SPs UIN Jakarta, Menuju Kampus Unggul dan Kompetitif

By on Jumat, 28 Juni 2019

Sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam tingkat lanjut, Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Jakarta terus mengembangkan reputasinya untuk menjadi sebuah kampus yang unggul dan kompetitif.

Dalam perjalanan sejarah pendidikan Islam di Indonesia, SPs UIN Jakarta termasuk salah satu lembaga pendidikan Islam tingkat lanjut yang cukup diperhitungkan. Hal itu ditandai tak hanya dengan tingginya peminat setiap tahun, tetapi juga telah melahirkan banyak alumni yang berkiprah di berbagai lapangan profesi.

Bahkan di saat mulai banyak bertumbuhnya program dan sekolah pascasarjana di lingkungan perguruan tinggi keagamaan Islam negeri di Tanah Air, SPs UIN Jakarta tetap menjadi pilihan alternatif. Apalagi jika dibandingkan dengan sekolah pascasarjana di lingkungan perguruan tinggi umum, baik negeri maupun swasta, sekolah yang berdiri sejak 1982 ini tidak pernah kehilangan distingsinya, yakni pemaduan antara pengetahuan keislaman dan pengetahuan umum.

Di sisi lain, menurut Direktur SPs UIN Jakarta Jamhari Makruf, salah satu akar yang memperkuat pendidikan tinggi Islam tingkat lanjut ini terletak pada upayanya dalam mengembangkan pemikiran keislaman secara lintas mazhab. Sehingga dengan demikian, Islam sebagai agama rahmatan lil’alaimin tetap relevan dengan dinamika zaman.

“Fondasi pemikiran keislaman yang dinamis itu telah ditanamkan sejak lama, tepatnya semasa Prof Dr Harun Nasution menjabat direktur sekolah ini,” ujarnya kepada BERITA UIN Online, Kamis (27/6/2019).

Semasa Harun Nasution, sebut Jamhari, SPs UIN Jakarta, yang waktu itu masih bernama program pascasarjana, didirikan terutama untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas akademik dosen agama Islam pada perguruan tinggi, khususnya dosen-dosen IAIN.

“Jadi, pada mulanya SPs UIN Jakarta ini didirikan sebagai proyek Departemen Agama yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas dosen perguruan tinggi agama Islam (PTAIN) dan dosen agama Islam pada perguruan tinggi umum negeri (PTUN),” jelasnya.

Namun, seiring dengan perkembangan, SPs UIN Jakarta yang semula hanya menerima mahasiswa dari dosen-dosen IAIN di Indonesia, lalu menerima pula dosen-dosen Pendidikan Agama Islam dari  PTUN. Bahkan sejak tahun akademik 1990/1991, SPs UIN Jakarta menerima peserta dari tenaga pengajar agama Islam di perguruan tinggi agama Islam swasta. Proses penerimaan mahasiswa itu terus berlanjut hingga banyak juga peserta yang berasal dari luar negeri, seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan Nigeria.

“Mekanismenya ada yang mendaftar secara individu, ada pula melalui mekanisme kerja sama, seperti dengan Majelis Ugama Islam Singapura,” kata Jamhari.

Jamhari berharap di era kepemimpinannya kini, SPs UIN Jakarta akan menjadi sebuah lembaga pendidikan tinggi Islam tingkat lanjut yang lebih unggul dan kompetitif guna membangun peradaban Islam yang maju dan modern. Dari segi pengajarannya, SPs UIN Jakarta juga tetap akan menjaga marwah pemikiran keislaman para pendahulunya, yakni pemikiran keislaman yang inklusif, toleran, dan moderat.

Source