Lifestyle
Pentingnya Pelacakan Kontak Guna Menekan Kasus COVID-19

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.
Selain memperbanyak tes untuk pengujian virus COVID-19, para ahli mengimbau pemerintah lebih cermat dalam pelacakan kontak atau contact tracing. Hal ini bertujuan agar para ahli dapat melacak penyebaran virus dan menekan angka kasus COVID-19. Lantas, apa itu pelacakan kontak dan mengapa penting dilakukan?
Pelacakan kontak (contact tracing) kasus COVID-19

Dilansir dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), contact tracing atau pelacakan kontak adalah proses mengidentifikasi dan mengelola pasien yang terinfeksi penyakit. Hal ini bertujuan untuk mencegah penularan selanjutnya.
Pada kasus COVID-19, pelacakan kontak merupakan bagian yang cukup penting guna menekan angka kasus. Selain itu, metode ini sangat dibutuhkan mengingat vaksin untuk mencegah virus corona masih belum ditemukan.
Umumnya, pelacakan kontak dimulai ketika seseorang didiagnosa positif terkena virus SARS-CoV-2. Metode ini juga dapat dilakukan pada kasus-kasus orang yang dicurigai, termasuk ketika seseorang mengalami gejala COVID-19, seperti demam dan sesak napas.
Tenaga kesehatan atau relawan yang sudah terlatih akan mewawancarai orang tersebut via telepon. Hal ini bertujuan untuk membantu mereka mengingat kembali, siapa saja yang pernah berkontak langsung dengan mereka dan ke mana saja mereka pergi.
Update Jumlah Sebaran COVID-19
Negara: Indonesia
Kontak dekat dan langsung umumnya diartikan sebagai orang yang berada dalam jarak sekitar 2-3 meter dari pasien positif COVID-19 dan beberapa kondisi di bawah ini.
- Tinggal di rumah yang sama.
- Durasi kontak terjadi selama lebih dari 15 menit.
- Terjadi 48 jam sebelum pasien didiagnosa positif hingga imbauan isolasi.
- Berada di ruangan yang tertutup, seperti ruang tunggu rumah sakit.
- Menaiki pesawat dalam jarak kurang dari dua meter.
Setelah wawancara selesai, orang yang diwawancarai akan diminta untuk menjaga jarak dengan orang lain dan mungkin menjalani karantina di rumah. Apabila dari kontak yang diuji terdapat kasus baru, proses pelacakan kontak pun berlanjut.
Bagaimana pelacakan kontak menekan penyebaran COVID-19?
Walaupun pelacakan kontak memiliki proses yang cukup panjang, angka penyebaran kasus COVID-19 bisa diperlambat dengan cara ini. Mengapa demikian?
Apabila pelacakan kontak berhasil menemukan pasien-pasien positif yang tidak terdeteksi sebelumnya, penyebaran penyakit pun bisa dihentikan. Pasalnya, metode ini membantu mengendalikan wabah, terutama penyakit yang baru ditemukan, sebelum menyebar secara masif.
Contact tracing memang terdengar lebih efektif jika dilakukan sejak awal dan akan membuat perbedaan yang cukup besar di beberapa negara.
Kapan Pandemi COVID-19 akan Berakhir?
Sebagai contoh, Korea Selatan merespons pandemi COVID-19 cukup cepat dengan memperbanyak pengujian virus hingga melakukan pelacakan kontak dengan baik. Hasilnya, penyebaran kasus di Korea Selatan pun dapat ditekan dengan baik.
Pelacakan kontak dan memastikan mereka tidak berinteraksi dengan orang lain penting agar penyebaran tidak meluas. Apabila pemerintah di sebuah wilayah tidak dapat mengisolasi pasien dan physical distancing kerap diabaikan, penyebaran COVID-19 bisa menyebar dengan cepat.
Pada akhirnya, data yang dikumpulkan dari contact tracing membantu ahli epidemiologi menganalisis suatu penyakit dan bagaimana penularannya di populasi tertentu. Cara ini juga membantu menjaga masyarakat agar lebih aman dari wabah penyakit dan menekan angka tingkat kematian hingga pandemi ini benar-benar hilang.
Keterbatasan pelacakan kontak COVID-19


Melacak penyebaran kasus COVID-19 memang tidak mudah, sehingga diperlukan pelacakan kontak yang dibarengi dengan tes swab COVID-19. Metode ini juga akan bekerja dengan efektif, terutama pada tingkat infeksi yang cukup rendah di wilayah yang sudah mengambil langkah lockdown.
Pelacakan kontak ada kalanya tidak terlihat efektif, seperti yang terjadi di tengah pandemi COVID-19 yang telah menyebar secara luas. Negara dengan populasi tinggi mungkin akan sulit menekan angka penyebaran virus jika tidak diiringi dengan kontribusi masyarakat dalam pencegahannya.
Terlebih lagi ketika negara tersebut kekurangan staf terlatih atau sukarelawan yang mau melacak penyebaran kasus dan ketersediaan alat uji yang kurang.
Di sisi lain, tidak sedikit pula orang tanpa gejala (OTG) dapat menularkan virus tanpa mereka sadari. Hal ini yang membuat pelacakan kontak untuk pandemi COVID-19 menjadi lebih sulit dan terbatas.
Walaupun demikian, contact tracing masih menyumbangkan kontribusi yang cukup besar dalam memperlambat laju kasus COVID-19. Metode ini juga cukup diandalkan hingga obat atau vaksin ditemukan untuk mengobati dan mencegah penularan virus.


Kontribusi masyarakat sangat membantu


Keterbatasan pelacakan kontak demi menekan angka kasus COVID-19 bisa ditanggulangi lewat kontribusi aktif dari masyarakat. Pemerintah sudah seharusnya melibatkan komunitas atau kepala daerah memberitahu masyarakat bagaimana mengurangi risiko penularan virus.
Selain itu, contact tracing mungkin juga akan membuat masyarakat dipantau sehari-hari dan bersedia melaporkan gejala COVID-19 dengan segera. Masyarakat juga setidaknya bersedia untuk menjalani karantina setidak 14 hari atau isolasi ketika memperlihatkan gejala.
Dengan ikut berkontribusi dalam pelacakan kontak, Anda juga ikut membantu mengendalikan penyebaran virus lokal. Kelompok orang yang berisiko pun lebih terlindungi dan pembatasan pergerakan, seperti tinggal di rumah pun dapat dilonggarkan.
Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan berikut.
Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.
Kabartangsel.com
Sport4 minggu agoJadwal Piala Dunia 2026: Belanda vs Swedia, Jerman vs Pantai Gading, Ekuador vs Curacao, Tunisia vs Jepang, dan Spanyol vs Arab Saudi
Bisnis3 minggu agoPLN Luncurkan Circular Waste Initiative di Ragunan
Sport4 minggu agoJadwal Piala Dunia 2026 Senin 22 Juni: Belgia vs Iran, Uruguay vs Cape Verde, Selandia Baru vs Mesir, Argentina vs Austria
Bisnis4 minggu agoDorong Operasional Logistik yang Ramah Lingkungan, Modena Group Beralih ke Kendaraan EV
Pemerintahan3 minggu agoPemkot Tangsel Alokasikan Bantuan Pendidikan Rp1,8 Juta per Siswa untuk 94 SMP Swasta pada Tahun Ajaran 2026/2027
Bisnis4 minggu agoEvolusi Mie Sedaap: Dari Brand Mi Instan Menjadi Platform Kreativitas dan Pengalaman Generasi Muda
Tangsel2 minggu agoBenyamin Davnie Lepas Kontingen Sepak Bola Putri Tangsel ke Turnamen Internasional di Swedia
Bisnis4 minggu agoJKP Instrumen Penting Pelindungan dan Pengembangan Karier Pekerja























