Apraksia, Kondisi Ketika Anak Susah Bicara dan Cara Menanganinya

By on Minggu, 16 Juni 2019

Salah satu penyebab anak susah bicara dengan lancar adalah apraksia. Anak yang lahir dengan kondisi ini, akan kesulitan menggerakan otot-otot di wajah sehingga keterampilan berbicaranya jadi terganggu. Lantas, bagaimana agar apraksia dapat dideteksi lebih dini dan cara menanganinya?

Mendeteksi anak susah bicara karena apraksia lebih dini

Apraxia atau apraksia adalah gangguan neurologis yang memengaruhi kemampuan untuk mengendalikan gerakan. Kondisi ini terjadi akibat adanya cedera atau kelainan pada lobus parietal di otak.

Selain sulit menggerakkan wajah, kaki, dan tangan, anak dengan kondisi ini sering kali susah berkomunikasi.

Ini bukan terjadi karena otot di sekitar mulut melemah, melainkan otak mengalami kesulitan untuk mengarahkan dan mengoordinasikan gerakan otot.

Kunci untuk mendeteksi anak susah bicara terkait apraksia adalah mengenali tanda dan gejalanya.

Beberapa tanda dan gejala apraksia yang memengaruhi kemampuan bicara anak, antara lain:

  • Saat masih kecil, anak tidak aktif mengoceh atau mengeluarkan suara teriakan, tertawa, dan lain sebagainya.
  • Anak terlambat mengucapkan kata pertamanya, yaitu dalam usia 12 hingga 18 bulan.
  • Anak kesulitan untuk membentuk kalimat sepanjang waktu. Bahkan sulit untuk membalas apa yang diucapkan orang lain.
  • Anak susah untuk mengunyah atau menelan.
  • Anak sering kali mengulang kata-kata yang diucapkannya atau sebaliknya. Tidak bisa mengulang kata yang sama untuk kedua atau ketiga kalinya, misalnya “buku” menjadi “kuku”.
  • Ketika mengucapkan satu kata, akan sangat sulit berpindah ke kata yang lain.

Jika Anda melihat adanya tanda atau gejala sulit bicara tersebut pada anak, segera konsultasi ke dokter.

Dokter dan ahli wicara akan meminta anak untuk menjalani beberapa tes kesehatan seperti, tes pendengaran, tes evaluasi berbicara, dan tes penilaian gerakan otot mulut dan ekspresi wajah.

Mengatasi kesulitan bicara pada anak karena apraksia

Anak yang susah bicara akibat apraksia harus dideteksi dan ditangani lebih cepat. Tujuannya, agar anak bisa berbicara, membaca, dan menjalin hubungan sosial yang baik dengan orang lain.

Jika tidak, kondisi tersebut bisa membuat anak jadi hipersensitif dan kesulitan mengikuti pelajaran.

Beberapa penanganan kesulitan bicara karena apraksia yang bisa diikuti anak, antara lain:

1. Terapi wicara

Anak dengan apraksia biasanya akan mengikuti terapi fisik untuk meningkatkan gerak tubuhnya.

Tak hanya itu, ia biasanya juga akan mengikuti terapi wicara. Ini dilakukan agar kemampuan anak dalam berkomunikasi menjadi lebih baik.

Pada kasus parah, terapi ini bisa dilakukan sebanyak 3 hingga 5 kali seminggu. Jika ada peningkatan, jadwal terapi akan dikurangi.

Berbagai kegiatan terapi wicara untuk membantu anak yang susah bicara terkait apraksia, antara lain:

  • Latihan untuk mengucapkan kata atau frasa tertentu berkali-kali selama sesi terapi.
  • Latihan untuk menggerakkan mulut dan mengeluarkan bunyi-bunyian, misalnya meniru suara hewan, mobil, atau benda-benda di sekitar.
  • Latihan merangkai dan mengucapkan kalimat lewat percakapan.

2. Latihan berbicara di rumah

Selain dengan terapis, orangtua berperan penting untuk meningkatkan kemampuan anak dalam berbicara.

Jadi, orangtua harus aktif untuk mendorong anak lebih banyak berbicara lewat kegiatan seperti mengobrol (tanya jawab kegiatan sehari-hari), menyanyi bersama, atau membaca buku.

Kabartangsel.com

Source