibutuhkan untuk membantu mempercepat pemetaan kondisi lapangan dan mendukung penyelamatan di jam-jam pertama yang sangat krusial. Drone Rajawali dapat mengakses dan memberikan tiga hal utama yaitu melakukan risk assessment, memberikan informasi jalur akses, dan berperan sebagai efek pengganda tim penyelamat,” cerita Ksatria Wibawa Putra Murti, pada hari ini (15/12), di Jakarta.
Ditambahkan Owen, drone adalah teknologi yang bisa dikembangkan mandiri oleh Indonesia dengan biayanya lebih rendah dibandingkan solusi lain.
Pada kesempatan yang sama, Arga mengimbuhkan, “Drone Rajawali ini menang di dua kompetisi robot internasional, WRS dan WRG. Artinya, solusi ini terbukti diakui oleh kalangan internasional dan Indonesia terbukti bisa mengembangkan secara mandiri.”
Mereka pun berterima kasih kepada ACS, karena telah mendukung proyek Drone Rajawali yang prosesnya memakan waktu lebih dari enam bulan. “Guru-guru juga sangat membantu dalam dengan memberikan pelajaran tambahan atau ujian susulan saat kami harus absen sekolah,” ucap Owen.
Sementara itu, Academic Dean of ACS, Anthony Powell, mengungkapkan, “Kami bangga, anak-anak didik kami berhasil membawa nama Indonesia ke panggung internasional dan bisa memecahkan rekor. Adalah tujuan kami untuk mendidik anak-anak yang bisa membawa solusi nyata untuk masyarakat.”
Tim Bayu Sakti mengidentifikasi bahwa saat bencana alam terjadi, ada tiga tantangan yang dialami tim penyelamat (first aiders) yaitu risiko keselamatan, tertutupnya akses, dan personel penyelamat yang terbatas. Drone Rajawali didesain untuk mengatasi ketiga tantangan ini. Pertama, dengan AI-powered image-recognition, drone ini bisa mengidentifikasi retakan, label hazard, dan karat, serta dibekali tangan tambahan untuk mengoleksi material.
Kedua, Rajawali memiliki kemampuan bergerak mandiri (autonomous) tanpa GPS karena dibekali LIDAR. Bahkan saat koneksi jaringan terputus, drone ini bisa tetap berfungsi. Drone Rajawali juga dapat memindai area yang dilaluinya dan menciptakan peta, yang kemudian bisa jadi bekal tim penyelamat untuk mengidentifikasi jalur akses dan jalur evakuasi.
Ketiga, Rajawali didesain dengan kontrol pengendali dan interface kendali yang mudah dioperasikan oleh tim penyelamat sehingga berperan sebagai efek pengganda. Satu tim penyelamat bisa meng-cover area yang luas dengan bantuan drone ini.
“Kami sadar betul ini adalah tahap awal. Masih perlu pengembangan identifikasi risiko lain, pengembangan daya jelajah, dan kemampuan multi drone. Ini adalah langkah pertama yang kami berharap bisa terus kembangkan sendiri atau dengan bantuan pihak lain,” ungkap Owen.
Oleh karena itu, mereka berharap, karya ini bisa menginspirasi sekaligus mendapat dukungan dari para pemangku kebijakan untuk membawa solusi drone penanganan bencana (disaster relief drone) ke level berikutnya.
Kampus7 hari agoIKA FISIP UIN Jakarta 2025–2029 Resmi Dilantik, Perkuat Peran Alumni sebagai Kekuatan Intelektual
Pemerintahan7 hari agoDWP Bersama DLH Tangsel Berbagi Bersama Penyapu Jalanan
Nasional1 hari agoWINGS Food Hadirkan ‘Pondok Rehat’ di Jalur Mudik 2026, Sediakan Fasilitas Lengkap untuk Pemudik
Pemerintahan6 hari agoDSDABMBK Tangsel Siap Hadapi Libur Lebaran 2026 dengan Infrastruktur Optimal
Bisnis6 hari agoQurban Asyik Luncurkan Aplikasi Versi Terbaru, Kurban Kini Lebih Mudah
Bisnis1 hari agoTempo Scan Berangkatkan 3.000 Pemudik lewat Program “Mudik Sepenuh Hati 2026”
Bisnis1 hari agoSarihusada Raih Penghargaan Indonesia Best Companies in HSE Implementation 2026 Kategori Manufaktur
Bisnis1 hari agoAriston Hadirkan Kehangatan Ramadan Lewat Program CSR “Caring Brings Comfort” di Yayasan Al Andalusia



















