Ketua Majelis Syura PKS Habib Salim Segaf Aljufrie bercerita tentang orang desa yang pergi ke kota dengan membawa karung goni berisi tikus. Ia menceritakan itu ketika berkunjung ke Pondok Pesantren Tebuireng, Jawa Timur dan dikisahkan kembali saat mengisi Maulid Nabi Muhammad SAW di DPP PKS Jakarta Selatan, Ahad (29/12/2019) ini.
“Saya menceritakan seseorang yang dari desa ke kota membawa karung goni diisi dengan tikus,” kata Habib Salim.
Dalam perjalanan dalam kereta api 3-4 jam, kata Habib, orang desa itu menggoyang goni setiap seperempat jam sekali.
“Yang disampingnya ngelihatin terus. ‘Ngapain digoyang terus’. Seperempat jam digoyang lagi. Sampai di kota ditanya ‘Tadi goyang-goyang karung kenapa?’” kata Habib Salim.
Orang desa itu menjawab bahwa tikus-tikus dalam karung goni itu mau dibawa ke laboratorium. “Kalau tidak digoyang nanti dia cari tempat buat keluar. Melubangi karung. Sengaja digoyang agar disibukkan di dalam. Tikus berantem terus di dalam. Kalau tidak menggigit dia akan digigit, udah begitu terus,” kata dia.
Habib Salim menggambarkan seperti itulah bangsa dan umat Islam saat ini. “Inilah kondisi umat di dunia. Umat dan bangsa dibuat tidak tenang. Semua ini adalah by design. Direncanakan, tidak terjadi begitu saja. Di negara kita sendiri kita rasakan. Siapa si fulan dan si fulan yang tiba-tiba muncul menghina Rasulullah. Di Uighur, sekarang di India. Sejarah membuktikan ketika minoritas tinggal dengan mayoritas Islam, aman dia. Tidak pernah itu non muslim disakiti oleh muslim,” ujar Habib Salim.
Habib Salim menilai saat ini tidak tepat jika Islam selalu disudutkan dengan istilah radikal. “Terus umat yang membela Rasulullah dibilang radikal? Ya tidak dong. Jadi bahasa radikal sekarang sudah dipelesetkan. Baca sejarah radikal. Radikal dulu digunakan dalam masalah politik. Ada ekstrem kanan, ada ekstrem kiri, baca ceritanya. Jangan nanti mereka yang ke masjid khusyuk lima waktu ‘oh radikal!’” tegas Habib.
Menteri Sosial era SBY itu mengingatkan bahwa pemimpin negara dalam hal ini presiden RI memiliki tugas untuk menyatukan. “Tugas pemimpin di negeri ini adalah satukan umat untuk membangun negeri,” kata Habib.
Event6 hari agoFestival Lebaran Betawi Tangsel ke-6 Digelar 23–24 Mei 2026 di Jurang Mangu Barat
Sport7 hari agoMoto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Start Posisi 20 Finis di Urutan ke-8
Bisnis3 hari agoAQUVIVA Berangkatkan Umrah 3 Marbot Masjid dan 6 Pemenang Kejutan Tutup Botol Ramadan ke Tanah Suci
Sport7 hari agoHasil Pertandingan PSM Makassar vs Persib Bandung 1-2
Jabodetabek3 hari agoDelapan SD Terbaik DKI Jakarta dan Banten Berkompetisi di DANCOW Indonesia Cerdas Season 2
Nasional5 hari agoRaker dengan DPR, Menteri Maman Abdurrahman Paparkan Evaluasi Anggaran dan Kinerja Kementerian UMKM Semester I 2026
Bisnis3 hari agoGoogle dan Terralogiq Bahas Masa Depan Geospatial AI untuk Bisnis Indonesia
Bisnis4 hari agoJobstreet by SEEK Dukung SV UGM Career Days 2026














