Memulihkan Kesehatan Mental Pasien Setelah Amputasi

By on Kamis, 10 Oktober 2019

Amputasi adalah salah satu tindakan yang biasanya mesti dilakukan untuk mencegah kondisi luka kian parah dan berbahaya. Tindakan ini membuat pasien kehilangan sebagian dari tubuhnya yang terkena infeksi. Tentu saja, hal ini menimbulkan sedih dan rasa terpukul cukup dalam.  Lantas, bagaimana cara memulihkan mental setelah amputasi?

Memahami kondisi mental seseorang setelah menjalani amputasi

Diamputasi berarti kehilangan salah satu bagian tubuh sehingga tidak bisa beraktivitas seperti biasa dan mungkin akan lebih banyak membutuhkan bantuan orang lain. Hal ini tentu bukan hal yang mudah, bahkan untuk seseorang yang sudah mempersiapkan diri sekalipun.

Oleh karena itu, seseorang pasien yang baru saja menjalani amputasi merasa sedih, marah, atau kecewa, kondisi ini sudah menjadi hal yang wajar. Pasalnya, tidak ada orang yang ingin mengalami kondisi ini.

Hanya saja, pada saat-saat tertentu, kondisi ini memang tidak bisa dihindari, sehingga satu-satunya cara adalah menghadapi dan menjalaninya. Namun, sebelum itu, memulihkan kondisi mental pasien setelah menjalani amputasi sebaiknya dilakukan.

Sebab jika dibiarkan, pasien mungkin akan mengalami sedih dan depresi berkepanjangan yang tidak baik untuk kesehatan mentalnya.

Biasanya, ada beberapa fase yang disebut dengan stage of grief yang dialami oleh mental pasien setelah menjalani prosedur amputasi.

Stage of grief yang mungkin dialami pasien setelah menjalani prosedur amputasi

Sebelum mencoba memulihkan kondisi mental pasien setelah amputasi, ada baiknya membiarkan pasien melalui stage of grief atau fase di mana mental pasien berusaha beradaptasi dengan kondisi baru yang sedang dijalaninya.

  • Fase pertama biasanya adalah denial di mana pasien belum bisa menerima kondisi tersebut sehingga percaya bahwa yang dialaminya bukan sebuah kenyataan.
  • Lalu, pasien mungkin akan merasa marah terhadap situasi tersebut, terhadap orang lain, bahkan terhadap dirinya sendiri karena merasa tidak adil akan kejadian yang menimpanya.
  • Selanjutnya, pasien mungkin akan memohon kepada dokter atau keluarga agar kondisi itu diganti dengan situasi lain hingga pasien rela melakukan apa saja demi terhindar dari kondisi ini.
  • Jika ketiga hal di atas tidak mengubah situasi yang sedang dihadapinya, pasien mungkin akan mulai merasa depresi, sehingga menjauh dari keluarga hingga teman-temannya. Bahkan, pasien mungkin tidak mau melakukan aktivitas yang biasa disukainya.
  • Setelah berhasil melalui fase depresi, pasien mungkin akan perlahan menerima kondisi baru yang sedang dijalaninya dan move on untuk melanjutkan hidupnya kembali.
  • Terkadang, pasien mungkin akan sesekali merasa bersalah. Rasa bersalah ini bisa ditujukan kepada siapa saja. Mungkin pasien akan merasa bersalah kepada dirinya sendiri atau kepada keluarganya.

Tetapi, tidak semua pasien yang menjalani prosedur amputasi akan merasakan semua fase yang telah disebutkan di atas. Bahkan, mungkin ada pasien yang tidak akan mengalami satupun dari fase-fase tersebut.

Meski begitu, tidak ada salahnya mengetahui bagaimana cara memulihkan kondisi mental pasien setelah amputasi. Pasalnya, meski tidak melalui stage of grief seperti yang telah disebutkan di atas, bukan berarti orang yang mengalami kondisi serupa tidak merasa sedih, marah, atau kecewa sama sekali.

Memulihkan kondisi mental pasien setelah menjalani prosedur amputasi

Membiarkan seseorang merasa sedih, marah, atau kecewa berkepanjangan tentu bukan hal yang baik. Oleh karena itu, jika Anda atau orang terdekat Anda mengalami kondisi serupa, cobalah untuk terlepas dari perasaan-perasaan yang kurang baik ini.

1. Berbagi perasaan yang dirasakan dengan orang lain

Tidak ada salahnya mencurahkan perasaan terhadap orang lain. Apalagi, untuk pasien amputasi yang menghadapi situasi yang benar-benar baru.

Demi memulihkan kondisi mentalnya setelah diamputasi, pasien akan jauh merasa lebih baik jika bisa memberi tahu seseorang akan apa yang dirasakannya. Sebab dengan menceritakannya pada orang lain, pasien tidak perlu merasa sendiri menanggung beban yang dihadapinya.

Cobalah berbicara dengan orang terdekat, atau orang yang sekiranya pendengar yang baik dan sering berpikiran positif. Mintalah pendapat dan saran darinya.

Dengan begitu, pasien tidak perlu merasa stres atau cemas, karena ia juga akan melihat dan mendengar pendapat orang lain dan tidak perlu terjebak dalam pikiran-pikiran buruknya sendiri.

2. Memenuhi kebutuhan spiritual

Salah satu cara memulihkan kondisi mental pasien setelah prosedur amputasi adalah memenuhi kebutuhan spiritual yang bisa didapatkan dari banyak hal. Misalnya, dengan cara bermeditasi, mendengarkan musik yang menenangkan, hingga mendekatkan diri dengan Tuhan dan alam.

Dengan memenuhi kebutuhan ini, pasien akan lebih mudah terhubung dengan dirinya sendiri. Sehingga, ia akan lebih mensyukuri hal-hal lain yang dimilikinya ketimbang fokus kepada hal yang tidak dimiliki.

3. Lupakan masa lalu dan fokus pada masa depan

Agar berhasil memulihkan kondisi mental, akan lebih baik jika melupakan masa lalu atau kondisi sebelum menjalani amputasi dan fokus terhadap kondisi setelah itu. Karena tidak ada hal yang bisa diubah dari masa lalu, dan masih ada masa depan yang menanti.

Jalani hidup di masa sekarang dan persiapkan hidup di masa depan dapat membantu pasien menerima perubahan yang dialami serta melalui hari-harinya dengan lebih baik.

4. Menulis

Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa menulis dapat membantu memulihkan perasaan depresi. Pasien yang baru saja menjalani amputasi bisa memulihkan kondisi mental setelah menjalani prosedur tersebut dengan cara menulis. Apa yang harus ditulis?

Pasien bisa menulis tantangan dan keberhasilan-keberhasilan yang dilaluinya, serta harapan dan mimpi yang akan diraihnya di masa depan. Dengan rutin menulis, pasien perlahan-lahan akan menyadari seberapa jauh ia ‘melangkah’ dalam hidupnya meski ia telah diamputasi.

5. Biasakan diri dengan dunia luar

Banyak yang merasa kesulitan menghadapi orang lain serta ‘dunia luar’ setelah diamputasi. Bahkan, saat pertama kali bertemu dengan orang lain atau ke luar dari rumah bisa menjadi saat-saat yang menakutkan. Tetapi, bukan berarti hal ini menjadi alasan untuk pasien agar berdiam diri di rumah.

Agar proses memulihkan kondisi mental pasien lebih mudah setelah amputasi, pasien harus membiasakan diri dengan sering-sering bertemu orang dan pergi ke luar rumah. Hal ini tidak perlu dilakukan sendirian, kok. Pasien bisa didampingi dengan teman atau keluarga yang juga siap membantu jika dibutuhkan.

Dengan membiasakan diri untuk bertemu dengan banyak orang dan berada di luar rumah, pasien akan lebih percaya diri dan berpikiran positif saat harus berada dalam kondisi-kondisi tertentu karena telah terbiasa.

Kabartangsel.com

Source